Selasa, 15 September 2020

Tambak Bundar Kian Bersinar

Tambak Bundar Kian Bersinar

Foto: DOK. H. ATJO


Selain dari segi kepraktisan, modal yang tidak sebesar tambak konvensional menjadi kunci menarik generasi milenial
 
 
Tambak udang vannamei bundar kian hari kian dilirik masyarakat yang ingin berinvestasi. Sebabnya, terang Nonot Tri Waluyo Setjadi, inisiator kampung vannamei PT Centra Proteinaprima, tambak tersebut bisa diterapkan untuk skala rumah tangga. Dimana, selain modal yang tidak terlalu besar, kepraktisan dan tidak memakan banyak space dirasa cocok dikembangkan untuk skala rumahan.
 
 
Saat ini, terang laki – laki yang akrab disapa Nonot ini, pihaknya mengembangkan tambak skala rumah tangga bundar. Mulai dari diameter 15 m dengan luasan lahan 2.500 m2 pun dirasa cukup untuk memulai usaha budidaya udang. “Dengan luasan ini petambak bisa membudidayakan udang di 4 kolam bundar, disertai 2 kolam tandon,” ujarnya. 
 
 
Para petambak yang sudah bekerjasama, imbuh Nonot, rata – rata mengusahakan tambak ukuran diameter 28 – 30 m. Padat tebar yang diaplikasikan antara 100 – 125 ekor per m2 yang laju sintasannya (SR) bisa mencapai kisaran 80 – 90 %.
 
 
Dengan memanfaatkan luasan lahan untuk kolam bundar, tetap saja yang diperhatikan adalah efisiensi lahan. Karena otomatis tidak semua luasan lahan bisa terpakai untuk kolam tambak dibandingkan tambak udang pada umumnya. “Ya karena banyak ujung lahan yang terbuang. Tapi sebetulnya bisa dikompensasikan dengan jumlah tebaran,” ucap Nonot.
 
 
Dia pun memberi contoh sederhana untuk lahan luasan 1000 m2 dengan kolam petakan 32 x 32 m dan butuh 4 unit kincir. Hitung saja tebarannya dengan terapan 100 ekor per m2. Kemudian bandingkan dengan kolam bundar diameter 32 m, yang luasannya 803 m2. Dengan pertimbangan diameter 15 m bisa dengan 1 kincir, berarti diameter 32 m cukup 3 kincir. Sehingga lebih efisien, apalagi tebarannya sama, 100 ribu ekor per m2.
 
 
Belum lagi, dari segi kepraktisan, tambak kolam bundar ini lebih mudah dalam pemasangannya. Nonot memisalkan untuk luasan lahan 1000 m2 tidak butuh waktu lama untuk setting alat dan perlengkapan. “Paling sekitar 2 x 24 jam selesai,” ucapnya. 
 
 
Karena tambak kolam bundar lebih membutuhkan rangka, kawat wermes atau galvalum, hingga terpal sebagai konstruksi dasar. Cukup berbeda dengan tambak pada umumnya masih harus butuh penggalian tanah, pembetonan, atau penterpalan.
 
 
Memasuki manajemen pemeliharaan, pun menurut Nonot, jauh lebih simpel dibanding tambak umumnya. Alasannya, dengan konstruksi bundar, air yang disirkulasi oleh kincir akan memutar optimal sehingga dasarnya bersih. Karena tentu saja, bagian tengah kolam dikonstruksi central drain sebagai outlet pembuangan limbah. 
 
 
“Manajemen lebih praktis, lumpur bisa terbuang. Daerah bermain udang pun lebih luas, sehingga udang lebih aktif. Kasus penyakit lebih bisa dihindarkan,” jelas Nonot.
 
 
Tinggal tantangannya, tambah Nonot, adalah dari tingkat kepuasan si empunya tambak. Sebabnya, ada saja petambak yang tidak mau membangun tandon dan reservoir sebagai syarat teknis budidaya. Padahal, ungkapnya, adanya tandon bisa menjadi salah satu upaya pencegahan penyakit masuk ke tambak dari sumber air.
 
 
Selain itu, adanya godaan sesama teman petambak yang menerapkan padat tebar fantastis. Argumen Nonot, cukup dengan padat tebar 100 ekor per m2, petambak seharusnya sudah untung. “Di petambak sulit. Kalau ngajari tebar biasanya mereka belajar sendiri. Tebar rendah itu sulit, karena ikut tetangga,” bebernya. 
 
 
Bila tetangga tebar 200 ekor per m2, maka petambak pun mau tebar 200 ekor per m2. Padahal bila tebar 200 ekor per m2 itu tentu manajemen pemeliharaannya lebih sulit, kotoran lebih banyak, lebih berisiko. Hal ini pun patut jadi pertimbangan petambak bila ingin mengatur padat tebar di kolam bundar.
 
 
Hingga sekarang, Nonot menerangkan, pihaknya sudah menggerakkan petambak hampir di semua tempat. “Mulai dari Lampung, Weleri di Jawa Tengah, Tuban dan Gresik di Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, hingga Nusa Tenggara Timur,” tambahnya. 
 
 
 
Selengkapnya baca di majalah TROBOS Aqua Edisi-100/15 September – 14 Oktober 2020
 

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain