Saatnya Garap Pasar Udang Domestik, Ayo Indonesia Makan Udang!

Perlu gerakan dan strategi bersama dari para pemangku kepentingan perudangan nasional untuk mendorong kampanye makan udang bagi masyarakat Indonesia

 

Besarnya ketergantungan ekspor udang Indonesia ke pasar Amerika Serikat (AS) kian memberikan tekanan terhadap melemahnya harga udang sepanjang tahun 2023. Hal ini terungkap dalam acara Rakernas dan Seminar Shrimp Club Indonesia(12-13.12) lalu di Bali. JALA sebagai salah satu sponsor acara tersebut ikut memberikan pandangan terkait gejolak pasar udang yang terjadi akhir-akhir ini.

 

Dalam sesi talkshow, Hanry Ario Prestianto, VP of Trade JALA yang hadir sebagai salah satu narasumber memaparkan bahwa Indonesia sudah lama menjadi top 5 eksportir udang di dunia. Data dari 2017 - 2022 posisi Indonesia berada di peringkat keempat. Dimana posisi pertama Ekuador, kedua itu India, dan ketiga adalah Vietnam. Ekspor udang Ekuador sampai 2022 sudah tembus di 1 juta ton/tahun.

 

“Sementara ekspor udang Indonesia tergolong stagnan walaupun bertumbuh tetapi tidak signifikan” ungkap Hanry. Lebih lanjut ia menjelaskan, udang yang diproduksi Indonesia sekitar 70% nya diekspor ke US. Sisanya ekspor ke Jepang, Eropa, dan Belanda. Kalau kita lihat dalam produk value added (bernilai tambah, olahan) sekitar 77%. Kalau melihat pasar udang global, ucap Hanry, daftar negara pengimpor udang 5 terbesar antara lain AS, Jepang, China, dan Vietnam. “Daya serap pasar udang AS dalam beberapa tahun terakhir cenderung stagnan. Kondisi ini membuat harga udang di pasar AS goyang atau oleng” paparnya.

 

Di sisi lain produsen udang yang masuk ke pasar AS angkanya perlahan bertambah, kondisi ini jelas berpengaruh pada penurunan harga yang saat ini dikalkulasi turun hingga 40% untuk udang size besar (20-40 ekor per kg). Di pasar AS, udang asal Indonesia menjadi opsi kedua setelah udang dari Ekuador dan India. “Per hari ini yang saya dapatkan dari temen-temen penelitian dan data yang kami kumpulkan dari 2021, harga udang yang stabil adalah udang size kecil ke medium (100-50 ekor per kg) karena daya serapnya yang cukup tinggi di market lokal dan global. Itulah demand dari luar yang sampai saat ini masih ada” kata Hanry.

 

Pasar Domestik

Gejolak harga udang di pasar global tersebut, menuntut para pelaku bisnis perudangan nasional untuk bergerak mencari solusi. Salah satu peluang pasar yang belum digarap secara optimal adalah pasar domestik atau dalam negeri. Menurut Hanry, Indonesia punya jumlah penduduk sangat besar dan faktanya konsumsi makan produk perikanan khususnya udang masih sangat kecil.

 

Beber Hanry, di masyarakat masih ada stigma bahwa udang merupakan produk mahal dan bisa menimbulkan alergi. Terkait stigma ini perlu ada gerakan kampanye nasional untuk mengedukasi masyarakat manfaat makan udang yang segar berkualitas sehingga tidak menimbulkan alergi. “Dari pelaku eksportir atau industri pengolahan udang juga perlu mendorong sosialisasi penyebaran informasi terhadap ragam produk olahan udang yang siap saji dan siap makan.

 

Dia menguraikan, apa yang dihadapi Indonesia sekarang, pernah terjadi di Brazil pada tahun 2004. Waktu itu konsumsi udang per kapita mereka hanya 0,2 kg/ kapita/tahun. Yang awalnya 20 % serapan lokalnya, 80 % itu ekspor. Kala itu udang ekspor mereka kalah bersaing dengan udang dari negara lain, akhirnya para pelaku perudangan di Brazil menerapkan sejumlah program kampanye termasuk menghadirkan outlet-outlet mini untuk mempermudah masyarakat mengakses produk udang siap makan.

 

Dia menyebut, dari berbagai upaya yang dilakukan secara konsisten tersebut perlahan mereka bisa mengkonversi pasar udang dalam negeri, akhirnya pada 2014 mereka sudah tidak tergantung lagi pasar ekspor karena udang hasil produksi dalam negerinya sudah habis terserap pasar domestik dengan harga yang cenderung lebih baik dari harga ekspor. Konsumsi per kapita udang di Brazil berhasil naik menjadi 0,8 kg/kapita/tahun.

 

“Harapan untuk kedepannya, Indonesia dapat belajar dari kasus Brazil supaya konsumsi udang di masyarakat Indonesia bisa naik, sehingga tidak perlu lagi tergantung pasar ekspor. Dengan demikian gejolak harga udang global kita tidak terpengaruh” ujar Hanry. TROBOS/Adv

 

 
Aqua Update + Advertorial Aqua + Cetak Update +

Artikel Lain