Jakarta (TROBOSAQUA). Dilansir dari situs Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI), ikan hias asal Indonesia tidak saja menjadi komoditas eksotis untuk penjualan, namun juga kekayaan biologis Indonesia. Diantaranya, menurut Ketua DIHI, Suseno Sukoyono (17/1), adalah komoditas clown triggerfish (Balistoides conspicillum). Ikan dari famili Balistidae ini bukan sekadar komoditas dagang, melainkan sebuah mahakarya biologis yang luar biasa untuk dipelajari.
Mengapa? Karena ikan ini memiliki identitas visual, dimana nama conspicillum merujuk pada pola putih di sekitar matanya yang menyerupai kacamata (conspicuous eyes). Kemudian, ia memiliki mekanisme pertahanan dengan julukan ‘Arbalète’ (busur silang) karena memiliki duri punggung yang bisa terkunci secara mekanis untuk bertahan di celah karang.
Clown triggerfish memiliki karakteristik habitat, dimana mereka adalah penghuni terumbu luar hingga kedalaman 75 meter, dan sering kali ditemukan hidup soliter dan bersifat sangat teritorial. Dalam manajemen perawatannya, ikan karnivora ini agresif dengan rahang yang sangat kuat, sehingga penanganan pakannya, terutama terhadap krustasea dan bulu babi, memerlukan ketelitian ekstra.

“Keberadaan spesies sehebat clown triggerfish di fasilitas ekspor kita adalah sebuah kebanggaan, namun sekaligus tanggung jawab besar. Bagi saya, industri ini bukan sekadar angka statistik ekspor, melainkan tentang bagaimana kita menghargai setiap kelangsungan hidup biota yang kita kirim ke kancah global,” terang Suseno dalam rapat DIHI bersama tim Lembaga Sertifikasi Profesi Perikanan Hias Indonesia (LSP- PHI) di CV Cahaya Baru, Jakarta, untuk memfinalisasi skema kompetensi profesi terbaru. Langkah ini merupakan mandat penting dalam menyelaraskan industri ikan hias dengan kebijakan Badan Nasional Sertifikasi Profesi ( BNSP).
Ia menyebut, disinilah peran skema kompetensi yang divalidasi oleh BNSP menjadi krusial. “Sertifikasi berlogo Garuda dari BNSP adalah jaminan bahwa tenaga kerja kita memiliki validitas teknis dalam menangani perilaku kompleks biota tersebut, menjaga etika transportasi ekspor, hingga memastikan standar kesejahteraan hewan (animal welfare) tetap terjaga,” jelasnya.
Melalui sinkronisasi kebijakan ini, Suseno menggambarkan bahwa semua pihak sedang membangun fondasi. Tujuannya, agar Indonesia tidak hanya menjadi pemain besar secara volume, tetapi menjadi pemimpin dunia dalam hal profesionalisme.ist/dini/edt



