Jejak Pemuliaan Nila di Mesir

Jejak Pemuliaan Nila di Mesir

Foto: By FAO


Jogjakarta (TROBOSAQUA). Dari laporan Food and Agriculture Organization (FAO), berisi rekaman perjalanan pemuliaan nile tilapia (Oreochromis niloticus) di kampung asal ikan bersirip tajam itu. Laporan bertajuk “Pelajaran dari Dua Dekade Perbaikan Genetik Ikan Nila Di Afrika” itu menyajikan gambaran program pemuliaan ikan nila / tilapia di Afrika dengan fokus utama pada program pemuliaan genetically improved abbassa nile tilapia (GIANT) di Mesir.

 

Mesir, Ghana, Kenya, Malawi dan Zambia adalah negara pertama di Afrika yang melakukan program seleksi / pemuliaan yang mengadopsi teknologi GIFT, didukung oleh WorldFish dan mitranya. Protokol teknologi GIFT diterapkan pada program GIANT di Mesir. Teknologi ini juga telah diterapkan pada O shiranus di Malawi, nila tutul tiga (O andersonii) di Zambia, nila strain Akosombo di Ghana dan di Kenya.

 

Protokol pemuliaan mempertimbangkan kisaran lingkungan budidaya yang tersedia dan sifat-sifat yang disukai, misalnya ukuran panen yang disukai konsumen. Sistem fungsional juga harus dibangun untuk menyebarkan induk nila yang dihasilkan pusat pemuliaan (inti pemuliaan) ke pusat penggandaan induk (breeding multiplication center, BMC) dan tempat pembenihan hingga akhirnya menjadi benih sebar untuk pembudidaya. Sistem ini juga menjadi media informasi, saran dan masukan dari pembenih dan pembudidaya kepada pusat pemuliaan.

 

Antar pelaku seringkali seringkali menuntut perbaikan sifat-sifat ikan yang berbeda. Misalnya saja, meskipun para pembudidaya pembesaran memilih ikan yang tumbuh cepat untuk mengurangi biaya produksi. Pelaku pembenihan lebih memilih nila dengan reproduktivitas tinggi dan sintasan larva yang tinggi untuk memaksimalkan produksi benih sebar. Maka penting juga untuk memperhitungkan korelasi respons antar sifat yang diseleksi.

 

Populasi dasar nila yang akan diseleksi, diperoleh dari seluruh kemungkinan persilangan dialel antar ikan dari empat lokasi pengumpulan. Pada perkawinan awal digunakan total 86 ekor indukan dan 115 ekor induk. Sebuah desain perkawinan di mana setiap pejantan harus dikawinkan secara berurutan dengan dua betina tanpa opsi untuk memijah betina secara berulang-ulang, untuk menghasilkan saudara tiri dari pihak pejantan.

 

Perkawinan dilakukan secara acak. Namun, karena perbedaan ukuran antara jantan dan betina, betina yang lebih besar dicocokkan dengan jantan yang lebih besar untuk menghindari kematian akibat perilaku agresif jantan. Selain itu, perkawinan sedarah diminimalkan dengan menghindari perkawinan ikan yang berkerabat seperti saudara kandung dan saudara tiri.

 

Biasanya, pemijahan dilakukan pada akhir musim semi, suhu air di atas 20 oC. Pejantan pertama kali ditempatkan di pemijahan berupa hapa nilon berserat halus dengan satu betina yang siap bertelur. Awalnya hapa dirancang untuk satu pejantan dan satu betina saja. Ketika pemijahan diverifikasi di salah satu hapa, betina dibiarkan bersama dengan larva. Namun pejantan dipindahkan ke hapa lain dengan betina lain untuk menghasilkan saudara tiri. Akibatnya, musim pemijahan menjadi panjang, 2-3 bulan sehingga dampak lingkungan secara umum menjadi sangat tinggi.ntr/edt

 
Aqua Update + Headline Aquanews + Cetak Update +

Artikel Lain