Rabu, 1 Nopember 2006

Kunci Sukses Budidaya Udang

Oleh: Supito dan Arief Tas?lihan
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara

Udang sebagai biota budidaya akan dapat hidup dan tumbuh normal  bila dipelihara pada  kondisi lingkungan yang baik dan nyaman. Artinya, lingkungan hidup udang berada pada kondisi nilai parameter yang optimum untuk pertumbuhan serta dalam keadaan stabil atau tidak terjadi perubahan nilai parameter lingkungan yang drastis selama proses budidaya. Perubahan  lingkungan secara drastis akan menyebabkan energi yang digunakan untuk proses adaptasi terhadap lingkungan lebih banyak. Akibatnya pertumbuhan menjadi rendah dan kondisi lemah sehingga mudah terserang patogen penyakit.

 

Kegagalan budidaya udang di tambak diantaranya disebabkan oleh benih yang tidak berkualitas, lingkungan kawasan tambak tempat budidaya udang yang sudah tercemar atau tertular penyakit, dan perubahan kualitas air petak budidaya yang ekstrim selama proses pemeliharaan.

 

Kajian manajemen budidaya udang telah dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara di Gresik, Sidoarjo dan Lombok Tengah. Pengelolaan lingkungan meliputi air dan lumpur tambak yang dilakukan untuk mempertahankan parameter lingkungan pada kisaran optimum dan mencegah perubahan drastis.

 

 

Suhu
Suhu air tambak tergantung cuaca dan berpengaruh langsung terhadap nafsu makan. Laju komsumsi pakan, menurun hingga mencapai 50% pada suhu kurang dari 26 oC.

 

Suhu air di bagian dasar tambak juga di pengaruhi oleh kedalaman air, tingkat kecerahan dan gerakan air. Tingkat kecerahan akan menghambat penetrasi cahaya  dalam air. Untuk teknologi intensif, penggunaan kincir akan mampu meratakan suhu air setiap lapisan kolom air tambak.

 

Penebaran kapur tohor (CaO) yang digiling pada malam hari dengan dosis 3-5 ppm dapat membantu menahan agar suhu pada malam hari tidak turun. Hidroksida kapur tohor  dapat menghasilkan panas. Pemberian kapur tersebut bila pH air masih kurang dari 8,5.

 

Warna Air dan Tingkat Kecerahan
Air tambak yang baik banyak mengandung berbagai jenis plankton dengan dominasi phytoplankton terutama dari kelas Chloropiceae lebih dari 80%. Perubahan warna air menunjukan terjadinya perubahan dominasi plankton dan menjadi indikator bagi biota budidaya. 


Phytoplankton dan makroalga atau tumbuhan air lainnya yang berklorofil merupakan penyangga  dasar kestabilan lingkungan perairan (water stability). Kematian phytoplankton dalam air tambak menyebabkan perubahan yang drastis terhadap kualitas lingkungan. Fungsi phytoplankton dan makroalga air adalah sebagai penyerap nutrien atau unsur hara hasil perombakan mikroba. Berkurangnya phytoplankton atau ganggang secara drastis menyebabkan penyerapan nutrien dan gas beracun seperti CO2, amonia nitrat dan nitrit tidak dapat optimal sehingga menyebabkan keracunan pada udang. Hasil pengamatan hanya phytoplankton dan tanaman air berklorofil yang mampu menyerap hasil perombakan bahan organik oleh mikroba.

 

Phytoplankton dan makroalga juga berperan sebagai produsen primer oksigen terlarut. Bagi tambak teknologi sederhana atau semi intensif yang tidak menggunakan kincir air di siang hari, oksigen terlarut dapat dihasilkan dari proses fotosintesa pada seluruh kolom air. Pengaturan kedalaman air tambak akan memungkinkan terjadi penetrasi cahaya dari permukaan hingga dasar tambak. Caranya, mengatur kedalaman air dengan ketinggian dua kali nilai kecerahan.

 

Di tambak sederhana, populasi ganggang (makroalga) maksimum 30% dari luasan tambak dan sebarannya merata dalam petakan. Maksudnya, agar terjadi penyebaran produsen oksigen terlarut pada siang hari maupun konsumsi oksigen karena respirasi pada malam hari.

 

Dan agar makroalga dapat tumbuh, diperlukan unsur hara. Secara umum faktor pembatas unsur hara adalah phospat (P2O5) dangan kandungan otimum lebih dari 0,25 ppm. Penyediaan phospat dalam air tergantung dari sumber air. Sumber phospat adalah batuan phospat. Diduga, sumber air tambak yang berasal dari laut sangat sedikit mengandung phospat dibanding air dari sungai yang bersumber dari daratan yang mengandung bantuan. Beberapa kajian yang telah dilakukan dengan pemberian pupuk phosfat secara rutin tiap 4-7 hari sekali dengan dosis 1-2 ppm dan dolomit (Ca,Mg,CO3) dosis 3 ppm dapat mempertahankan kesuburan plankton. Ketika plankton belum tumbuh, aplikasi pupuk phospat dan dolomit dapat dilakukan tiap hari.

 

 Alkalinitas
Alkalinitas merupakan penyangga (buffer) perubahan pH air dan indikasi kesuburan yang diukur dengan kandungan karbonat. Alkalinitas optimal pada nilai 90-150 ppm. Alkalinitas rendah  diatasi dengan pengapuran, dosis 5 ppm. Dan jenis kapur yang digunakan disesuaikan kondisi pH air sehingga pengaruh pengapuran tidak membuat pH air tinggi, serta disesuaikan dengan keperluan dan fungsinya. Jenis kapur hidroksida Ca(OH)2 diaplikasikan untuk menaikkan alkalinitas sekaligus menaikan pH air. Sementara apabila pH air tinggi, menaikkan alkalinitas menggunakan kapur carbonat (CaCO3) atau kaptan dan dolomit.

 

pH air

Kisaran pH air tambak udang yang optimum adalah 7,5-8,5.  Pengukuran pH dilakukan pada pagi pukul 05.00 (sebelum matahari terbit) dan sore hari sekitar pukul 16.00.  Nilai fluktuasi pH pagi dan sore hari dapat digunakan sebagai indikator proses kimia dan biologis. Pada waktu malam hari semua biota dalam air melakukan respirasi menghasilkan CO2 sehingga nilai pH turun. Sebaliknya pada siang hari terjadi proses fotosintesa oleh phytoplankton, makroalga dan tanaman air lainnya dengan menggunakan CO2 sehingga menyebabkan nilai pH naik.

 

Kisaran optimal fluktuasi nilai pH air pagi dan sore adalah 0,2-0,5. Fluktuasi nilai pH harian yang lebih dari 0,5 menunjukan bahwa karbonat dalam air sebagai penyangga adalah kurang.  Sebaliknya bila fluktuasi kurang dari 0,2 atau bahkan sore hari sama dengan pagi hari, menunjukkan fotosintesis tidak berjalan normal. Kondisi lingkungan lebih berbahaya bila nilai pH pagi lebih tinggi dari sore hari.

 

Fluktuasi harian kandungan oksigen terlarut ditentukan kepadatan biota yang ada dalam air terutama phytoplankton dan makroalga yang merupakan produsen primer. Untuk menjaga oksigen terlarut tetap pada kondisi optimal adalah dengan  memanfaatan proses fotosintesa, penggunaan aerasi dan mengatur jumlah densitas plankton dan tanaman air. Kedalaman air optimal tambak sederhana yang tidak menggunakan aerasi adalah 2 x nilai kecerahan. 

 
Salinitas
Fluktuasi harian salinitas pada petak pembesaran udang dipertahankan tidak lebih dari 3 ppt per hari untuk menghindari stres pada udang. Fungsi tandon adalah untuk persediaan air sehingga dapat menekan fluktuasi salinitas yang tinggi. Sebelum melakukan pergantian atau penambahan air, dilakukan pengontrolan salinitas antara petak pembesaran udang dan petak biofilter dengan perbedaan tidak  lebih dari 3 ppt. Pembesaran udang dapat dilakukan pada salinitas rendah atau payau maupun pada salinitas yang tinggi. Yang penting, tidak terjadi perubahan salinitas yang drastis.

 

Bahan Organik
Kandungan total bahan organik merupakan sumber terjadinya senyawa yang dapat meracuni udang dalam proses anaerob atau reaksi reduksi. Peningkatan kandungan N-organik disebabkan sisa pakan yang tidak dikonsumsi, kotoran udang, kematian plankton atau tanaman air lainnya, bahan organik yang masuk pada saat pergantian air.  Kandungan bahan organik yang tinggi lebih dari 150 ppm menunjukkan kualitas air yang menurun. Proses perombakan bahan organik tidak dapat berlangsung dengan sempurna.

 

Penguraian bahan organik akan berlangsung cepat apabila komposisi C/N rasio dalam bahan organik tersebut lebih dari 10. Oleh karena itu di beberapa lokasi kajian dilakukan penambahan sumber karbon (C-organik). Sumber C-organik yang digunakan adalah  tepung tapioka. Aplikasi tepung tapioka diberikan 1-2 kali per minggu. Dosis pemberian adalah 10% dari jumlah total protein (crude protein) dari pakan komersial yang telah diberikan. Sebagai dampak dari perlakukan ini terjadinya penurunan bahan organik dan pertumbuhan plankton yang ditandai warna hijau.

 

Lumpur Dasar Tambak.

Nilai redoks potensial  lumpur  dasar tambak menunjukkan kondisi tanah yang dapat digunakan untuk mengikuti perkembangan fenomena reaksi kimia dan biologi dalam tambak. Nilai redoks potensial negatif menunjukkan terjadinya reaksi reduksi, yang dapat menghasilkan senyawa yang bersifat racun terhadap udang seperti senyawa sulfida (H2S), nitrit dan amonia. Oleh sebab itu sangat penting melakukan pengamatan lumpur dasar selama pemeliharaan untuk menentukan perlakuan.

 

Kondisi lumpur dasar tambak selama pemeliharaan juga sangat ditentukan oleh manajemen pakan tambahan. Dampak penggunaan pakan yang tidak terkontrol juga akan menyebabkan permasalahan memburuknya lingkungan tambak yang dapat menyebabkan penyakit dan kematian.

 

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS edisi November 2006

 

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain