Serpong (TROBOSAQUA). Iklim usaha pakan pada tahun ini diprediksi membaik dibandingkan dengan tahun lalu karena pasar mulai membaik. Bahkan kenaikannya cukup besar, namun jika dibandingkan dengan 2024 hanya terjadi sedikit kenaikan. Pernyataan tersebut disampaikan Deny Mulyono, Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Divisi Akuakultur masa bakti 2024 – 2028 yang diwawancarai di sela-sela kegiatan Nusantara Livestock and Poultry Expo 2025 di ICE BSD Serpong-Banten beberapa waktu lalu.
“Kondisi 2026 mudah-mudahan lebih baik karena pasar sudah membaik. Jadi tahun ini akan terjadi sedikit kenaikan dari kondisi normal. Jika dibandingkan dengan 2025 tentu kenaikannya besar. Namun jika dibandingkan dengan 2024 hanya terjadi kenaikan sedikit,” ujar Deny Mulyono yang sehari-hari Government Relations di PT Central Proteina Prima (CP Prima).
Dijelaskannya, berdasarkan pembicaraan dengan beberapa petambak, kondisi belum sepenuhnya membaik. Di Sumatera Utara masih banyak tambak yang tidak beroperasi dan diperkirakan baru membaik enam bulan ke depan.
“Syukur sekarang KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) sudah mulai jalan, scanning dan testing. Ekspor yang tadinya kecil mulai membesar. Semoga kolaborasi antara KKP, UPI dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk pabrikan pakan kondisinya makin membaik. Dengan adanya kejadian yang terakhir ini ada yang terluka. Meskipun kini masih ada masalah-masalah, saya yakin akan selesai dengan baik dan kita keluar dari masalah tersebut. Ke depan udang Indonesia akan kembali stabil,” lanjutnya.

Menurut Deny, para pemangku kepentingna harus optimis akan terjadi kenaikan produksi, walau 1 atau 2 %. “Tapi saya yakin tidak akan lebih dari 2 %. Apalagi sekarang banyak hujan sehingga suhu dingin dan pertumbuhan ikan dan udang menjadi lebih lambat,” tambahnya. Meskipun begitu, sambungnya, semua pihak harus optimis, tidak hanya pabrikan pakan saja. Semua sektor harus optimis, termasuk di sektor budidaya atau petambaknya.
Harga Pakan
Menyinggung soal harga pakan, menurut Ketua GPMT ini, banyak komponen yang menentukan, seperti tarif, kandungan produk lokal dan lainnya. Perlu diketahui bahwa 80 hingga 85 % harga pakan ditentukan oleh bahan bakunya. Contohnya dedak padi, jika padinya gagal panen tentu dedaknya tidak ada.
“Karena bahan bakunya ini berhubungan dengan agrikultur maka sangat ditentukan oleh iklim dan geopolitik. Semuanya berpengaruh terhadap ketersediaan bahan baku, termasuk bahan baku impor. Belum lagi perubahan iklim yang banyak menyebabkan gagal panen. Ini tidak ada yang bisa mengaturnya,” ungkap Mulyono kepada TROBOS Aqua yang mewawancarainya dengan rekaman video sekarang sudah terjadi di kanal Youtube Agristream TV.
Lalu dengan banyaknya budidaya, perlu manajemen kawasan dan carrying capacity-nya. Untuk kepentingan ini perlu keseriusan dan kesepahaman. Sebab yang namanya air, ikan dan udang tidak bisa hidup tanpa pengaturan. Terdapat sejumlah instansi yang berwenang di dalam mengaturnya, yakni Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup dan KKP. Jika instansi-instansi ini tidak sepakat dalam membuat produk hukumnya maka banyak sekali budidaya yang menjadi illegal.datuk/dini/edt



