Ciseeng (TROBOSAQUA). Industri ikan hias global dikenal sangat dinamis, dengan tren yang cepat berubah mengikuti preferensi pasar dan pengaruh media sosial. Namun di tengah fluktuasi tersebut, cupang halfmoon tetap menunjukkan stabilitas sebagai komoditas ekspor unggulan Indonesia. Konsistensi ukuran, kesehatan, serta ketahanan hidup selama pengiriman menjadi faktor utama yang menjaga daya saingnya di pasar internasional, sekaligus menjadikannya tulang punggung ekspor bagi pelaku usaha ikan hias.
Pengalaman pelaku usaha di Bogor memperlihatkan dominasi komoditas ini masih sangat kuat. Menurut Restya Naufal, pemilik Ondo (Ornamental Indonesia), sekitar 60% pengiriman ikan hias yang dilakukannya masih didominasi cupang halfmoon, sementara sisanya terdiri atas cupang multitype, giant, udang hias, serta ikan populer seperti oscar, corydoras, dan tetra. “Halfmoon itu masih paling konsisten pergerakannya. Permintaannya stabil dan volumenya besar,” ujarnya pagi itu.
Di pasar hobi, tren harga tinggi justru banyak ditempati ikan impor yang memiliki tingkat kesulitan aklimatisasi lebih tinggi dan risiko kematian lebih besar. Beberapa jenis bahkan mencapai harga ekstrem, seperti molly high fin asal Thailand yang bisa menembus Rp2 juta per pasang. Sebaliknya, ikan lokal cenderung mengalami penyesuaian harga hingga mencapai tingkat yang lebih rasional, sementara di segmen premium, discus masih stabil dengan harga yang sangat dipengaruhi reputasi farm dan konsistensi kualitas produksi.
Berbeda dengan pasar kontes yang menitikberatkan warna dan pola, standar kualitas untuk ekspor lebih bersifat fungsional. Ukuran dan kondisi kesehatan menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan ketahanan ikan selama perjalanan. Cupang halfmoon umumnya dipilah pada ukuran 5-6 cm, sedangkan penilaian akhir didasarkan pada respons ikan yang tetap aktif dan tidak lemas. “Biasanya cukup ditepuk tangan. Kalau responnya masih bagus, berarti ikan sehat,” jelas Naufal.
Produksi halfmoon diarahkan sebagai produksi massal dengan fokus pada warna solid dan daya tahan, bukan pola rumit seperti pada segmen kontes. Pendekatan ini memungkinkan konsistensi hasil sekaligus efisiensi produksi. Untuk menjaga kontinuitas pasokan, sekitar 40% ikan berasal dari produksi sendiri, 30% dari plasma, dan sisanya dari petani non-ikat. Seluruh sumber tetap melalui proses seleksi ketat berdasarkan aktivitas dan kesesuaian ukuran.
Dalam proses pembiakan, persilangan dilakukan menggunakan indukan dari wilayah berbeda, sementara fase paling kritis terjadi pada tahap burayak karena pemeliharaan dilakukan secara outdoor. “Kalau hujan beruntun, burayak bisa habis. Itu fase paling rawan,” ungkapnya. Sistem produksi juga mengandalkan pakan hidup yang dikelola secara ketat melalui pencucian berulang, aerasi, serta pemberian terukur. Air pemeliharaan dijaga relatif murni dan langsung diganti jika ikan menunjukkan tanda stres.
Sebagai komoditas ekspor, strategi pengiriman menjadi aspek krusial. Persiapan dilakukan minimal tiga hari sebelum pengiriman, termasuk memuasakan ikan selama dua hari untuk menjaga kualitas air selama perjalanan. “Puasa itu paling penting. Karena kita dibayar hanya dari ikan yang hidup sampai tujuan,” beber Naufal. Ikan juga menjalani karantina kantong sebelum pengepakan, sementara setiap kemasan dilengkapi plastik es yang disesuaikan dengan kondisi cuaca negara tujuan.
Sementara itu, pelaku usaha kini memanfaatkan live streaming di media sosial seperti TikTok untuk membaca tren pasar domestik dan minat konsumen. Permintaan global terhadap cupang halfmoon ukuran 6 cm masih sangat tinggi, sementara tantangan utama justru terletak pada kapasitas produksi. “Permintaannya besar, problemnya di produksi. Artinya, peluangnya masih sangat terbuka,” pungkas Naufal.dian/dini/edt




