banner12 1
Iklan Web R

Industri Udang Harus Lebih Tangguh  

Udang terserang IMNV by BPPSDM

Bekasi (TROBOSAQUA). Ketidakpastian menyelimuti usaha budidaya udang nasional dalam beberapa waktu terakhir. Petambak menghadapi tekanan berlapis, mulai dari serangan penyakit yang semakin kompleks hingga gejolak pasar global yang menekan harga. Kondisi ini membuat risiko usaha meningkat tajam dan menempatkan pelaku budidaya dalam situasi sulit. “Saat ini tekanan yang dirasakan petambak tidak lagi tunggal, tetapi datang dari berbagai arah sekaligus,” ujar Hardi Pitoyo, petambak udang asal Banyuwangi-Jawa Timur.

Dari sisi produksi, sambungnya, tantangan terbesar masih bersumber dari serangan penyakit yang semakin kompleks. Berbagai penyakit seperti White Spot Syndrome Virus (WSSV), Myo, Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND), Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), hingga White Feces Disease (WFD) terus menekan performa tambak. Dampaknya terlihat pada kematian dini, pertumbuhan udang yang tidak seragam, serta rendahnya angka kelangsungan hidup dan tingginya konversi pakan. “Kondisi kesehatan udang yang terus menurun sering memaksa petambak panen lebih awal sebagai langkah penyelamatan,” jelas Pitoyo-sapaan akrabnya.

Lebih lanjut Pitoyo menjelaskan, situasi tersebut menyebabkan ukuran hasil panen menjadi bervariasi dan produktivitas tidak optimal. Risiko kerugian yang tinggi membuat proses budidaya saat ini jauh lebih sulit dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Petambak harus menghadapi ketidakpastian produksi sekaligus menanggung biaya operasional yang semakin besar untuk menjaga stabilitas lingkungan tambak dan menekan serangan penyakit.

Selain itu, tekanan juga datang dari pasar. Munculnya isu residu antibiotik, kebijakan tarif dagang, hingga isu kandungan radioaktif di pasar Amerika Serikat sempat mengguncang rantai perdagangan. Beberapa pabrik bahkan menghentikan pembelian sementara, yang berdampak pada penurunan harga udang hingga titik terendah. Bahkan kenaikan nilai tukar dolar yang biasanya mendorong harga jual tidak memberikan pengaruh signifikan. “Harga jual melemah sementara biaya produksi terus meningkat, terutama untuk kebutuhan biosekuriti,” ungkap lelaki yang sudah lebih dua dekade menggeluti dunia udang.

Kondisi tersebut menempatkan petambak pada posisi ekonomi yang rentan sekaligus memicu tekanan psikologis. Banyak pelaku usaha menunda penebaran siklus berikutnya sambil mempertimbangkan risiko kerugian berdasarkan pengalaman sebelumnya. “Banyak petambak sekarang lebih berhati-hati untuk tebar lagi. Pengalaman kerugian sebelumnya membuat kami harus benar-benar menghitung risiko dan peluang,” terang Pitoyo sore itu. Ia menilai ketidakpastian ini dapat memengaruhi keberlanjutan produksi jika tidak segera diatasi melalui langkah strategis bersama.

Untuk bertahan di tengah tekanan, pelaku usaha mulai melakukan berbagai penyesuaian teknis. Menurut Pitoyo, sebagian petambak memperkuat sistem biosekuriti, meningkatkan padat tebar, serta menerapkan sistem bakteri guna menjaga kestabilan kualitas air dan meningkatkan efisiensi produksi. “Ada yang mencoba meningkatkan produksi dengan padat tebar lebih tinggi dan sistem pengelolaan lingkungan yang lebih ketat, meskipun risikonya juga semakin besar,” jelasnya. Sebaliknya, ada pula petambak yang memilih menurunkan padat tebar untuk mengurangi potensi kegagalan, bahkan mulai mempertimbangkan budidaya udang windu sebagai alternatif usaha.

Upaya kolektif juga mulai diperkuat melalui peran asosiasi industri, termasuk komitmen bersama untuk tidak menggunakan antibiotik dalam proses produksi dan pemasaran udang. Pitoyo menekankan pentingnya dukungan berbagai pihak dalam menjaga keberlanjutan sektor ini. “Industri ini tidak bisa berjalan sendiri. Peran pemerintah dan lembaga pendukung sangat menentukan, termasuk memperkuat pasar domestik agar hasil produksi tetap terserap saat ekspor mengalami hambatan,” tegasnya.

Meski tekanan datang bertubi-tubi, optimisme pelaku usaha masih terjaga. Evaluasi menyeluruh dan perbaikan sistem budidaya diyakini menjadi kunci untuk melewati masa sulit ini. “Kami percaya setiap krisis pasti ada jalan keluar, selama ada keberanian memperbaiki sistem secara konsisten,” tutup Pitoyo.dian/dini/edt

Hardi Pitoyo by Pribadi
Hardi Pitoyo by Pribadi
Tag:

Bagikan:

Trending

Investor bersama pembudidaya (gambar dibuat dengan bantuan AI)
Iklim Investasi KP Banyak Peminat
HEIF Image
Pasar Gabus Masih Terbuka Lebar
HEIF Image
Gracilaria Jabon Butuh Pasar
Perwakilan MDPI di DPR RI memberikan suara dok istimewa
Tuna Skala Kecil Juga Tulang Punggung Perikanan
HEIF Image
Formulasi Pakan Ikan dari by-product Industri Kulit
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!