Coco Kokarkin: Mau Dibawa Kemana Udang Indonesia?

Coco Kokarkin: Mau Dibawa Kemana Udang Indonesia?

Foto: Dok. Pribadi



Dari grafik produksi total tahunan per kuartal, maka akan tampak nilai produksi udang Indonesia mengalami penurunan dari 2022 ke 2023 . Senyatanya dapat dikatakan hampir tidak ada tambak intensif yang diurug dan dijadikan perumahan dan sebagainya. Artinya Indonesia sedang menghadapi satu masalah yang semua pihak lalai dalam menyikapinya.

 

Kelalaian-kelalaian apa sajakah itu? Pertama, prosesor baru bersikap sebagai penjual yang membantu menjualkan produk petambak. Sehingga beberapa tidak cukup agresif dalam pengembangan pasar atau pengembangan produk.

 

Masalahnya berbalik, misalnya mereka berhasil mengembangkan pasar dan produk value added, apakah bahan bakunya mencukupi? Aslinya produksi tambak dalam negeri belum mencapai kapasitas penuh.

 

Kedua, adalah masalah di tambak itu sendiri. Semakin berpengalaman dalam hal gagal, semakin tinggi padat penebaran udang yang dilakukan di siklus berikutnya. Hal itu dilakukan untuk mengganti kerugian sebelumnya.

 

Aktualnya, semakin tinggi suatu padat tebar maka semakin banyak pula metabolit yang dilepaskan ke air. Kondisi itu tentu akan menghambat pertumbuhan si udang dan berujung pada pemborosan pakan. Akhirnya kincir dan pompa ditambahkan untuk memperbaiki kondisi tersebut, sehingga biaya energi dan perawatan per m3 air pun turut melonjak.

 

Karena Harga Pokok Produksi (HPP) meningkat dan risiko bertambah, petambak berada dalam pusaran kesulitan hingga pada rasio 1:3. Yang memiliki arti satu kali kegagalan baru tertutup pada siklus ketiga yang berhasil berturut turut.

 

Solusi Terhadap HPP Tinggi

Saat ini udang Indonesia dapat dikatakan berada berada di persimpangan jalan. Jalan yang dipilih haruslah tepat, baik itu oleh produser (tambak) maupun pengolah. Hingga saat ini produser dan pengolah terpantau masih melihat angka pasar dunia sebagai demand (peluang pasar). Bukan sebagai angka yang sudah tersedia (produksi) sehingga semuanya tetap bekerja seperti biasa.

 

Di sisi lain, semua negara sedang berusaha meningkatkan produksinya dengan sistematis, seperti Arab Saudi, Venezuela dan negara-negara di Arab dan Amerika latin lainnya. Negara yang bermasalah pun sedang berusaha untuk pulih dengan perbaikan infrastruktur dan teknologi.

 

Di Amerika latin ini, Ekuador adalah negara yang sedang mengalami banjir panen udang. Sayangnya udang-udang tersebut dijual dengan harga murah. Tentu hal itu memicu keluhan-keluhan pada pemerintah Ekuador. Realitasnya, semua itu disebabkan ekonomi dunia sedang menurun akibat konflik geopolitik.

 

Dalam kondisi udang berlimpah dan harganya murah, bila kita memposisikan diri sebagai pembeli akhir, udang yang mana yang akan kita beli? Pasti yang paling baik dan terjamin kualitasnya. Kalau ada beberapa produk negara lain yang sama bagus dan murahnya, yang dipilih pasti yang paling murah lagi.

 

Bagaimana harga udang Indonesia? Bila kita ingin tetap memproduksi dan menjual dengan harga rendah maka semua pihak di Indonesia harus melaksanakan produksi dengan biaya yang efisien dengan HPP rendah.

 

Dari persaingan harga, udang Indonesia juga tertekan karena HPP udang nasional (3,7 USD/ kg) adalah yang tertinggi di dunia dibandingkan India (3,2 USD/ kg) dan Ekuador (2.5 USD/ kg). Sehingga negara lain masih bisa produksi dan untung dengan kondisi harga udang dunia yang sedang menurun.

 

Sungguh, asosiasi di Indonesia tidak tinggal diam dengan kondisi saat ini. Beragam upaya dilakukan, diantaranya adalah mencari solusi untuk menekan HPP namun dengan hasil produksi yang optimum bahkan maksimum. 

 

Artikel ini sudah di tulis kembali di Majalah TROBOS Aqua edisi 139/ 15 Desember - 14 Januari 2024

 

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain