banner12 1
Iklan Web R

Iklim Berubah, Juga Pola Migrasi Ikan

{“burst_shot_id”:51248976,”burst_shot_index”:1}

 

Meningkatnya suhu di lautan akan memengaruhi kehidupan biota di dalamnya, termasuk pola migrasi ikan.

Oleh: M Ghufran H Kordi K*

 

 

Ikan melakukan migrasi atau ruaya karena berbagai alasan, seperti untuk  pemenuhan siklus hidup, pemijahan, kondisi lingkungan yang sudah tidak mendukung, menghindari predator, mencari makanan, dan mencari daerah yang cocok untuk kelangsungan hidupnya (Kantun & Mallawa, 2016). Migrasi merupakan suatu mata rantai daur hidup yang tidak dapat dipisahkan dengan mata rantai sebelum dan sesudahnya.

Ikan melakukan migrasi ke daerah-daerah di mana ikan menemukan kondisi yang diperlukan oleh fase tertentu dari daur hidupnya. Migrasi bertujuan untuk penyesuaian, penyakinan terhadap kondisi yang menguntungkan untuk eksistensi dan untuk reproduksi spesies. Migrasi pada ikan biasanya aktif tetapi kadang-kadang pasif pergerakannya dari satu habitat ke habitat lain (Nikolsky, 1969).

Disebut migrasi jika pergerakan ikan berlangsung secara relatif teratur dan berkelompok dari satu tempat ke tempat lain untuk memenuhi keperluan siklus hidupnya. Kadang-kadang migrasi harus dilakukan dalam jarak yang sangat jauh pada musim-musim tertentu. Beberapa spesies ikan yang dikenal sebagai peruaya jauh atau bermigrasi jauh (highly migratory species) antara lain tuna (Thunnus), setuhuk atau marlin yang populer sebagai spear fish (Makaira, Tetapturus), ikan layar atau sail fish (istiophorus), dan ikan todak, ikan pedang atau sword fish (Xiphias).

Berdasarkan tujuannya, migrasi digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu migrasi pemijahan, migrasi mencari makanan, dan migrasi pengungsian. Migrasi pemijahan atau migrasi reproduksi berhubungan dengan pemijahan ikan. Migrasi mencari makanan berkaitan dengan makanan, sementara migrasi pengungsian akan dilakukan oleh ikan bila habitatnya mengalami perubahan sehingga tidak cocok lagi atau membahayakan ikan bersangkutan.

Ikan dapat mendeteksi lingkungan yang buruk atau adanya bahaya sehingga kemungkinan melakukan migrasi untuk menghindarkan diri dari lingkungan yang buruk atau bahaya. Tubuh ikan mengetahui perubahan lingkungan karena dilengkapi alat penerima rangsang (indra), baik fisik maupun kimia.

Perubahan lingkungan yang direkam oleh alat indra tersebut diteruskan ke otak untuk selanjutnya dilakukan penyesuaian. Sebagai hewan akuatik, ikan memiliki beberapa mekanisme fisiologis untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan, atau melakukan migrasi untuk menghindarkan diri dari kondisi yang buruk atau berbahaya.

 

Dampak Perubahan Iklim

Lautan menutupi sekitar 71% dari permukaan bumi dan menampung sekitar 97% dari seluruh air yang ada di bumi. Karena itu, lautan mempunyai peran penting dalam menjaga kehidupan bumi dan berperan penting dalam mengatur iklim. Namun, perubahan iklim (climate change) juga berdampak terhadap kehidupan di lautan, salah satunya adalah pola migrasi ikan.

Perubahan iklim menyebabkan meningkatnya suhu permukaan laut, musim kemarau dan musim hujan yang panjang dan mengalami pergeseran. Ini akan memengaruhi lautan yang merangsang ikan melakukan migrasi karena mendeteksi kondisi lingkungan yang tidak sesuai, buruk, atau berbahaya. sehingga ikan harus bermigrasi ke perairan yang lebih sesuai. Meningkatnya suhu lautan ‘memaksa’ ikan bermigrasi secara vertikal ke perairan yang lebih dalam yang lebih dingin, atau melakukan migrasi horizontal ke perairan yang lebih dingin di bagian selatan atau utara.

Di masa yang akan datang, migrasi ikan mengalami peningkatan, baik karena meningkatnya suhu perairan, maupun karena perubahan salinitas. Para peneliti menemukan, ikan-ikan pelagis di perairan tropis, seperti di perairan Indonesia, bergerak ke selatan mengikuti atau terbawa arus Eastern Australian Current ke perairan yang lebih sejuk. Ikan-ikan yang bermigrasi ke selatan bukanlah pendatang singkat atau migrasi temporer, tetapi bertahan hidup, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan membentuk kelompok campuran dengan ikan-ikan asli di perairan tersebut.

Perubahan iklim akan mengubah pola migrasi ikan di lautan (oceanic migration), terutama ikan-ikan pelagis yang merupakan perenang jauh dan cepat. Sebagai misal adalah migrasi ikan layang atau sorihi (Decapterus). Ikan layang akan melakukan migrasi jika terjadi perubahan salinitas dan pola arus. Ikan layang adalah ikan yang stenohalin atau hidup pada perairan dengan variasi salinitas sempit, biasanya sekitar 31-33 ppt.

Menurut Najamuddin (2014) ikan layang di Indonesia terdiri dari tiga kelompok menurut asalnya, yaitu layang timur, layang barat, dan layang utara. Layang timur adalah ikan layang yang selama musim penghujan akan terdesak oleh kadar garam rendah di Laut Jawa sehingga akan kembali ke arah timur Indonesia.

 

Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 159/ Agustus-September 2025

Tag:

Bagikan:

Trending

Investor bersama pembudidaya (gambar dibuat dengan bantuan AI)
Iklim Investasi KP Banyak Peminat
HEIF Image
Pasar Gabus Masih Terbuka Lebar
HEIF Image
Gracilaria Jabon Butuh Pasar
Perwakilan MDPI di DPR RI memberikan suara dok istimewa
Tuna Skala Kecil Juga Tulang Punggung Perikanan
HEIF Image
Formulasi Pakan Ikan dari by-product Industri Kulit
banner6
banner9
Scroll to Top

Tingkatkan Strategi Budidaya Anda! Baca Insight Terbaru di Trobos Aqua!