Indonesia yang digadang sebagai salah satu produsen rumput laut terbesar dunia jangan sampai terlena dengan pengulangan, potensi yang serupa, tantangan yang serupa, dan lagi-lagi tujuan pasar yang serupa
Sudah tidak asing, bila mendengar, membaca, bahkan mendiskusikan komoditas rumla (rumla), sering diikuti kata ‘potensi’, yang lalu diikuti kata ‘komoditas unggulan ekspor dan ‘produsen terbesar’. Layaknya komoditas perikanan lainnya, selalu dimulai dengan kata potensi, yang nantinya belum tentu menjadi prestasi.
Jika mengikuti arah pengembangan yang diinginkan pemerintah, yaitu hilirisasi secara literal (harfiah), tentunya terkait komoditas kelautan dan perikanan seperti rumla menuju ke inovasi pengolahan dan pemasaran. Dan jika menilik dinamika global terkait komoditas rumla, bisa jadi hilirisasi harfiah rumla ini tidak buruk-buruk amat.
Pertama-tama mari melihat sedikit kesimpulan rekam jejak rumla dari 2021 lalu. Data Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 2023 menyajikan produksi rumla Indonesia. Tepatnya, produksi rumlah pada 2021 didominasi jenis Kappaphycus alvarezii (Eucheuma cottonii) dengan volume 7,05 juta ton menguasai 82,7% produksi dunia dan Gracilaria dengan volume 1,91 juta ton (32,1% produksi dunia). Data ini dilansir PDSPKP dari FAO (Organisasi Pangan Dunia).
Sementara di perdagangan global, jumlah produksi rumla dunia pada 2021 adalah 36,3 juta ton. Produksi rumla dunia didominasi oleh jenis Laminaria sp dengan kontribusi sebesar 36,7%, diikuti oleh Kappaphycus sp (17,2%), Gracilaria sp (16,5%), Undaria (7,6%), Eucheuma sp (6,8%), dan jenis lainnya (15,2%).
Menurut laporan yang diterbitkan ITPC Osaka (2023), Indonesia merupakan supplier terbesar rumla dunia pada 2022 dengan nilai ekspor mencapai USD 388,1 juta atau menguasai 44,5% total ekspor dunia. Ekspor rumla Indonesia di tahun tersebut mencapai USD 388,1 juta atau mengalami kenaikan sebesar 78,3% YoY.
Laporan tersebut juga mencatat, selama 10 tahun terakhir, kinerja ekspor rumla Indonesia juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan rata-rata mencapai 14,1% per tahun. Dimana, ekspor rumla Indonesia pada 2022 ditujukan untuk ekspor ke pasar Tiongkok dengan pangsa 85,0% dari total ekspor Indonesia ke dunia, diikuti oleh Korea Selatan (pangsa: 4,1%) dan Perancis (pangsa: 3,6%).
Dalam nilai ekonomi, dikutip dari ITC Trademap oleh PDSPKP, pada 2022 total impor rumla dunia menurut bentuk dikuasai oleh karaginan (50,4%); rumla kering (42,2%); dan agar-agar (7,4%). Nilai impor dunia untuk karaginan mencapai USD 1,87 miliar, diikuti dengan rumla kering sebesar USD 1,57 Miliar, dan dan agar-agar sebesar USD 0,27 miliar.
Namun, data dari sumber yang sama memuat eksportir terbesar karaginan dunia adalah Tiongkok dengan nilai 0,79 miliar USD. Baru diikuti Filipina dengan 0,32 miliar USD, dan Indonesia dengan 0,19 miliar USD.
Lantas Indonesia, sebagai penghasil Kappaphycus alvarezii terbesar di dunia masih kalah dari Tiongkok dalam hal produsen karaginan. Padahal, seperti dikutip dari PDSPKP, karaginan tidak lain merupakan senyawa yang diekstraksi salah satunya dari rumla jenis Kappaphycus alvarezii (Eucheuma cottonii).
Dari sumber yang sama, Indonesia dalam hal ini berkompetisi sebagai pengekspor terbesar rumla kering di dunia dengan nilai 0,40 miliar USD; disusul Spanyol dengan nilai 0,27 miliar USD; dan Chili 0,18 miliar USD. Dan menyandingkan dengan hal itu, rumla kering merupakan bahan baku yang diperdagangkan untuk mendukung industri produk turunan rumla termasuk karaginan dan agar-agar.
Hasil kajian Tambunan dkk (2024), menunjukkan pada 2022, volume impor produk rumla dari Indonesia disajikan dengan volume rumla (seaweed), karaginan, dan agar-agar. Menurut UN Comtrade (2024) volume rumla yang diimpor dari Indonesia dibagi dalam tiga kategori pada 2022 lalu. Volume rumla sebanyak 827.034 kilogram (kg), agar-agar sebanyak 214.538 kg, dan karaginan 2.719.835 kg.
Harga Tergantung Ekspor Kering
Di sisi lain, dalam data yang sama (2022) produksi karaginan Tiongkok sangat bergantung pada bahan baku impor dari Indonesia khususnya Kappaphycus alvarezii dan E spinosum. Yakni, dengan volume impor sebesar 117.004 ton atau setara dengan 92,8% dari total impor dried Eucheuma oleh Tiongkok.
Analisis PDSPKP mencatat, karaginan Indonesia memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan Filipina di pasar dunia, seperti Uni Eropa, namun kalah dibandingkan Tiongkok. Alasannya, Tiongkok memiliki efisiensi tenaga kerja lebih tinggi, memiliki daya beli bahan baku yang kuat; dan memproduksi bahan penolong (KOH) dalam industri karaginan.
Alhasil, sampai data tersebut dikeluarkan (2023), Indonesia masih lebih banyak jadi ‘penghangat’ ekspor rumla dalam bentuk raw material. Belum sebagai pengekspor kelas ‘kakap’. Indonesia, dalam hal ekonomi ini, sebetulnya bisa berada di posisi puncak produsen rumla global, khususnya dalam bentuk karaginan yang bernilai lebih tinggi.
Minusnya menjadi ‘penghangat’ ini, disampaikan data yang dikumpulkan theconversation.com pada 2022 lalu. Yaitu, menyinggung informasi terkait harga rumla Indonesia yang volatil (tidak stabil) dengan salah satu faktor utamanya adalah ketergantungan pada industri olahan rumla Tiongkok.
Kajian Langford, et al (2022) yang dituliskan di theconversation.com menyebutkan, dengan dominasi ekspor ke pasar Tiongkok, harga yang ditawarkan ke eksportir Indonesia sangat dipengaruhi permintaan dari pabrik karaginan Tiongkok. Indonesia dan Tiongkok memiliki hubungan yang saling melengkapi, karena Indonesia menghasilkan bahan baku tapi memiliki kapasitas pengolahan yang terbatas. Sedangkan Tiongkok kekurangan bahan baku tapi memiliki industri pengolahan yang besar.
Maka, Indonesia bergantung pada pabrik pengolahan karaginan Tiongkok untuk menjual rumla. Sebaliknya, pabrik pengolahan karaginan Tiongkok juga mengandalkan rumla Indonesia untuk dapat beroperasi. Hubungan ini memiliki pengaruh yang kuat terhadap harga rumla yang dibayarkan kepada produsen rumla Indonesia.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 154/Maret-April 2025



