Budidaya Bandeng, Perlu Transformasi

Budidaya Bandeng, Perlu Transformasi

Foto: Dok. TROBOS


Produksi bandeng perlu transformasi konseptual dan teknis / operasi budidaya.

Secara konsep, pembudidaya perlu dibimbing menentukan arah budidayanya, untuk memenuhi pasar lokal atau pasar ekspor. Secara teknis, perlu dibiasakan untuk melakukan grading dalam bingkai budidaya tersegmen untuk mengatasi budidaya yang lambat dan hasil panen dengan keseragaman ukuran yang rendah.

 

Ketua Asosiasi Pelaku Usaha Bandeng Indonesia (Aspubi), Mumfaizin Faiz  menyatakan, sentra produksi bandeng nasional ada di pantai utara (Pantura) Jawa – mulai dari Serang hingga Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pola budidaya bandeng di pantura Jawa masih tradisional, seperti yang lain, namun mulai banyak yang memberikan pakan buatan pada akhir periode budidaya.

 

Sumber pasokan bandeng yang dia ekspor justru dari Tarakan-Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Makassar-Sulawesi Selatan. Panen melimpah namun serapan lokal masih rendah karena belum sebanding dengan jumlah penduduk. Produksi bandeng juga sudah muncul di Sambas, meskipun belum banyak.

 

Usamah Umar, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pembudidaya Perikanan Buleleng (P4B)-Bali  menyatakan, menurut logika seharusnya bandeng mudah berkembang di mana saja. Karena ikan ini bersifat eurihalin, toleran dengan salinitas dari sangat rendah sampai tinggi. “Hampir tidak ada tempat yang tidak bisa dipakai untuk budidaya bandeng,” dia menegaskan.

 

Biaya Produksi

Usamah Umar menuturkan, biaya produksi benih pada unit pembenihan yang sudah berjalan sangat rendah pula, sekitar Rp 5 per ekor nener, tergantung dari harga telur. Kalau harga telur Rp 2, maka harga pokok nener Rp 7. Belum dihitung harga packaging dan ongkos kirim.

 

“Kalau mau memulai usaha pembenihan bandeng, biaya setup lokasi mulai dari penumbuhan plankton, bak-bak, pompa, di luar harga tanah investasinya sekitar Rp 600 jutaan. Ini pembenihan yang tanpa induk,” ungkap dia. Jika ingin mendirikan pembenihan memakai induk sendiri, dia memberi saran, lebih baik mengambil alih pembenihan udang atau ikan yang lain untuk dijadikan pembenihan bandeng. Agar biayanya tak terlalu besar.

 

Faiz menegaskan menjelaskan biaya produksi / budidaya bandeng itu tidaklah besar karena mengandalkan pakan alami. Tetapi di Kalimantan cost logistik dan transportasi dari tambak di pulau-pulau kecil menuju pasar / pengolahan yang sangat besar, mencapai Rp 2 ribuan per kg bandeng. Biaya bahan bakar perahu saja habis Rp 1 jutaan.

 

“Biaya budidaya nyaris hanya benih saja, tanpa pakan. Petambak mengusahakan antara 10 ha-15 ha. Harga bandeng sangat murah di sana,” ujarnya dalam Aquabinar #21 “Kiat Memacu Si Ikan Susu” yang digelar oleh TComm dan TROBOS Aqua (15/11) melalui kanal Youtube AgristreamTV.

 

Benih Melimpah

Usamah Umar memastikan, jika budidaya pembesaran bandeng digenjot, tidak akan kesulitan mendapatkan pasokan nener. Musim kemarau berkepanjangan tidak menyebabkan masalah pada induk.

 

Tapi ada penurunan kepadatan rotifer. Rotifer adalah zooplankton yang paling umum digunakan sebagai pakan alami bagi larva ikan laut pada tahap paling awal pertumbuhan. Namun, populasi rotifer dapat didongkrak dengan bantuan probiotik.

 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 138/ 15 November -14 Desember 2023

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain