banner12 1
Iklan Web R

Tangkal EHP dengan Pendekatan Terpadu

by Istimewa

 

Kecepatan hasil memungkinkan keputusan lebih presisi; panen awal, isolasi kolam, atau treatment langsung.

 

Dalam industri budidaya udang modern, penyakit bukan lagi sekadar tantangan teknis, namun telah menjadi momok yang sanggup merobohkan proyeksi keuntungan dalam sekejap. Salah satu patogen paling meresahkan di Asia saat ini adalah Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), mikrosporidia yang menyerang organ hepatopankreas udang. Dampaknya nyata; pertumbuhan terhambat, ukuran tidak seragam, dan meningkatnya kematian akibat infeksi sekunder.

Dalam Shrimp Aquaculture Conference 2025, CEO Forte Biotech, Kit Yong mengingatkan, EHP pertama kali teridentifikasi pada 2004 dan hingga kini dunia akuakultur belum memiliki terapi yang benar-benar efektif untuk menanggulanginya. Sementara itu, Harikumar Sampath dari Kemin AquaScience mencatat bahwa kerugian akibat EHP saja diperkirakan mencapai lebih dari USD 1 miliar setiap tahun. Jika dikombinasikan dengan dampak penyakit lain seperti IMNV, AHPND, dan WSSV, total kerugian global bisa menembus angka USD 6 miliar.

Ancaman biologis ini makin berat ketika dihadapkan pada lemahnya kualitas benur. Pengamat Akuakultur Dunia, Albert Tacon menggarisbawahi bahwa manajemen nutrisi dan biosekuriti di fase pembenihan masih sering diabaikan. “Biosekuriti harus dimulai sejak hatchery,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa fluktuasi suhu dan salinitas di lapangan turut memperbesar risiko infeksi laten EHP menjadi kasus klinis.

 

Deteksi Dini yang Praktis di Lapangan

“Ketika gejala penyakit terlihat, biasanya patogen sudah menyebar ke seluruh kolam,” ungkap Kit Yong. Sayangnya, masih banyak tambak yang gagal mendeteksi lebih awal karena lemahnya skrining PL, buruknya manajemen air, serta rendahnya frekuensi uji penyakit secara berkala.

Menjawab tantangan itu, Forte Biotech merilis produknya, sebuah teknologi deteksi molekuler yang memberikan hasil dalam waktu kurang dari satu jam. Kit Yong membagikan pengalaman lapangan dari San Andres Aqua Culture Corp di Filipina. “Dengan menggunakan produk kami, mereka berhasil mendeteksi EHP dan Early Mortality Syndrome bahkan sebelum gejala klinis muncul. Berbekal informasi dini, tim segera menerapkan probiotik dan memperketat biosekuriti. Hasilnya; kematian massal berhasil dicegah,” beber Kit Yong.

Keunggulan lain dari produknya, sambungnya, adalah kemampuannya memutus siklus reaktif dari penanganan panik menjadi tindakan preventif berbasis data. Kecepatan hasil memungkinkan keputusan lebih presisi; panen awal, isolasi kolam, atau treatment langsung.

Namun, efektivitas sistem ini akan jauh lebih optimal jika didukung dari hulu. Dalam hal ini, Wu Xiaogu dari Haida menuturkan bahwa perusahaannya telah menerapkan proses pemanasan lebih dari 75°C selama produksi pakan untuk menonaktifkan spora EHP dan virus WSSV (White Spot Syndrome Virus). Proses termal ini secara signifikan menurunkan risiko penyebaran patogen melalui jalur nutrisi, sehingga melengkapi strategi deteksi dini di lapangan.

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 159/ Agustus-September 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Investor bersama pembudidaya (gambar dibuat dengan bantuan AI)
Iklim Investasi KP Banyak Peminat
HEIF Image
Pasar Gabus Masih Terbuka Lebar
HEIF Image
Gracilaria Jabon Butuh Pasar
Perwakilan MDPI di DPR RI memberikan suara dok istimewa
Tuna Skala Kecil Juga Tulang Punggung Perikanan
HEIF Image
Formulasi Pakan Ikan dari by-product Industri Kulit
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!