Sidoarjo (TROBOSAQUA). Budidaya rumput laut Gracilaria di Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo-Jawa Timur, berkembang sebagai salah satu sumber ekonomi masyarakat pesisir sejak sekitar 2010. Lebih dari 200 pembudidaya di kawasan ini mampu memproduksi sekitar 200-500 ton rumput laut kering setiap bulan dengan nilai ekonomi diperkirakan mencapai Rp1,2-3 miliar per bulan berdasarkan data Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada 2022. Dilansir dari pemberitaan WWF Indonesia, keberlanjutan usaha masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari kualitas produksi yang belum konsisten, kondisi kualitas air tambak, hingga terbatasnya akses pembudidaya terhadap pasar yang menghargai praktik budidaya berkelanjutan.
Upaya perbaikan praktik budidaya mulai didorong melalui Aquaculture Improvement Program (AIP) yang dijalankan WWF-ndonesia bersama Koperasi Agar Makmur Sentosa sejak 2024. Program ini lahir dari kebutuhan rantai pasok industri, termasuk perusahaan biomaterial berbasis rumput laut, Uluu, yang menerapkan kebijakan responsible sourcing. Pendampingan tersebut kini diperkuat melalui dukungan COAST Facility Indonesia yang menargetkan peningkatan praktik budidaya hingga 2028.
Program perbaikan ini mengacu pada standar ASC-MSC Seaweed Standard yang menilai berbagai aspek mulai dari keberlanjutan produksi, tata kelola usaha, tanggung jawab sosial, hingga pengelolaan dampak lingkungan. Di tingkat tambak, pendekatan yang dikembangkan antara lain integrasi budidaya rumput laut dengan sistem polikultur udang. Skema ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tambak sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi pembudidaya.

Selain perbaikan teknis budidaya, penguatan kelembagaan pembudidaya juga menjadi fokus program. Melalui kemitraan dengan Koperasi Agar Makmur Sentosa, pembudidaya diharapkan memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai pasok yang terhubung dengan PT SeaSae Solusi Indonesia serta perusahaan rintisan Uluu yang mengembangkan biomaterial ramah lingkungan berbasis rumput laut sebagai alternatif pengganti plastik.
Ketua Koperasi Agar Makmur Sentosa, Hery, menyebutkan penguatan koperasi menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan pembudidaya menghadapi pasar yang lebih luas. “Sebanyak tujuh wilayah telah diusulkan untuk mengikuti proses sertifikasi melalui skema koperasi,” ujarnya dalam sosialisasi Rencana Kerja Project COAST di Sidoarjo (9/2). Sementara itu, pembudidaya Desa Segoro Tambak, Suryanto, berharap sistem produksi yang lebih baik dan akses pasar yang lebih jelas dapat mendorong kebangkitan kembali budidaya rumput laut di wilayah tersebut.
Meski demikian, pelaku industri mengingatkan bahwa proses sertifikasi bukan hal yang mudah bagi pembudidaya. Perwakilan Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) dan Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI) menilai sertifikasi harus diikuti dengan apresiasi pasar yang nyata. Tanpa dukungan harga dan akses perdagangan yang lebih baik bagi produk bersertifikat, upaya perbaikan praktik budidaya dikhawatirkan sulit memberikan manfaat ekonomi langsung bagi pembudidaya.ist/dian/dini/edt



