Kawasan Konservasi Bermanfaat untuk Nelayan

Kawasan Konservasi Bermanfaat untuk Nelayan

Foto: 


Produk perikanan berkelanjutan berakar dari praktik perikanan berkelanjutan yang diantaranya dilakukan dengan memperhatikan aspek konservasi

 

Dessy Anggraeni, Indonesia Program Director Sustainable Fisheries Partnership menjelaskan, tren permintaan pasar untuk produk perikanan berkelanjutan. Disebutkannya, pasar Eropa bagian Utara, UK dan Amerika Utara sudah menerapkan komitmen untuk membeli dari produk perikanan yang berkelanjutan. Demikian pula pasar di Eropa bagian Selatan, Amerika Latin, Jepang dan beberapa negara Asia lain juga mulai mengikuti inisiatif untuk menerapkan komitmen terhadap produk perikanan berkelanjutan.

 

Terdapat sejumlah faktor yang mendorong pasar untuk meminta produk perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Di antaranya, ketersediaan pasokan (supply) di masa depan; reputasi di muka umum/permintaan konsumen; tekanan dari kampanye-kampanye LSM lingkungan. Lalu tren meningkatnya transparansi publik terhadap asal produk perikanan dan pengaruh terhadap kualitas (quality) dan keamanan produk perikanan (safety) serta kontribusi terhadap UN Sustainable Development Goals (SDGs).

 

Komitmen buyers untuk perikanan berkelanjutan hanya akan membeli produk perikanan tangkap yang memiliki sertifikasi pihak ketiga (bisanya MSC atau sertifikasi lain yang diakui GSSI – Global Sustainable Seafood Initiatives). Juga, melaksanakan Fishery Improvement Project (FIP) atau Program Perbaikan Perikanan Tangkap dan menunjukkan progres yang baik (ditunjukkan oleh Rating A-C).

 

Untuk perikanan budidaya, ia terangkan, harus memiliki sertifikasi pihak ketiga (ASC, BAP, GGAP) dan melaksanakan Aquaculture Improvement Project (AIP) atau Program Perbaikan Budidaya. “Karena menurunnya pasokan sumberdaya ikan akan berdampak pada kesejahteraan sosial, kelayakan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan,” bebernya dalam webinar yang digelar FishLog beberapa waktu lalu.

 

Risiko

Dijelaskannya, kombinasi dari meningkatnya permintaan akan produk seafood dan praktik perikanan yang tidak berkelanjutan akan menimbulkan risiko terhadap rantai pasok. Untuk itu perlu usaha menuju perikanan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab dalam setiap tingkatan dalam rantai pasok berupa FIP (Fisheries Improvement Project-Program Perbaikan Perikanan Tangkap)dan AIP (Aquaculture Improvement Project-(Program Perbaikan Perikanan Budidaya).

 

“FIP atau AIP adalah aliansi dari pembeli, pemasok, produser (nelayan atau petambak) yang bekerjasama guna meningkatkan perikanan melalui dukungan terhadap kebijakan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Mereka secara sukarela melakukan praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan dan mengkomunikasikan perkembangannya kepada pembeli,” urainya.

 

Fishery Improvement Project(FIP) atau Program Perbaikan Perikanan, terang Dessy, adalah suatu usaha multi pihak untuk menjawab tantangan atau isu lingkungan dan ketersediaan sumberdaya suatu perikanan. Program ini memanfaatkan kekuatan sektor swasta untuk memberikan insentif bagi perubahan positif menuju keberlanjutan dalam perikanan yang didukung oleh perubahan kebijakan. Secara umum tujuan dari FIP adalah untuk meningkatkan keberlanjutan (sustainability) dari suatu perikanan dan kemungkinan untuk mencapai sertifikasi pihak ke-3.

 

“Terdapat insentif dari pasar guna memotivasi pelaku bisnis (rantai pasok) perikanan untuk melakukan usaha perbaikan perikanan menuju keberlanjutan,” ungkapnya. Pada bagian akhir pemaparannya, Dessy Anggraeni menguraikan cara-cara membantu nelayan kecil guna memenuhi standar keberlanjutan dari pasar global dan lokal. Di antaranya dengan memastikan nelayan kecil dan kapalnya terdaftar; membentuk asosiasi atau jaringan (kelompok) nelayan. Lalu meningkatkan kapasitas nelayan termasuk akses langsung ke pasar lokal dan informasi pasar.

 

“Kemudian melakukan pelatihan untuk meningkatkan penanganan paska tangkap (post-harvest) untuk mengurangi hasil tangkapan yang terbuang (wasteful catch) dan fokus pada peningkatan dalam aspek kualitas, keamanan dan keberlanjutan untuk menciptakan produk yang berbeda dan mempunyai daya saing,”tambahnya.

 

Artikel ini sudah di tulis kembali di Majalah TROBOS Aqua edisi 139/ 15 Desember - 14 Januari 2024

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain