Multistep, Solusi Budidaya Udang Berkelanjutan

Multistep, Solusi Budidaya Udang Berkelanjutan

Foto: Dok. Syafnijal Datuk/Lampung


Budidaya multistep berbasis nursery menjadi salah satu solusi bagi berbagai persoalan budidaya udang di tanah air

 

Sebagaimana dijalankan Ekuador, multistep membuat negara Amerika Latin tersebut menjadi negara produsen udang terbesar di dunia. Apalagi di tengah kondisi harga udang anjlok maka diperlukan strategi jitu agar budidaya tetap berlanjut (sustainable).

 

Hasanuddin Atjo, praktisi perudangan Sulawesi, menguraikan strategi yang dijalankan negara kompetitor mengatasi penyakit. “Sebenarnya Ekuador, Vietnam, India, dan Thailand juga mengalami serangan penyakit. Tetapi mereka lebih cepat pulih, makanya perlu kita pelajari skenario yang mereka jalankan,” ia menyarankan.

 

Ekuador, ungkapnya, dengan garis pantai 2.237 km, produksinya pada 2022 bisa mencapai 1,150 juta ton udang vannamei. Tiongkok dengan garis pantai 14.500 km memproduksi udang 950 ribu ton. India dengan garis pantai 8.700 km memproduksi udang 700 ribu ton/tahun dan Vietnam dengan garis pantai 3.200 km produksi udangnya 700 ribu ton.

 

“Sementara Indonesia dengan garis pantai 99.083 km stagnan memproduksi udang 500 ton. Ini tantangan bagi semua pemangku kepentingan di tanah air. Sebab dengan garis pantai terpanjang tetapi produksinya kalah dari negara yang garis pantainya lebih pendek,” tuturnya dalam seminar peningkatan kualitas budidaya udang berkelanjutan melalui pendekatan sistem, nutrisi dan bisnis yang digelar PT Gold Coin Specialities, Adisseo, Bahtera Adijaya dan FKPA di Hotel Golden Tulip Springhill, Bandarlampung-Lampung baru-baru ini.

 

Disebutkannya, Ekuador juga mengalami serangan penyakit, seperti Taura Syndrome, WSSV dan lain-lain. Tapi mereka bisa mengatasi penyakit, dengan melakukan sejumlah strategi, di antaranya pengembangan genetik, seperti fast growth, balance dan seterusnya dari 2000-an hingga 2010. Kedua, sistem multistep budidaya dengan nursery dan grow out (pembesaran). Ketiga, pengembangan pakan fungsional. Artinya dalam pakan tersebut sudah mengandung imunostimulan. Kemudian pemantauan penyakit, perbaikan kualitas air dan penggunaan automatic feeder.

 

“Dengan multi strategi tersebut, Ekuador mampu memproduksi udang di atas satu juta ton per tahun. Padahal teknologi budidayanya antara tradisional dan semi intensif, jauh di bawah teknologi budidaya yang dijalankan petambak udang di Indonesia,” Atjo memberi gambaran.

 

Terkait perbaikan genetik, Artjo menjelaskan, terdapat tiga tahap sebelum sampai ke nursery. Pertama, nucleus breeding center (NBC) atau tempat perbaikan genetik yang terdapat di Florida, Hawai, Kona-Amerika Serikat, dan Ekuador. Adapun perusahaannya di antaranya: SIS, Kona, Benchmark, API, SPD, Syaqua, Geniqua dan OI Hawai.

 

Lalu breeding multiplication center (BMC) atau tempat perbanyakan anakan yang dihasilkan NBC. Perusahaan BMC di Asia, ada di India, Thailand, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Indonesia. Umumnya di Indonesia, benur dari hatchery ke kolam pembesaran.

 

Untuk perbaikan genetik, terdapat dua line yang umum digunakan, yakni fast growth dan balance. Umumnya di Indonesia yang banyak ditebar adalah line balance. Fast growth tumbuh lebih cepat tetapi daya adaptasi agak lemah. Sementara line balance, baik pertumbuhan maupun adaptasi adalah moderat alias seimbang.

 

“Syarat dan kebutuhan masing-masing line genetik ini berbeda. Fast growth menuntut mutu air baku, infrastruktur dan protein pakan lebih tinggi. Sementara balance menuntut mutu air baku, infrastruktur dan protein pakan moderat. Jika mutu air baku dan infrastruktur kolam yang dimiliki baik maka silakan menebar benur fast growth, tetapi jika tidak maka gunakan line balance,” Ketua SCI Sulsel itu menyarankan.

 

Dua Tahap

Diakui Atjo, sebetulnya konsep budidaya dua tahap ini sudah diperkenalkan di Indonesia sejak 2014 lalu dengan adanya nursery, namun perkembangannya lambat. Pasalnya terdapat persepsi yang keliru tentang nursery. Di antaranya, para petambak pernah mencoba, namun kurang sukses. Lalu ada pula petambak yang memandangnya ribet, selevel di bawah hatchery. Kemudian ada pula yang menganggap berbiaya mahal dan menambah biaya produksi. Termasuk pengalamanone step (tebar langsung) tetap bisa panen.

 

“Mengapa nursery penting dan strategis?,” tanya Atjo. Lalu dijawabnya sendiri, post larvae 8-10 masih termasuk kategori kritis dan sensitif karena kelengkapan anggota tubuh belum sempurna. Pada fase awal pembelahan sel lambat (kurva pertumbuhan sigmoid) sehingga tidak diperlukan ruang yang luas. Sampai dengan P/L 30-40 adalah ‘the golden age’ (usia emas) yang membutuhkan nutrisi dan lingkungan yang lebih berkualitas.

 

“Jadi benih yang kuat, sehat dan relatif rata tidak blantik lebih menjamin sukses budidaya. Oleh karena itu diharapkan ke depan sistem dua tahap menjadi salah satu SOP dalam budidaya udang di tanah air,” Atjo berharap.

 

Sebab, Atjo menyebut, terdapat dua landasan akademis siklus hidup dan kurva pertumbuhan udang. Dari sisi imun dan kesehatan udang bahwa dalam live cycle, post larvaeke juvenil, berada pada area estuaria. Area ini kaya jumlah maupun variasi makanan.

 

Selain itu, jumlah komunitas dan populasi tinggi. Lalu udang tidak mengenal antibodi (immunitas), sehingga rentan terhadap serangan penyakit. Selain itu volume darah udang sekitar 20% dari bobot. Peningkatan imunitas hanya melalui perbaikan nutrisi, antara lain (kadar glikogen, asam lemak seperti omega 3), pemberian imunostimulan seperti beta glucan.

 

Sementara dari aspek pertumbuhan, pembelahan sel sangat lambat pada fase 1. Selama fase 1 ini tidak perlu ruang yang luas tetapi nutrisi dan lingkungan harus lebih prima. Lalu pada fase 2, pembelahan sel meningkat tajam sehingga perlu ruang lebih luas, pakan lebih sering dan lingkungan juga prima. Kemudian pada fase 3, energi dari pakan mulai diarahkan ke arah pematangan reproduksi dan maintenance, sehingga laju pertumbuhan berkurang.

 

Lalu landasan akademik berikutnya adalah bahwa hatchery merupakan nursery ‘the golden age’. Untuk itu pilih benur dari hatchery yang telah menerapkan ‘the golden age stage’. Yakni tahap maturasi 45-60 hari; larva rearing 8-20 hari; nursery 25-30 hari yang merupakan fase lower growth; grow out 50-60 hari merupakan fase faster growth. Pada tahap maturasi hingga nursery merupakan titik kritis, sementara pada tahap grow out merupakan opportunity point.

 

Kedua, line genetik benur harus diketahui dan proses nursery dilakukan di indoor agar lingkungan terkontrol. Selanjutnya penting menjalankan asupan nutrisi, vitamin dan mineral, serta kesesuaian parameter lingkungan. Kemudian konstruksi,  kualitas lingkungan dan manajemen pakan menentukan opportunity point.

 

Disebutkan narasumber, terdapat sejumlah point penting infrastruktur dan proses nursery. Konstruksi nursery bisa berupa beton, HDPE dan fiber, namun harus terpisah dari petakan pembesaran. Disarankan nursery dijalankan dalam ruang tertutup (indoor). 

 

Line genetik benur harus diketahui. Pastikan pihak hatchery melakukan seleksi nauplius. Kualitas air dan biosekuriti dijamin lebih baik dan konsisten. Jalankan densitas dan feeding program yang tepat. Dan metode transfer harus memperhatikan prinsip minimalisasi stres.

 

Untuk densitas disarankan 5 -10 ekor/liter dengan lama nursery dua minggu dan outputnya 200 – 250 mg/ekor juvenil. Jika nursery selama 4 minggu maka densitas 2 – 5 ekor/liter dan output-nya 600 – 1.000 mg/ekor juvenil.

 

Adapun jenis pakan yang digunakan yakni artemia, selama 4 hari dengan dosis 1 kaleng (454 gr)/ 1 juta ekor. Biomassa artemia pada hari ke 11 – 15. Selanjutnya pakan buatan (protein 60 – 40%). Dosis pakan buatan sebanyak 3 – 6 ppm (4 minggu pertama), setelah itu menyesuaikan 12  - 8% dari perkiraan biomass. Lalu jaga stabilitas air dengan ketat.

 

Untuk frekuensi pemberian pakan, yakni hari 1 – 4 berupa artemia, 4 kali sehari dan pakan buatan 4 kali sehari. Selanjutnya hari ke 5 dan seterusnya, tanpa artemia, semuanya pakan buatan 8 kali sehari.

 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 139/ 15 Desember - 14 Januari 2024

 
Aqua Update + Primadona + Cetak Update +

Artikel Lain