Di tengah kejatuhan harga jual dan masih maraknya penyakit udang, para praktisi tambak menggelar diskusi bertemakan kolaborasi pencegahan penyakit.
Pada diskusi yang digelar di tambak PPI, Desa Kamping Baru, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran-Lampung, tersebut para praktisi berbagi strategi mencegah penyakit udang. Diskusi dibuka Ketua Umum Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) , Waiso, dihadiri sekitar 50 orang peserta dari berbagai tambak di Kabupaten Pesawaran, Tanggamus dan Lampung Selatan. Tampil menjadi narasumber Kuncoro, Risnanda dan Jarwoko.
Dalam sambutannya Waiso mengajak para praktisi tambak anggota FKPA untuk bersinergi dan berkolaborasi menghadapi berbagai penyakit yang masih mewabah di Lampung, seperti AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease), yang juga dikenal sebagai Early Mortality Syndrome (EMS). “Jangan pelit berbagi ilmu sebab jika tetangga terserang penyakit bisa berbalik ke kita karena sumber airnya satu yakni perairan di depan tambak,” ujarnya mengawali sambutan.
Lebih-lebih pada saat harga jual udang jatuh sekarang ini, bukan untuk diratapi melainkan menjadi pemacu semangat untuk selalu optimis bahwa mendung pasti berlalu. “Kita cegah penyakit sekuat tenaga sehingga ketika produktivitas tinggi maka usaha budidaya tetap meraih untung,” lanjutnya.
Khusus mengenai penyakit, Waiso mengakui, banyak terjadi pada fase awal yakni pada usia 49 hari ke bawah. Apalagi pada fase tersebut petambak belum tahu populasi udang di kolamnya. Biasanya baru pada sampel ketiga yakni pada usia 49 hari baru diketahui populasi udang di kolam, sementara penyakit sering muncul pada usia di bawah itu.
“Makanya yang harus kita lakukan adalah meminimalisasi risiko penyakit. Umumnya penyakit muncul karena dipicu oleh kotoran atau sampah di dalam kolam sehingga yang harus dilakukan adalah membersihkan sampah dan kotoran tersebut. Adapun sumber sampah dan kotoran di dalam kolam tambak di antaranya pakan yang tidak termakan oleh udang sebanyak 15%, feces udang 25% dan plankton yang mati. Sering kita alami ketika terjadi crash plankton maka mulai terjadi mortalitas pada udang,” bebernya.
Pakan Fungsional
Kuncoro, teknisi tambak yang tampil perdana mengatakan, ia mengelola tambak tanah di Dusun Juang Tani, Desa Pagarjaya, Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran.sebanyak tujuh kolam masing-masing berukuran 2.500 meter persegi. Tambaknya di daerah rawa yang saat membangunnya sekitar 20 tahun lalu dilakukan penimbunan. Pada awalnya memang kedap tetapi lama-kelamaan muncul gas-gas metan yang terjebak di dalam lumpur yang berasal dari pohon atau tumbuhan lainnya yang tertimbun. Setelah kolam diisi air muncul gelembung-gelembung udara yang jika dibiarkan bisa meracuni udang.
“Makanya di tempat munculnya gelembung udara saya tanam pipa paralon ukuran 3 – 4 inci dan pada bagian samping bawahnya diberi penutup sekaligus penahan semen dan gasnya keluar dari paralon yang permukaan atasnya berada di atas permukaan air. Ketika dipantik dengan korek api maka apinya bisa hidup,” ujar Kuncoro, teknisi tambak senior mengawali pemaparannya.
Jadi, lanjutnya, pada tambak ‘uzur’ yang paling sulit dan rumit adalah mengelola kualitas airnya. Padahal sewaktu pengeringan, lumpurnya sudah diangkat tetapi masih saja ada gas yang muncul dari bawah tanah yang berpotensi meracuni udang.
“Jadi kunci pencegahan penyakit yang dilakukannya adalah dengan persiapan lahan yang optimal, mulai dari pengairan selama 2 minggu, lalu dikeringkan, buang lumpur, pencucian dengan mengisi air selama 2 hari. Kemudian keringkan lagi dilanjutkan dengan pengapuran dan kembali diisi air setinggi 130 cm.,” jelasnya.
Lalu untuk sterilisasi air baku di tandon ia menggunakan TCCA 1-3 ppm. Tandon air berupa satu kolam berkedalaman tiga meter dengan volume air 3 ribu meter kubik.
Untuk kepadatan tebar benur ia menggunakan kepadatan tebar sedang yang tetap pada setiap siklus yakni 120 ekor per meter persegi di semua kolam. Pada saat udang masih kecil Kuncoro memberi naungan dari daun kelapa karena pada siklus terakhir cuaca sedang kemarau. Lalu tingkat kecerahan air di kolam juga juga tinggi.
Kuncoro tidak melakukan sifon tetapi secara rutin membuka pipa pembuangan (outlet) sejam sebelum pemberian pakan dan rutin mengecek kualitas air. Dalam sepekan ia melakukan ganti air dua hingga tiga kali untuk mengatur tinggi permukaan air karena ada rembesan.
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua edisi 159/ Agustus-September 2025



