Membangun Identitas Indonesian Pangasius

Membangun Identitas Indonesian Pangasius

Foto: 


Usai dihajar pandemi, dan masih babak belur dihantam kelangkaan bahan baku sepanjang el nino, Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) bangkit membangun identitas ‘Indonesian Pangasius’ tanpa didikte oleh pesaing.

 

“Kita selama ini di-brainwash oleh Vietnam bahwa daging fillet patin yang baik berwarna putih. Padahal itu melalui proses bleaching. Indonesia, dengan brand Indonesian Pangasius harus berani menyatakan daging berwarna kuning dan merah itu mengandung beta karoten, nutrisi yang baik bagi tubuh. Harus confidence, bahwa fillet kita natural, dan tanpa pemutih,” Samiono, Wakil Ketua Bidang Industri APCI Pusat menyesalkan.

 

Bahkan, dia menegaskan, justru warna patin Indonesia ini dapat dijadikan sebagai materi promosi ‘Indonesian Pangasius’, yang lebih bernutrisi, lebih alami, lebih sehat, dan tentu rasanya lebih enak. Fillet patin Vietnam mengalami bleaching berkali-kali, sehingga kalau dibandingkan dengan fillet dari Indonesia sebenarnya tidak ada rasanya sama sekali. 

 

Bahasan itu dia sampaikan usai memaparkan problem kontinuitas pasokan bahan baku dan kualitas fillet patin yang yang dipengaruhi oleh kualitas bahan baku. Samiono mengambil beberapa sampel fillet, dari beberapa rumah makan di Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur dan Kalimantan. 

 

Warna daging fillet bervariasi, mulai dari putih bersih, pinky, kuning, dan merah. Level kuningnya, di Jawa Barat bahkan sampai mirip kunyit. Secara umum, didominasi warna kuning dan pinky. (Lihat gambar). Warna terbaik didapatkan dari Jawa Timur, yang dipasok Tulungagung. Fillet warna putih didapatkan sampai 40%, dan secara keseluruhan warnanya terbaik dibanding sampel dari daerah lain. Temuan muddy smell antara 0 – 1%. 

 

Acara Munas

Ketua panitia Munas ke-4 APCI Susilo Hartoko menyatakan, agar hajat besar pelaku industri patin dan lele ini menghasilkan rekomendasi yang powerfull untuk disampaikan kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Sehingga memperkuat kolaborasi yang dibangun para anggota APCI untuk selalu mendukung regulasi dari KKP,” ujarnya di Holiday Inn Pasteur, Bandung-Jawa Barat (Jabar) pada (27/11) lalu. 

 

Menurut dia, acara yang dihadiri 120 stakeholder pembudidaya, industri pemasaran dan pengolahan catfish, dengan agenda utama pemilihan ketua umum baru. Hasilnya, Susilo Hartoko didaulat sebagai ketua umum APCI periode 2023 – 2028.

 

Agenda kemudian dilanjutkan dengan Forum Bisnis, bertema “Sinergi APCI dalam Membangun Industri Catfish Yang Sehat”. United States Soybean Exporters Council (USSEC) juga berpartisipasi dengan menghadirkan Zhou En Hua pada pemaparan “Solutions for Sustainable Aquaculture With IPRS Technology”.

 

Sekretaris Jenderal APCI - Azzam Bachrur Zaidy mengisahkan, APCI didirikan pada 2009 dengan nama CCI (Catfish Club Indonesia). Saat itu anggotanya seluruhnya adalah pembudidaya patin dan lele. Namun pada kongres kedua 2013, masuk komponen anggota dari segmen hulu sampai hilir, mulai dari pembenih, pembudidaya, hingga pengolah (terutama patin fillet) dan pemasaran. Nama CCI pun berubah menjadi APCI, asosiasi yang komprehensif, menggabungkan segmen industri catfish secara vertikal. 

 

 

“Perkembangan industri catfish saat itu juga merespons perkembangan industri fillet patin yang sebelumnya hampir 100% mengandalkan  fillet patin impor. Tahun 2010 menjadi tonggak kebangkitan. Pembudidaya pun bisa memasok industri pengolahan patin dalam negeri. Hampir 100% kebutuhan patin fillet dalam negeri sudah dipasok dari industri nasional,” tutur dia. Puncaknya, menurut dia, dimulai dengan ekspor olahan patin pada awal 2018 ke Arab Saudi untuk menu katering jamaah haji Indonesia.  

 

Pamudi – Technical Consultant Aquaculture, US Soybean Export Council (USSEC)  Southeast Asia, Indonesia menyatakan selalu siap membersamai kegiatan akuakultur di Indonesia, termasuk APCI. Dia berharap Indonesia memiliki satu komoditas unggul yang bisa menguasai pasar dunia. Seperti Vietnam dengan industri patinnya, Norwegia dengan salmon dan Ekuador dengan udang. 

 

“Kami dari USSEC memberikan technical support para pengguna kedelai US secara gratis. Pakan ikan, salah komposisi terbesarnya adalah kedelai. Maka kami juga memberikan support dari hulu – hilir. Dari hatchery, pembiayaan sampai pengolahan bahkan sampai menyiapkan ekspor,” ujar dia. 

 

Joe Zhou Enhua, Technical Manager Freshwater Aquaculture USSEC hadir secara virtual, memberikan materi ‘U.S Soy Provides Solutions for Sustainable Aquaculture with In-Pond Raceway Systems (IPRS) Technology’.

 

Artikel ini sudah di tulis kembali di Majalah TROBOS Aqua edisi 139/ 15 Desember - 14 Januari 2024

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain