banner12 1
Iklan Web R

Formulasi Pakan Ikan dari by-product Industri Kulit

HEIF Image

Jakarta (TROBOSAQUA). Dilansir dari situs resminya, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) memformulasikan inovasi pakan ikan air tawar berbahan dasar produk sampingan (by-product) dari industri penyamakan kulit, yakni menggunakan bahan baku tepung daging ular dan biawak. Alternatif formulasi pakan ini dilatarbelakangi tingginya volume permintaan pakan di sektor hulu alias budidaya ikan.

Inovasi pakan berbasis limbah kulit reptil ini telah diujicobakan secara spesifik pada tiga komoditas utama. Pakan untuk ikan kancra (dewa) diformulasikan menggunakan tepung daging ular, pakan ikan nila menggunakan tepung daging biawak, dan formula pakan ini juga telah terbukti sangat efisien saat diujicobakan secara masif pada ikan lele di berbagai sentra produksi.

Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Reza Samsudin, mengatakan, kebutuhan pasokan pakan ikan di Indonesia terus mengalami lonjakan tajam seiring tren positif pertumbuhan produksi budi daya perikanan nasional. Sebagai respon, BRIN mengembangkan pakan ikan tipe tenggelam yang formulasinya telah diselaraskan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Pakan inovatif ini dirancang secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan nutrisi, menunjang kecepatan pertumbuhan, efisiensi pakan, serta retensi protein komoditas ikan air tawar.

Purwarupa (prototype) yang dikembangkan saat ini berjenis pakan tenggelam. Namun, Reza memastikan formulasi ini sangat adaptif diaplikasikan pada skala manufaktur industri. “Tapi kalau teman-teman industri dan mitra ada yang punya extruder, no problem. Kita bisa buat pakan yang bentuknya floating, yang apung,” jelasnya dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026, di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (26/2).

Pengujian telah dilakukan di sentra ikan lele di Cirebon-Jawa Barat (Jabar), sentra ikan nila dan lele di Bogor-Jabar, serta sentra perikanan ikan kancra di Sumedang-Jabar. Hasil pengujian lapangan menunjukkan efektivitas yang melampaui rata-rata produk pakan komersial. Pada komoditas ikan lele, pakan berbasis limbah tepung daging reptil ini sukses mencatatkan angka FCR di level 0,98. Sebagai perbandingan head-to-head, pakan ikan komersial di kelas yang sama rata-rata masih mencatatkan angka FCR sebesar 1,1.

Capaian nilai FCR 0,98 bermakna bahwa pembudidaya hanya perlu menghabiskan 0,98 kilogram pakan untuk menghasilkan satu kilogram daging ikan lele. Tingkat efisiensi pakan yang sangat tinggi ini dipastikan akan memangkas ongkos produksi secara drastis bagi para pembudidaya yang bergerak di segmen pembesaran.

Dari aspek kontinuitas suplai bahan baku hulu, potensi skalabilitas produk ini tercatat sangat mumpuni. Saat ini, dari satu titik sentra produksi pengolahan kulit saja mampu menyuplai limbah daging hingga tiga kuintal (300 kilogram) setiap harinya. Volume suplai ini dapat ditingkatkan berkali lipat melalui skema kemitraan strategis secara masif dengan berbagai industri pengolahan kulit reptil.

Biaya perolehan bahan baku sisa yang rendah berdampak langsung pada keekonomian harga jual akhir yang sangat kompetitif di pasaran. Hal ini menjadikan inovasi formulasi BRIN sangat relevan dan rasional untuk diadopsi oleh produsen pakan ikan skala kecil hingga menengah.ist/dini/edt

Tag:

Bagikan:

Trending

HEIF Image
Formulasi Pakan Ikan dari by-product Industri Kulit
Bobby dok pribadi
Ikan Lokal, Momentum yang Butuh Komitmen
HEIF Image
Waspada AHPND Bisa Menular via Udara
Banyak yang harus disiapkan untuk udang padat tebar tinggi by Dini
Kesiapan Hatchery untuk Prasyarat Padat Tebar Tinggi
Ikan budidaya (nila merah) by TROBOS
Ikan Berlimpah Jelang Lebaran
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!