Pangkalpinang (TROBOSAQUA). Tekanan penyakit, fluktuasi harga, pelemahan ekspor, hingga tantangan logistik menjadi benang merah yang mengemuka dalam Seminar From Farm to The Table yang secara resmi dibuka oleh Pemerintah Provinsi Bangka Belitung di Bangka City Hotel, Pangkalpinang (22/11). Forum ini mempertemukan petambak, industri, akademisi, asosiasi, pelaku usaha, hingga pemerintah pusat dan daerah untuk menyatukan langkah penyelamatan sekaligus memperkuat daya saing industri udang nasional.
Ketua Panitia Seminar From Farm to The Table mengungkapkan bahwa kegiatan ini digagas dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi sektor perudangan nasional dalam dua tahun terakhir. “Acara ini lahir dari keprihatinan kita bersama atas situasi perudangan nasional sepanjang 2024-2025. Kita menghadapi tekanan berat, mulai dari penurunan ekspor ke pasar utama, harga udang yang fluktuatif, penyakit yang semakin kompleks, hingga tantangan rantai pasok,” ujarnya.
Namun di tengah tekanan tersebut, Bangka Belitung justru menunjukkan performa yang menjanjikan. Produksi udang vaname meningkat lebih dari 318 persen hanya dalam dua tahun, jumlah tambak naik dari 21 menjadi 185 unit, dan pasokan larva hampir dua kali lipat. Capaian ini menegaskan bahwa Bangka Belitung memiliki masa depan kuat sebagai sentra baru udang nasional sekaligus lokomotif kebangkitan sektor perudangan berbasis kawasan.
Dari sisi penanganan pascapanen, Ketua Umum Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia, Hasanuddin Yasni menegaskan pentingnya penerapan rantai dingin sejak awal panen. “Ikan harus segera didinginkan hingga suhu maksimum 5°C, karena suhu sangat memengaruhi pertumbuhan bakteri dan umur simpan produk,” katanya. Ia menambahkan bahwa integrasi antara penyimpanan dan distribusi berpendingin memiliki prospek besar bagi industri nasional. “Jika penyimpanan dingin digabungkan dengan transportasi yang memadai, pasar rantai dingin Indonesia berpotensi tumbuh hingga 9,6% CAGR,” tuturnya siang itu.
Pada aspek mutu dan keamanan pangan, Woro Nur Endang Sariati, Plt. Sekretaris Badan PPMHKP/Pusat Manajemen Mutu menyoroti besarnya potensi perikanan Indonesia yang perlu diimbangi dengan pengawasan lebih ketat. “Indonesia memiliki megabiodiversitas sekitar 8.500 spesies biota laut, potensi tangkapan lestari 12,01 juta ton per tahun, dan lebih dari 50 juta ton potensi budidaya laut yang menjadi kekuatan utama sektor perikanan nasional,” katanya. Namun, ia mengingatkan bahwa sejarah kasus kontaminasi menjadi pelajaran penting. Kasus kontaminasi Cs-137 pada udang beku mendorong penerapan Import Alert, sehingga penguatan sertifikasi, pengawasan mutu, dan sistem traceability menjadi kunci agar produk udang Indonesia tetap diterima di pasar global.
Dari kacamata perdagangan internasional, Miftah Farid, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer, Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional menegaskan posisi strategis Indonesia di pasar dunia. “Indonesia menempati posisi lima besar negara eksportir udang dunia dengan pangsa sekitar 5,24%. Tren perdagangan global 2020–2024 memang dinamis, tetapi ini justru membuka peluang bila direspons dengan strategi yang tepat,” ujarnya. Ia menambahkan, peningkatan ekspor udang harus didorong melalui efisiensi produksi, penguatan standar mutu dan ketertelusuran, serta perluasan akses pasar melalui promosi, perjanjian dagang, dan penguatan logistik.
Tantangan di tingkat tambak dikupas lebih dalam oleh Putriana Onasiya Rizki Wardana, Wakil Direktur CV Riz Samudera. Ia menyoroti kombinasi penyakit dan perubahan iklim sebagai ancaman utama keberlanjutan budidaya. “Meningkatnya serangan penyakit seperti EMS, WFD, dan vibriosis, ditambah kualitas air yang tidak stabil akibat cuaca ekstrem, menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan budidaya udang,” jelasnya. Menurutnya, kebangkitan sektor tidak bisa dilakukan secara parsial. Untuk memulihkan kepercayaan pasar pasca kasus Cs-137, diperlukan penguatan biosekuriti, penerapan SOP yang lebih ketat, serta kolaborasi petambak, pemerintah, eksportir dan diversifikasi pasar ekspor.
Dari sisi teknologi, Sony, Teknisi manager PT Haida Biotechnology Indonesia memperkenalkan sistem Automatic Drainage High Production (ADHP) sebagai salah satu solusi tambak modern berproduktivitas tinggi. “Sistem ADHP dirancang dengan prinsip efisiensi drainase yang memungkinkan budidaya udang berpadat tebar tinggi hingga lebih dari 300 ekor per meter persegi, tanpa perlu pekerja turun langsung ke kolam saat proses siphon,” paparnya. Ia menambahkan bahwa sistem ini memberikan keunggulan dalam kebersihan dasar kolam dan penguatan biosekuriti, meski memerlukan kesiapan modal, pasokan listrik yang stabil, dan manajemen teknis yang lebih kompleks.
Perspektif pasar global turut disampaikan Direktur Indonesia Wanhui Food Co., Ltd, Li Bo. Ia melihat udang Indonesia, khususnya vaname, memiliki daya tarik tinggi di pasar internasional. “Udang vaname Indonesia memiliki keunggulan karena didukung lingkungan akuakultur yang baik, skala budidaya besar dengan SOP terstandar, bebas antibiotik, serta letak geografis yang dekat dengan pasar utama seperti China,” ungkapnya. Namun, ia mengingatkan adanya sejumlah pekerjaan rumah. Transportasi antar pulau yang jauh, ketergantungan pada satu pasar ekspor, mutu pakan yang belum optimal, dan efisiensi produksi yang rendah membuat biaya per kilogram tinggi dan menurunkan daya saing.

Antusiasme peserta tampak sepanjang kegiatan. Seminar ini dihadiri oleh petambak udang tradisional dan intensif, pemilik tambak modern, pengusaha pakan dan benur, pegiat cold storage, eksportir, akademisi, mahasiswa perikanan, UMKM olahan hasil laut, hingga pejabat dinas terkait.
Selain diskusi strategis di dalam ruang seminar, suasana kolaboratif juga terasa di luar ruangan. Kemeriahan semakin terasa dengan digelarnya Mini Bazaar dan Masak Bareng Udang di area depan ballroom Bangka City Hotel yang melibatkan UMKM lokal, Karang Taruna, sponsor, serta komunitas mahasiswa. Aktivitas demo masak, pameran produk, hingga sesi edukasi menjadikan kegiatan ini bukan hanya forum ilmiah, tetapi juga pesta kolaborasi sektor perudangan Bangka Belitung. Ini menjadi bukti bahwa sektor udang tidak hanya dibahas di atas kertas, tetapi dirayakan dan didekatkan kepada masyarakat.
Kegiatan ini turut mendapatkan dukungan dari berbagai mitra industri, di antaranya PT Haida BioTechnology Indonesia, PT Suri Tani Pemuka, PT Central Proteina Prima, PT Bangka Agro Niaga, Sumo Suki, Kopi Tubruk Komdak, Warung Tungtau, dan Rumah Makan Muara yang berkontribusi dalam menyukseskan seluruh rangkaian acara.
Melalui forum ini, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa masa depan industri udang Indonesia masih terbuka lebar, asalkan ditopang penguatan biosekuriti, inovasi teknologi, efisiensi biaya, peningkatan kualitas mutu, serta kolaborasi hulu-hilir yang berkelanjutan. Bangka Belitung pun diproyeksikan menjadi salah satu ikon kebangkitan industri udang nasional berbasis praktik berkelanjutan dan berorientasi ekspor. dian



