Oleh: Setiawan Aditia (Lanxess, PT Agroveta Husada Dharma)
Penyakit tidak selalu datang sebagai satu masalah yang berdiri sendiri. Dalam budidaya udang, hasil akhir merupakan interaksi antara patogen, kondisi lingkungan, dan kemampuan inang menghadapi tekanan. Karena itu, pengendalian penyakit perlu bergerak lebih jauh: membangun sistem budidaya yang lebih resilien sebelum gangguan terjadi.
Gagasan tersebut disampaikan Setiawan Aditia, Technical Applications Manager (Aquaculture) Asia Pacific Lanxess, melalui materi “Beyond Disease Control: Building Resilient Shrimp Farming Through Biosecurity, Probiotics and Functional Nutrition”, pada acara FARM 2026 yang diselenggarakan di Swissotel PIK Avenue (29/9/2026). Lanxess merupakan principal PT Agroveta Husada Dharma untuk produk biosecurity di farm.
membantu menjaga keseimbangan mikroba, mendukung integritas saluran pencernaan, dan mengelola interaksi antara inang dengan mikroorganisme. Sementara itu, nutrisi fungsional berperan mendukung integritas usus dan barrier, toleransi terhadap stres, serta kompetensi imunitas.
Yang penting, ketiga lapisan tersebut tidak berdiri sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa strategi perlu diterapkan sepanjang siklus produksi, mulai dari persiapan sebelum tebar, fase awal, pertengahan pemeliharaan, periode berisiko tinggi, hingga panen. Dengan demikian, biosekuriti dipandang sebagai proses, bukan respons darurat. Pendekatan sistematis ini juga sejalan dengan pandangan Setiawan bahwa produktivitas perlu dibangun bersama kontrol, stabilitas, dan pencegahan.
Materi tersebut menempatkan tiga pekerjaan utama dalam membangun resiliensi, yaitu biosekuriti untuk mengurangi tantangan patogen, probiotik untuk menstabilkan sistem, serta nutrisi fungsional untuk mendukung kondisi udang.
Biosekuriti menjadi lapisan pertama.Prinsipnya bukan sekadar melakukan tindakan saat penyakit muncul, tetapi mengurangi peluang patogen masuk, membatasi pergerakannya di dalam sistem, dan menghentikan penyebaran.

Air masuk, benur, personel, peralatan, serta perlindungan kolam menjadi titik yang perlu diperhatikan. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka Setiawan mengenai exclusion, restriction, dan elimination dalam biosekuriti tambak. Lapisan berikutnya adalah pengelolaan lingkungan mikroba.
Probiotik diarahkan untuk Dalam perbandingan uji coba yang ditampilkan pada presentasi, kelompok perlakuan mencatat rata-rata biomassa per kolam 26,7% lebih tinggi dibanding kontrol, produktivitas 9,8% lebih tinggi, ADG 1,4% lebih tinggi, dan tingkat kelangsungan hidup 1,1% lebih tinggi. Angka tersebut merupakan hasil uji coba yang ditampilkan dalam materi dan bukan jaminan hasil untuk setiap kondisi tambak.
Pesan akhirnya jelas: masalah baru tidak membuat patogen lama menghilang. Karena itu, membangun sistem yang membuatpenyakit lebih sulit masuk, lebih sulit menyebar, dan lebih sulit mengganggu performa menjadi bagian penting menuju budidaya udang yang lebih tangguh. Materi presentasi tersebut menegaskan pentingnya membangun resiliensi sebelum penyakit datang, bukan hanya bereaksi setelah masalah terjadi.



