Dengan bervariasinya temuan penyakit saat ini, NP yang dipandang lebih rumit menjadi salah satu strategi taktis
Masalah umum yang dihadapi petambak dalam menjalankan pendederan atau nursery pond (NP) pernah mencoba, namun kurang sukses. “Ada juga memandang NP ribet dan selevel di bawah hatchery. Juga ada yang menganggap NP berbiaya mahal sehingga menambah biaya produksi dan pengalaman satu tahap (tebar langsung) bisa panen,” ucap Agung Wijayanto, tim R&D PT Sakti Biru Indonesia (SBI).
Ia menuturkan, terdapat tiga alasan mengapa NP penting dan strategis. Pertama, post larva (PL) 8-10 masih termasuk kategori kritis dan sensitif karena kelengkapan anggota tubuh belum sempurna. Kedua, pada fase awal pembelahan sel lambat (kurva pertumbuhan sigmoid) sehingga tidak diperlukan ruang yang luas. Dan ketiga, sampai dengan PL 35-40 adalah golden age (usia emas) yang membutuhkan nutrisi dan lingkungan yang lebih berkualitas. Artinya benur yang kuat, sehat dan relatif rata dan tidak blantik lebih menjamin sukses budidaya.
“NP sudah berhasil mengantarkan Ekuador menjadi produsen udang terbesar di dunia. Terdapat sejumlah upaya yang dilakukan Ekuador yakni perbaikan genetik, sistem budidaya dua tahap dan menggunakan pakan fungsional yang dilengkapi dengan pemantauan penyakit; perbaikan kualitas air dan menggunakan autofeeder. Pada NP lingkungan lebih terkontrol,” akunya dalam ‘Kopi Darat Pelaku Budidaya Udang Vannamei’ yang digelar PT SBI di Suak, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan-Lampung beberapa waktu lalu.
Adapun tahapan golden age pada udang pada 30 hari pertama yang juga merupakan titik kritis dan pertumbuhan cepat pada usia 50 hingga 60 hari. Jadi disarankan pembudidaya memilih benur dari hatchery yang telah menetapkan golden age stage, line genetics benur diketahui. Lalu proses NP dilakukan di indoor sehingga lingkungan terkontrol.
“Asupan nutrisi vitamin dan mineral serta kesesuaian parameter lingkungan pada NP dan menerapkan konstruksi, kualitas lingkungan dan manajemen pakan pada tahapan faster growth. Jadi kita mulai membudidayakan udang seperti di habitat aslinya,” urainya.
Selanjutnya Agung menjelaskan, penerapan golden age pada NP. Yakni lama NP berkisar antara 20-25 hari dengan kepadatan 5 ribu hingga 10 ribu ekor/m3 dan output-nya juvenil 0,2-0,5 gram/ekor. Untuk menekan vibrio digunakan yellow colony.
Sementara treatment dilakukan dengan campuran pakan booster dan probiotik 20 ml/kg pakan. Lalu pakan artemia selama 3 hari dengan dosis 1 kaleng (450 gram)/1 juta ekor. Kemudian pakan fungsional prima (protein 60-40 persen), water stability medicine. Dosis pakan 3-6 ppm (DOC 1-7). Dan pakan fungsional 2-3 %per kilo pakan reguler (DOC 7-25) serta water stability medicine.
“Jadi feeding program NP merupakan kelanjutan dari hatchery dengan menggunakan pakan fungsional guna meningkatkan imunitas udang. Pada NP sebanyak 50 % teknis hatchery dan 50 % teknis grow out sehingga benur NP lebih seragam,” bebernya depan peserta yang terdiri dari pemilik tambak, teknisi dan akademisi.
Agung mengakui, kendala pada pada packing benur NP karena antena kaku sehingga mudah patah. Sementara antena digunakan untuk sensor makanan. Begitu pula rostrum yang keras juga menjadi persoalan dalam packing dan pengiriman benur NP.
Untuk mengatasi perlu NP booster agar antena fleksibel dan rostrum lunak sehingga bisa diangkut ke tambak yang jauh dan butuh perjalanan lama. Selain itu digunakan nanobubble agar benur NP lebih tahan. Sebelum dikirim benur NP dikontrol dan dicatat datanya. Lalu setelah pengiriman dilakukan evaluasi.
Sementara Taufik Hidayat, praktisi tambak di Lampung, menjelaskan perbandingan biaya operasional tebar PL-9 dengan NP Plus untuk penebaran benur 1 juta benur dengan kepadatan sama yakni 120 ekor/m2; harga benur PL-9 yakni Rp51/ekor dan benur NP Rp150/ekor. Lama pemeliharaan 51 hari, pada benur PL-9 dipanen size 71,4 dan benur NP dipanen size 45,5; biomasa benur PL-9 hanya 13.300 kg dan benur NP mencapai 20.900 kg. Harga jual udang tambak yang menebar PL-9 sebesar Rp811.300 dan benur NP Rp1.504.000.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 158/ Juli-Agustus 2025



