Berbenah Biar Produksi Udang Meningkat

Berbenah Biar Produksi Udang Meningkat

Foto: Dok. Istimewa


 

Makassar (TROBOSAQUA). Coco Kokarkin S, Sekretaris Jenderal Forum Udang Indonesia memaparkan, sebuah grafik menjelaskan tentang angka produksi Udang di Indonesia. “Dalam limatahun terakhir tidak ada kenaikan bahkan diprediksi di tahun ini (2023) akan mengalami penurunan kembali terutama produksi udang yang untuk ekspor,” terangnya dalam seminar Bappenas RI bertemakan ‘Seminar Nasional dan Shrimp Action Forum 2023,Revitalisasi Tambak Rakyat Tradisional’ pada (9/11).

 

Sebagai salah satu narasumber di acara ini, Coco membandingkan dengan pencapaian dari negara lain. “Sebut saja Ekuador, setiap tahun selalu mengalami peningkatan bahkan diprediksi tahun ini akan kembali mengalami peningkatan” terang Coco.

 

Apa yang membuat Ekuadorbisa meningkatkan produksi hasil udang mereka, Coco memberikan pendapatnya. “Yang pertama,mereka selalu mempertahankan konsistensi. Mereka tidak mau adanya gangguan penyakit, gangguan air, dan gangguan lainnya,” jelasnya yang membawakan presentasi mengenai ‘Afirmasi Dukungan Inovasi dan Management untuk Perbaikan Produktivitas Tambak Rakyat’.

 

Selain itu, Ekuador bukan mencari benih udang yang fast growth akan tetapi mencari benih udang yang kebal terhadap penyakit. “Ngapain kalau fast growth tapi tidak kebal terhadap penyakit? Dan disamping Ekuador, negara tetangganya yaitu Venezuela juga sudah mampu menghasilkan produksi udang 100 ribu ton dari tambak tradisional, apakah kita (Indonesia) bisa? Harus bisa,” tegasnya.

 

Berbicara mengenai penyakit udang di Indonesia, Coco juga memberikan argumentasinya. Menurutnya, kelemahan atau kekurangan dari laboratorium yang ada di Indonesia adalah kurangnya surveilans dan lemahnya kit PCR yang dipakai dalam mendeteksi patogen saat masih sedikit.

 

“Kalau kita men-screening penyakit, seringkali lolos atau negatif, kenapa? Karena hampir semua lab yang ada di indonesia menggunakan kit PCR yang kalau hanya 100 copies virus baru ketemu. Kalau hanya ada 1 atau 2,  tidak terdeteksi, maka lengkapilah lab Indonesia dengan kit PCR yang memadai,” harapnya.

 

Setelah itu Coco menunjukan kondisi komoditas udang yang sedang tidak baik-baik saja. “Ini hasil kerja kita selama ini, kalau kita lihat SR kita masih kurang dari 60%. Tapi coba kita lihat FCR kita makin hari, makin tahun makin meningkat itu tandanya kita semakin boros dari urusan pakan,” terangnya.

 

Selain itu, di Indonesia tidak ada penyakit yang ditemukan dalam satu udang itu hanya satu penyakit.  Malah bisa 2 atau tiga penyakit.

 

“Terutama untuk EHP, ini sudah ditemukan di Sulawesi dan juga di Bangka. Dan juga sudah mulai ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. EHP ini adalah penyakit yang menghancurkan industri di Thailand,” dia memperingatkan.boy/edt

 

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain