Ditunggu, Kobaran Udang Indonesia

Ditunggu, Kobaran Udang Indonesia

Foto: Dok. Dian TROBOS


Di tengah kekhawatiran akan kondisi udang dunia, semua peluang dirasa ‘wajib’ dioptimalkan untuk menggairahkan udang Indonesia

 

Udang termasuk komoditas paling dominan untuk diekspor di berbagai negara bukanlah isapan jempol belaka. Terlihat dari periode 2017-2022 yang menjadi ‘masa’ dominan pasar udang dunia. Hal ini, setelah dibandingkan dengan 2023 yang terpengaruh kecamuk global.

 

Menurut Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Erwin Dwiyana, impor udang dunia mengalami tren positif selama periode 2017 - 2022 dengan pertumbuhan rata-rata 7,32% per tahun. Nilai impor terendah terjadi pada 2017 sebesar USD 22,29 miliar hingga mencapai puncak tertinggi dengan nilai USD 31,28 miliar pada 2022.

 

Peningkatan nilai impor udang di pasar dunia pada tahun-tahun tersebut diindikasi karena adanya kenaikan produksi udang di beberapa negara di Amerika Latin dan Asia Tenggara. Di Asia, India dan Indonesia adalah dua contoh negara penyumbang tingginya nilai impor udang dunia pada 2017-2022.

 

Walau ada kenaikan pada lima tahun tersebut, Erwin menyebut prediksi dari 2022 ke 2023 ini terjadi penurunan impor udang dunia. Penurunan ini, terangnya, merupakan dampak dari kondisi ekonomi global yang menurun pasca Covid.

 

Penurunan ini pun diakui Anggota Komisi III Shrimp Club Indonesia (SCI), Denny Leonardo. Ia pun menyebutkan penyebab lainnya, yaitu dua konsumen terbesar dunia - Amerika Serikat (AS) dan China, sedang turun permintaannya. Denny menerangkan, AS sedang berada di resesi post Covid, sedangkan China akibat Covid policy lockdown. Kedua situasi itu memberikan dampak sangat parah terhadap ekonomi dunia.

 

“Turunnya impor, juga adalah dampak meningkatnya produksi udang dunia. Terutama Ekuador dan AS yang sedang gencar-gencarnya meningkatkan tim produksinya,” ujar Denny.

 

Udang Indonesia di Dunia

Dalam kancah persaingan global ini, bagaimana laju udang Indonesia? Erwin menyampaikan, pada 2021 total nilai ekspor udang Indonesia adalah USD 2,23 miliar dalam bentuk beku 68,98% (USD 1,54 miliar), olahan 29,04% (USD 647,23 juta), hidup-segar-dingin 1,98% (USD 44,23 juta). Dan pada 2022 total nilai ekspor udang adalah USD 2,16 miliar dalam bentuk beku 67,67% (USD 1,46 miliar), olahan 30,04% (USD 648,05 juta), hidup-segar-dingin 2,29% (USD 49,30 juta)

 

Hasanuddin Atjo,Praktisi Perudangan Sulawesi Tengah kemudian penurunan pasar ekspor Indonesia, terutama karena pengaruh pasar AS. “Kini AS sedang menghadapi resesi, sehingga daya belinya menurun,” timpalnya.

 

Alurnya, timpal Budhi Wibowo, Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I),daya beli AS menurun, selanjutnya harga beli AS ke eksportir turun. “Ujungnya ya harga beli ekportir ke petambak pun ikut turun. Harga tersebut selalu mengikuti harga internasional,” papar Budhi.

 

 Makanya, sebut Budhi, kondisi udang Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Karena, walau ekspor Indonesia dari 2018-2021 naik, tapi setelahnya malah condong menurun.

 

“Di 2021 nilai total pasar udang dunia yang berjumlah sekitar 27 miliar USD, ekspor udang Indonesia menyumbangkan 2,3 miliar USD di dalamnya. Atau mengisi sekitar 8 % dari total pasar udang dunia. Sayangnya, di 2022 terjadi perubahan, yaitu tren menurun,”ungkap Budhi. Bahkan dia memprediksi 2023 ini turun juga.

 

Harga Internasional vs Suplai

Budhi lantas menganalisis kondisi penurunan jumlah ekspor ini. “Apabila sudah terjadi penurunan jumlah ekspor, menurut saya ini sudah mengkhawatirkan. Berarti kondisinya saat ini suplai menurun,” jelas Budhi.

 

Kenapa suplainya turun? “Jawabannya bisa kita dapatkan salah satunya dari data yang dimuat diberbagai laman. Di laman-laman tersebut ada berbagai informasi yang dimuat, termasuk terkait angka survival rate (SR) udang Indonesia,” sambungnya cepat.

 

Dalam laman tersebut, kata Budhi, tampak SR udang nasional dari tahun ke tahun semakin menurun. Ketika SR turun, otomatis FCR akan tinggi. “Dampak dari semuanya adalah Harga Pokok Produksi (HPP) pun menjadi tinggi. Itu menyebabkan udang Indonesia ini semakin tidak kompetitif,” papar Budhi.

 

Dengan gambaran kondisi udang Indonesia di pasar ekspor Budhi pun menyimpulkan kesulitan eksportir. “Pertama, karena jumlah suplai menurun. Kedua, harga udang Indonesia mahal. Sehingga udang Indonesia sulit untuk bersaing dengan negara lain, seperti Ekuador,” keluh Budhi.

 

Penyebab HPP tinggi juga ditimpali Hasanuddin Atjo,Praktisi Perudangan Sulawesi Tengah. Salah satunya, Indonesia masih ketergantungan induk dari Hawaii-Amerika Serikat yang memiliki jarak jauh sekali. Sementara teknis budidaya Indonesia belum berbasis klaster untuk antisipasi pengeluaran biaya pada ongkos induk ini.

 

“Input produksinya di Jawa seperti pabrik pakan dan sebagainya, demikian juga pemasarannya. Sementara sentra produksinya berada di luar Jawa. Alhasil cost logistic untuk pengangkutan jadi mahal. Ongkos produksi dapat ditekan dengan menerapkan berbasis klaster,” himbau Atjo.

 

Makanya Atjo menambahkan, sudah banyak yang mengetahui perihal harga udang di tambak Indonesia dibandingkan Ekuador dan beberapa negara lainnya. “Udang Indonesia 0,7 USD lebih mahal dari Ekuador dan 0,2 USD dari India,” tukasnya.

 

Di sisi lain, imbas ekspor justru berpengaruh ke suplai. Menurutnya, pasar mempengaruhi minat orang pelihara udang. Sekitar 70 % dari total produksi udang nasional dipasarkan ke AS.

 

Faktor Menurunnya Produksi

Suplai menurun karena harga juga disoroti Denny. Ia beranggapan, suplai turun karena harga jual udang menurun. “Kira-kira penurunannya dari 350 ribu ton kini hanya menjadi 250 ribu ton. Faktor terbesar yang menyebabkan produksi udang Indonesia menurun adalah harga jual udang. Dua tahun terakhir ini, tepatnya setelah Covid hingga sekarang, harga udang benar-benar hancur,” sahut Denny geram.

 

Ia melihat, udang dijual ke luar negeri size 40 Rp 65 ribu. “Normalnya, size 30-40 itu harganya sudah mencapai Rp 80 ribu. Selisihnya lumayan bukan? Riilnya harga di pasar lokal lebih bagus sebab suplai  chain lebih pendek,” tutur Denny.

 

Kalau dikulik lebih dalam, sambung Denny, investor dan pemerintahan juga berperan dalam menurunnya jumlah produksi udang di Indonesia. Di sektor perikanan, ujarnya, satu tahun terakhir investasi hanya masuk senilai Rp 500 miliar. Seharusnya nilainya itu diatas Rp 1,2 triliun. "Pemerintah dirasa kurang memfasilitasi investor untuk masuk ke Indonesia. Perizinannya itu loh berbelit-belit,” gusarnya.

 

Di sisi teknis, Atjo juga menyoroti faktor di tambak sebagai penyebab menurunnya jumlah produksi nasional. Ia katakan, penyebab salah satunya turunnya produksi udang Indonesia adalah penyakit.

 

Penyakit juga diperparah oleh iklim yang tidak bersahabat yakni el nino. Sehingga kadar garam relatif tinggi sehingga ekosistem terganggu. Penurunan itu, sambungnya, dapat dilihat dari dari jumlah pakan udang yang dikonsumsi dan benur yang beredar.

 

Tulisan ini sudah ditulis kembali di majalah TROBOS Aqua edisi 139/ 15 Desember - 14 Januari 2024. pada rubrik Inti Aqua

 
Aqua Update + Headline Aquanews + Cetak Update +

Artikel Lain