Selasa, 1 Nopember 2022

Tantangan Memenuhi Standar Fillet Patin

Tantangan Memenuhi Standar Fillet Patin

Foto: 


Permintaan produk fillet patin terus tumbuh, tapi tantangan budidaya kian berat. Perlu dukungan dan pendampungan bagi pembudidaya patin
 
Pada penghujung masa pandemi Covid-19 ini, hampir semua bidang usaha kembali mulai berbenah dan bangkit tak terkecuali usaha budidaya perikanan. Khususnya usaha budidaya ikan patin di Indonesia yang juga ikut terimbas kondisi pandemi. Terutama dari sisi daya serap pasar baik dalam maupun luar negeri sempat turun drastis pada tahun 2020. Tak ayal harga jual patin di level pembudidaya pun tertekan.   
 
Seperti diceritakan olen Pembudidaya Patin asal warga  Desa Lugusari, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, Sirkam Efendi. Sirkam yang sudah mulai budidaya patin sejak 2015 mengaku, selama dan sampai penghujung masa pandemi ini usaha budidaya patinnya mengalami penurunan.
 
Sirkam sempat bisa memproduksi patin dari 20 ton sampai 30 ton per bulan. Jumlah tesebut dihasilkan dari kolam budidaya keseluruhan mencapai 5 ha dengan total 50 kolam dan 2 ha di antaranya milik sendiri yang tersebar di 10 lokasi. Namun, karena selisih harga jual dengan biaya produksi tipis maka kini hanya 8 kolam yang masih ditebar benih ikan patin, sisanya ditebar benih ikan nila. 
 
Menurutnya, harga jual nila sedikit lebih tinggi dibandingkan patin. Harga jual nila dari kolam Rp 19.500 - Rp 20.000/kg, sementara patin untuk fillet Rp 16.5000/kg dan untuk konsumsi lokal Rp 15.000 - Rp 15.500/kg. “Saya terpaksa mengurangi produksi budidaya patin agar usaha ini tetap berputar,” ungkap pria 51 tahun ini kepada TROBOS Aqua baru-baru ini di farm budidayanya.  
 
Standar Fillet
Selama ini, lanjut Sirkam, pasar utama patin produksinya adalah ke pabrik pengolahan untuk produk fillet (daging tanpa tulang). Ia menjelaskan, patin produksi Sirkam beserta mitranya dijual ke coldstorage (pabrik pengolahan) di Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, Karawang, dan Purwakarta. Harga jual ke coldstorage di Lampung Rp 16.500 ribu/kg dan jika dikirim ke Karawang dan Cirebon harganya Rp 17 ribu/kg. Sayangnya belakangan sejak coldstorage di Purwakarta tidak menampung patin maka saat ini umumnya dijual ke coldstorage di Tanjung Bintang.
 
Lebih jauh Sirkam menjelaskan, untuk ukuran patin yang ditampung coldstorage ketat yakni hanya 0,7 ons hingga 1,1 kg/ekor. Jika beratnya kurang atau lebih harganya dikurangi sehingga merugikan penjual. “Dulu untuk kelebihan berat ikan dari 1,1 kg ekor ada toleransi dan dihargai sama, kecuali jika lebih kecil baru dihargai lebih murah. Tetapi sekarang aturan lebih ketat, baik yang kurang berat atau yang kelebihan berat sama-sama dihargai murah,” ungkap Sirkam. 
 
Lalu untuk kualitas daging, tambahnya, tidak berasa tanah, dan warna dagingnya putih. Menurtnya, untuk memproduksi kualitas daging demikian maka dari awal hingga panen harus menggunakan pakan pabrik sepenuhnya dan menjaga kualitas air kolam. 
 
Standar kualitas patin untuk produk fillet umumnya serupa untuk semua pabrik pengolahan, yang membedakan biasanya ukuran patin yang diminta. Seperti diinformasikan Hasman, Manajemen Representatif PT Expravet Nasuba (produsen fillet patin di Medan), pabriknya yang mulai produksi fillet patin pada 2014 ini menerima ukuran patin 200 gram - 300 gram per ekor dan 300 gram - 400 gram per ekor. Kualitas tekstur daging lembut, dengan warna daging putih (tidak kuning). 
 
“Jumlah bahan baku ikan patin yang masuk ke produksi pabrik kami saat ini 12 – 15 ton per hari. Saat ini kami membutuhkan bahan baku 16 ton ikan patin per hari atau 400 ton per bulan , dan masih bisa ditingkatkan menjadi 18 ton perhari atau 450 ton per bulan,” ungkap Hasman.
 
Rahmad Ashri Simanjuntak, Sales & Marketing Manager PT Expravet Nasuba ikut memberi informasi, untuk 2022 terjadi pertumbuhan permintaan fillet patin dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Target produksi kami di 2022 sebesar 400 ton bahan baku ikan patin per bulan, itu pun belum bisa memenuhi permintaan pasar domestik,” kata Rahmad. 
 
Menurut Rahmad, target pemasaran saat ini hanya pasar dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya, Batam, dan Pekan Baru. “Tapi tidak menutup kemungkinan penjajakan pasar ekspor akan dilakukan dalam waktu dekat ini karena peluangnya memang ada,” ujar Rahmad.
 
Cerita serupa juga diungkapkan Samiono Abdullah selaku Direktur CV Wahana Sejahtera Food (produsen fillet patin di Jombang-Jawa Timur). Menurut Samiono, untuk penerimaan bahan baku ikan patin pihaknya ambil dari pembudidaya yang sudah mempunyai sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik dan Benar (CBIB) dan di setiap pengiriman harus disertakan Surat Keterangan Asal Ikan (SKAI). 
 
Standar ukuran ikan patin, lanjutnya, yang diterima pada 700 gram - 1.300 gram per ekor. Syaratnya suhu ikan maxsimal 7°c, warna daging putih dengan tekstur kenyal dan tidak lembek, serta rasa tidak bau tanah. “Kapasitas produksi fillet patin kami baru 5,5 ton/hari. Target pasar kami retail, katering, dan lainnya masih di dalam negeri,” kata Samiono.
 
Samiono memberikan gambaran pergerakan suplai bahan baku patin selama masa pandemi hingga 2022 ini.  Pada waktu pandemi pihaknya sempat kesulitan mencari bahan baku ikan patin. Di awal 2022 sampai sekarang potensi ikan patin terutama di daerah Tulungagung sangat melimpah. 
 
Dijelaskan Erwin Dwiyana, Direktur Pemasaran Direktorat Jenderal Penguatan Daya saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), standar mutu fillet itu harus dimulai hulu. “Contoh kalau kita akan ekspor ke Arab Saudi, nanti ada visit dari pihak sana yang mulai dari budidayanya sampai nanti ke industrinya. Apa fillet atau frozen itu akan dilihat. karena namanya jaminan mutu dan keamanan pangan itu sistem dari hulu ke hilir,” ujarnya.
 
Makanya, ungkap Erwin, penerapan standar kepada pelaku pembudidaya dilakukan melalui sosialisasi dan diseminasi hasil-hasil penelitian dari UPT Pusat. Dimana pembudidaya harus menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB); untuk Unit Pengolah Ikan (UPI) tentunya harus memiliki Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) dan HACCP.Standar fillet  sendiri tertuang pada SNI 8606:2020 untuk fillet patin (Pangasius spp) beku.
 
Untuk standar prasyarat masuk fillet untuk dalam negeri hingga negara importir, aku Erwin, ada beberapa faktor yang menjadi prasyarat umum dengan merujuk dari hulu tadi. “Satu faktor itu adalah bau lumpur. Kalau ukuran sudah tepat sekitar 800 gram up, tapi bau lumpur pasti ditolak. Karena itu ada terkait dengan kualitas air yang berbeda antara satu kolam dengan kolam lainnya. Kemudian warna daging yang merujuk ikan dari Vietnam yang putih. Lalu, tidak ada residu antibiotik CHP 0,3 ppb (UE MRPL), CHP  0 ppb (US FDA), tertracycline; maupun pestisida organophosphat dan organochlorine,” ungkapnya.
 
Yang cukup jadi perhatian, imbuh Erwin, adalah dari sisi konsumen yang ingin adanya informasi pada kemasan terkait dengan ukuran/berat bersih dalam kemasan karena berkaitan dengan kadar air pada proses glazing. Walaupun Erwin mengakui, di pasaran global itu, kadar glazing itu sampai saat ini belum ada standar tetap. 
 
“Tapi dari sisi kita, pengennya lebih mengikis masyarakat untuk brand nya patin. Kita edukasi patin itu bukan dori dan kita perkenalkan lebih dengan gunakan nama patin atau pangasius,” beber Erwin. 
 
Mengejar Kualitas
Standar produk fillet patin yang ditetapkan oleh para pabrikan pengolahan tersebut, faktanya kian menjadi tantangan untuk dipenuhi. Seperti diungkapkan Sirkam, tantangan budidayanya adalah memproduksi patin berukutan 0,7 ons hingga 1,1 kg/ekor yang mayoritas seragam.  Kecuali jika melakukan sortir seperti pada lele, tetapi sulit untuk menyortir patin karena umumnya kolamnya besar-besar. “Akibatnya ketika dilakukan sortir saat panen maka jika ditemukan ikan yang beratnya tidak termasuk kategori standar terpaksa dijual ke pasar lokal sehingga harganya lebih murah,” ungkap Sirkam.
 
Lalu soal kualitas daging lebih mudah dipenuhi jika menggunakan pakan pabrik sepenuhnya dari awal budidaya. Namun persoalannya, kata Sirkam,  harga pakan pabrik yang terus naik, sementara harga jual ikan cenderung turun sehingga keuntungan pembudidaya makin tipis. 
 
Dari hitung-hitungan Sirkan, jika sepenuhnya menggunakan pakan pabrik dengan harga pakan sudah Rp 10 ribu/kg maka biaya produksi patin fillet berkisar antara Rp 14.500 - Rp 15 ribu/kg karena terjadi kenaikan harga pakan, BBM, dan saprodi lainnya menyebabkan biaya produksi dan operasional naik. Jadi margin keuntungan untuk patin fillet berkisar Rp 1.500 hingga Rp 2 ribu/kg. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 126/15 Oktober - 15 November 2022
 

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain