Pembudidaya di berbagai sentra ikan terus berusaha melakukan inovasi guna menurunkan biaya produksi. Diantaranya, dengan memproduksi pakan mandiri melalui koperasi.
Untuk menekan biaya pakan yang merupakan komponen terbesar dalam proses budidaya, produksi pakan mandiri dilakukan oleh pembudidaya. Antara lain sudah dirintis para pembudidaya ikan patin di Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Provinsi Sumatera Selatan sejak 2018 silam.
Menurut H Purwanto, Ketua Koperasi Produsen Mina Mitra Mandiri (KPM3), pihaknya mulai memproduksi pakan mandiri sejak 2018 dengan sebuah mesin kapasitas kecil yakni 200 kg/jam. Saat itu pabrik belum dikelola koperasi melainkan baru berbentuk kelompok yakni Kelompok Pembudidaya Ikan Mitra Mandiri. Kemudian setelah berkembang pada tanggal 9 Maret 2021 baru diubah menjadi koperasi,” tutur Purwanto, beberapa waktu lalu.
Selanjutnya, seiring penetapan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur menjadi Kampung Perikanan Budidaya Ikan Patin melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) maka koperasi mendapat bantuan mesin pembuatan pakan berkapasitas 1 ton/jam. “Namun bentuknya sharing usaha, KKP memberikan mesin dan koperasi membangun infrastruktur dan permodalan usaha,” sambungnya.
Bersamaan dengan penetapan OKU Timur sebagai kampung patin, juga ditetapkan Pasaman (Sumatera Barat) sebagai kampung ikan mas; Gresik (Jawa Timur) sebagai kampung bandeng, Pati (Jawa Tengah) sebagai kampung nila salin. Lalu di Indonesia Timur (NTB dan NTT) menjadi kampung ikan kerapu dan lobster.
Pabrik pakan tersebut diresmikan Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono yang dikemas dalam Rapat Kerja Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2023 yang diselenggarakan di The Alana Yogyakarta Hotel pada Senin (27/02/2023). Peresmian pabrik Pakan Ikan Mandiri OKU Timur ini ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Menteri KP didampingi Wabup Yudha dan Dirjen Perikanan Budidaya KKP.
Pabrik pakan yang diusahakan KPM3 terus berkembang pesat. Terakhir, koperasi mulai mengoperasikan mesin pembuatan pakan tenggelam berkapasitas 2,5 ton/jam sejak 2024 lalu guna memenuhi kebutuhan pakan 297 anggota yang mengusahakan 124 ha kolam ikan patin. Untuk memproduksi pakan dan operasional lainnya, koperasi mempekerjakan 22 orang karyawan.
Usaha KPM3 ini berbeda dengan koperasi umumnya. Koperasi secara umum mendapatkan modal dari iuran pokok dan iuran wajib anggota dan kemudian anggota menerima sisa hasil usaha (SHU) yang ditetapkan dalam RAT. Sementara anggota KPM3 memperoleh keuntungan dari selisih harga pakan kontrak dengan koperasi dengan pakan pabrik. Separuh keuntungan dinikmati anggota dan separuhnya digunakan koperasi untuk operasional.
“Terlebih dahulu kami melakukan konsolidasi dengan pembudidaya ikan patin di OKU Timur guna mendata kebutuhan pakannya, produksinya dan masalah yang dihadapi. Setelah diketahui kebutuhannya, baru kami kontrak dengan produsen bahan baku.
Cara tersebut bertujuan guna memastikan pakan yang diproduksi terserap oleh anggota, lalu suplai bahan baku terjamin sepanjang tahun, harganya lebih murah dan kualitasnya pun baik serta koperasi mendapatkan jaminan keberlanjutan usaha,”jelas Purwanto. Di antara bahan baku pakan berupa bekatul, tepung rucah, bubuk kedelai, bubuk kopra, dan lain-lain.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 160/September – Oktober 2025



