banner12 1
Iklan Web R

Kerapu Cantang, Perkawinan Dua Raja Karang

Kolom 159

 

Oleh : Catur Pramono Adi*

 

 

Di balik hamparan laut biru Indonesia yang tenang, tersimpan kisah lahirnya sang primadona baru di dunia budi daya ikan laut, kerapu cantang. Ia bukan sekadar ikan hias berwarna eksotis, tapi juga bintang ekspor yang membawa harapan bagi para pembudidaya dari pesisir utara Jawa hingga pulau-pulau terpencil di timur.

 

Dari Persilangan Dua Jawara Laut

Kerapu cantang adalah hasil perkawinan dua spesies raksasa, kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) yang terkenal tahan penyakit, dan kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus) yang berukuran jumbo dan cepat tumbuh. Hasilnya, Seekor ikan yang tumbuh dua kali lebih cepat dari induknya, tangguh terhadap penyakit, dan bernilai ekonomi tinggi. Jika kerapu macan diibaratkan sebagai ‘petarung tangguh’ dan kerapu kertang sebagai ‘raksasa laut’, maka kerapu cantang adalah super hero di dunia budi daya perikanan.

Tubuh kerapu cantang memanjang pipih, dengan warna cokelat kehitaman yang dihiasi garis melintang dan bintik-bintik hitam seperti motif batik alami. Mulutnya lebar dan rahangnya kuat,  ciri khas predator sejati yang berada di puncak rantai makanan laut.

Selain parasnya yang memikat, kerapu cantang punya adaptasi luar biasa. Ia bisa hidup di rentang salinitas 30–33 ppt, suhu 24–31°C, dan oksigen terlarut lebih dari 3,5 ppm. Sifatnya euryhaline membuatnya tetap bugar meski lingkungan berubah-ubah.

Di alam liar, kerapu lebih suka bersembunyi di terumbu karang saat siang, lalu berburu ikan, udang, dan cumi di malam hari. Namun di tangan pembudidaya, ia lebih sering menghuni keramba jaring apung (KJA) di laut tenang. Siklus hidupnya unik, ia terlahir sebagai betina, lalu berubah menjadi jantan setelah mencapai ukuran tertentu,  sebuah strategi alam untuk menjaga keberlangsungan populasi.

 

Dari Telur Hingga Siap Panen

Perjalanan hidup kerapu cantang di budi daya dimulai di hatchery. Induk macan dan kertang dipelihara dengan telaten, diberi pakan ikan rucah segar, hingga matang gonad. Pemijahan dilakukan secara terkontrol, biasanya tengah malam ketika mereka paling rileks.

Telur yang sudah dibuahi menetas dalam waktu singkat. Larva yang mungil ini kemudian diasuh dengan hati-hati, diberi pakan alami seperti rotifera, artemia, dan fitoplankton Nannochloropsis sp. sebelum beralih ke pakan buatan. Semua itu dilakukan dengan jadwal ketat,  terlambat memberi makan sedikit saja, risiko kanibalisme meningkat.

Bagi pembudidaya, kualitas air adalah ‘nyawa’ usaha. Salinitas, suhu, pH, dan oksigen terlarut harus dijaga stabil. Air keruh atau kotor berarti penyakit mengintai. Penyiponan dasar bak, pergantian air bertahap, dan biosekuriti jadi rutinitas wajib.

Tak kalah penting, grading atau penyortiran ukuran dilakukan rutin. Tanpa ini, kerapu yang lebih besar akan menguasai pakan dan menyerang yang kecil.

Setelah berukuran 2,5–3 cm, benih kerapu cantang dipindahkan ke bak pendederan, lalu ke keramba jaring apung di laut. Di sini mereka dibesarkan hingga ukuran konsumsi, biasanya 500 gram hingga 1 kilogram. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar atau pelet berkualitas tinggi.

KJA segi empat berbahan HDPE yang tahan sinar UV menjadi rumah ideal. Desainnya yang kokoh mampu menahan gelombang, sekaligus memastikan sirkulasi air laut kaya oksigen mengalir lancar.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 159/ Agustus-September 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Ketua panitia Maulana Akbar dok dini
FKPA Korwil Bangka Belitung Gelar Halal Bihalal
Budidaya nila dok trobos
Imbauan Pembudidaya Antisipasi El Nino
Pemaparan Ria Veriani by Istimewa
 Dari Diklat ke Ekosistem Pembelajaran ASN
By Istimewa
Nyamankan Benur untuk Padat Tebar Tinggi
Belida by KKP
Ikan Lokal Tertinggal di Negeri Sendiri  
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!