Sabtu, 15 Oktober 2022

Imza Hermawan: Optimisme Patin Ditengah Pesimisme Harga Pakan

Imza Hermawan: Optimisme Patin Ditengah Pesimisme Harga Pakan

Foto: 


Berbicara tentang fillet patin atau pangasius mengacu pada standar pasar. Kalau untuk ukuran fillet, normalnya adalah 7 ons sampai 1,2 kilogram (kg). Cuma, saat ini ada juga yang minta di bawah itu. Misal ukuran 5-6 ons juga ada sesuai permintaan pasar, juga ada yang fillet ikan di atas 1,2 kg, yakni di ukuran 1,5 kg. Ini sesuai permintaan pasar, tapi ini request-nya sedikit.
 
Kalau pasar tradisional, macam-macam ukuran yang diminta. Misalkan wilayah Kalimantan, minta ukurannya besar yang bisa mencapai 3 kg per ekor. Kalau di seputaran Jawa Timur, ukuran ikan yang diminta mirip dengan ukuran ikan patin fillet. Untuk panen patin, akan tergantung pula pada ukuran benih yang ditebar pembudidaya. Misalkan ada yang nanem 2 inci (1 inci=2,5 cm), ada pula 3 inci per ekornya. Karena kalau nanem-nya lebih kecil, akan lebih padat tebar ikan di kolamnya.
 
Di Pekanbaru-Riau misalnya, mulai tebar (nanem) itu di ukuran 1 kg isi 4-6 ekor. Karena, sudah ada yang membesarkan dari ukuran kecil sampai ukuran itu, dan nanti sebagian akan dipakai untuk asap, sebagian dipakai untuk tanem kembali menjadi ukuran konsumsi untuk bahan baku pabrik. Pemeliharaan dimulai dari 1 kg isi 4-6 ekor paling cuma membutuhkan waktu 2 bulan untuk mencapai ukuran panen pabrikan. Tapi, kalau budidaya dimulai dari ukuran benih kecil, butuh waktu sepenulisr 5-7 bulan untuk mencapai ukuran panen.
 
Standar Utama Keamanan Pangan
Yang penting untuk fillet itu, nomor satu nya adalah standar keamanan pangan. Request berikutnya adalah spesifikasi teknis berdasarkan pasar. Misalnya ada yang minta warna dan ukuran tertentu, tidak bau lumpur yang merupakan kriteria pasar. Kalau sudah memenuhi standar keamanan pangan, tidak ada masalah.
Di Indonesia, ada kriteria fillet di pasar bebas itu biasanya grade agak dibawah. Ada juga yang jualan di pasar premium dengan grade lebih tinggi. Untuk pasar luar negeri, yang diekspor itu biasanya adalah fillet dan ikan potongan sesuai permintaan pasar atau cuma dipotong kiri-kanan.
 
Dari sisi budidaya, ada Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) mulai dari pembenihan dimana standar tersebut mengacu kepada empat aspek utama. Yaitu; keamanan pangan, kesejahteraan dan kesehatan ikan, lingkungan, dan sosial ekonomi.
 
Aspek keamanan pangan sudah mulai ditekankan pada saat budidaya. Setelah itu ada spesifikasi teknis, seperti ukuran dan warna, yang mana spesifikasi dari pembeli.
 
Kemudian masuk ke processing plant, harus mematuhi aspek yang kriteria umumnya adalah aspek keamanan pangan untuk seluruh dunia. Jadi, harus tersertifikasi, seperti SKP (Sertifikat Kelayakan Pengolahan) dan HACCP (Hazard Analysis And Critical Control Points). Dengan demikian, aspek keamanan pangan juga terpenuhi. Juga bisa ada standar-standar tertentu di negara tujuan yang harus diikuti. 
 
Cuma, pada umumnya, aspek utama tetaplah keamanan pangan. Kemudian di negara Uni Eropa misalnya sangat peka dengan isu lingkungan. Karena kalau penulis melihara ikan memenuhi CBIB, kemudian diolah dengan pabrik yang berstandar, itu kriteria umum yang diperlukan di semua negara. 
 
Dari pendampingan yang dilakukan, pembudidaya diharapkan untuk memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) CBIB, kemudian nantinya diharapkan mereka juga memenuhi standar untuk diekspor.
 
Dari sisi program, contohnya dari instansi-instansi terkait sudah memberikan spek produktivitas. Maksudnya, tidak hanya untuk memenuhi standar keamanan pangan, tapi juga bagaimana caranya pembudidaya memproduksi ikan dengan memperoleh produktivitas yang lebih baik dari yang pernah dilakukan. Sehingga, otomatis pembudidaya senang karena bisa memperoleh keuntungan yang lebih.
 
Tantangan Produksi
Sementara itu, harga pakan terus naik, yang bisa sampai 7 kali sampai saat ini. Itu kan otomatis pembudidaya harus benar-benar bisa memproduksi ikan dengan standar produktivitas yang cukup baik, supaya memperoleh margin yang sesuai. Mengingat juga, kenaikan harga pakan tidak serta-merta diikuti kenaikan harga produksi. Itu persoalannya.
 
Sampai hari ini, ada kerjasama dengan perguruan tinggi untuk aplikasi penggunaan probiotik di lapangan. Dimana, dengan aplikasi probiotik di lapangan, pembudidaya lebih memperoleh efisiensi biaya dan produktivitas yang lebih baik di kolam.
 
 Selain pakan, tantangan yang dihadapi tentunya harga hasil produksi. Dimana harga produksi itu kan bertengger di angka segitu-segitu saja. Misalnya Rp 16 ribu per kg nya, sementara harga pakan naik, sehingga marginnya kan tergerus.
 
Oleh karena itu, sangat perlulah penulis ada inisiasi bagaimana agar bahan baku dari kolam jumlahnya bisa terserap. Yang nantinya, otomatis sesuai hukum supply-demand, harga bisa terkoreksi dengan baik. Walaupun penulis tidak menginginkan harga melonjak tinggi. Karena kalau harga melonjak sangat tinggi, pabrik untuk produksi fillet juga gak akan pernah bisa jalan.
 
Saat ini harga bahan baku tergantung wilayahnya, kisaran antara Rp 15,5 ribu - Rp 19 ribu per kg di kolam. Contoh di Tulungagung-Jawa Timur, harga di kisaran Rp 16 ribu per kg alias tidak naik, dengan harga pakan yang terus naik. Itu persoalannya.  
 
Kalau dilihat pengaturan harga pakan ini bisa dibilang karena pasar bebas, agak sulit untuk meminta produsen pakan dalam menurunkan harga. Karena di satu sisi, pabrikan mencari margin, juga mencari pasar. penulis mengharapkan bahwa pabrik juga tidak mencari terlalu banyak ‘ekstra margin’ gitu ya. Artinya harga pakan akan terkoreksi dengan banyaknya pabrik juga. Alasannya, harga pakan terus menanjak dikatakan karena harga bahan baku yang cukup tinggi.
 
Yang penulis harapkan di sisi lainnya, pembudidaya bisa lebih efisien dalam berproduksi. Misalnya dengan penggunaan probiotik atau aerator/blower untuk menambah oksigen. Atau juga menggunakan probiotik di pakan mungkin akan menambah keuntungan bagi pembudidaya. Dan hal ini sudah banyak dilakukan oleh pembudidaya, khususnya probiotik dan blower ini. Contohnya di blower ini di Tulungagung-Jawa Timur, Lampung Tengah-Lampung, sehingga pembudidaya bisa menaikkan produktivitas kolam. Misalnya awalnya cuma nanam 20 ekor per m2, bisa dinaikkan menjadi 40 ekor per m2.
 
Penerapan blower ini yang sebetulnya tahunan, pembudidaya mencoba bertahan dan mencari cara bagaimana membudidayakan ikan dengan lebih efisien. Sehingga, muncullah hal-hal baru untuk berbudidaya patin. Bahkan, pembudidaya juga menerapkan pakan alternatif dengan Azolla ataupun pakan mandiri yang digiling sendiri.
 
Namun, yang menjadi perhatian pula, terkait dengan kualitas bahan baku pakan yang digiling sendiri ini bisa berpengaruh pada kualitas daging yang dihasilkan nantinya. Sehingga, perhatian besar bagi pembudidaya yang menerapkan pakan mandiri, masih sulit untuk didefinisikan bahan baku paling cocok dan mendekati kualitas pakan pabrikan.
 
Sebenarnya, mungkin patin ini tidak terlalu menuntut bahan baku yang aneh-aneh. Cuma, yang nuntut hasilnya berkriteria tidak terlalu kuning, tidak bau lumpur kan begitu. Jadi, bahan baku akan menyesuaikan ke arah sana. Misalnya, menghindari penggunaan jagung, atau corn glutten meal, atau bungkil jagung karena jagung pasti menyebabkan daging patin warnanya kuning. Tapi kalau menggunakan bahan baku apapun, sebetulnya tidak apa-apa, baik ikan rucah, meat bone meal, dan sebagainya, asal tidak terlalu rendah proteinnya. Sehingga patin bisa tumbuh cukup baik.
 
Prospek Kedepan
Prediksi pembudidaya untuk maju ke standar ekspor, potensinya sangat besar. Contohnya, di beberapa daerah, pembudidaya sadar bahwa untuk memenuhi kriteria standar fillet itu apa saja. Jadi sebetulnya gampang bagi pembudidaya untuk meningkatkan standarnya. Mulai dari wilayah Jawa Timur, terutama yang kesadarannya cukup tinggi; Riau; Sumatera Utara. Dan bahkan di Sumatera Selatan terutama Ogan Komering Ulu (OKU) Timur itu banyak pembudidaya yang sudah sangat menyadari bahwa mereka memerlukan (panen ikan standar) fillet, ataupun bahkan diekspor.
 
Untuk pabrik yang menampung ikan untuk diolah menjadi bentuk fillet, sekarang menjadi lebih banyak. Perusahaan fillet tumbuh dengan baik, seperti di Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera. Semua pihak bahkan sekarang baru menata ulang, sebenarnya bagaimana mengendalikan pertumbuhan budidaya ini. Dari asosiasi, penulis mengevaluasi hal ini.
 
Kondisi pasar fillet patin saat ini meningkat dengan baik. Khususnya terkait konsumsi di masyarakat bisa dikatakan meningkat, terlebih selepas pandemi ini. Kemarin sempat turun pada waktu parah banget bisa sampai 50% berkurang permintaannya. Kemudian, perlahan pasar mulai naik, terlihat dari 2021 lalu dan sekarang cenderung pasar terlihat normal.
 
Sebagai kesimpulan, sebenarnya dari pelaku usaha belum punya gambaran dengan pasti terkait kondisi saat ini hingga 2023 mendatang. Artinya, tidak ada hal-hal yang menyebabkan pasar itu runtuh, tentu saja ini terlihat membaik. Cuma, penulis tetap waspada karena Covid-19 masih ada. Ditakutkan ada stop impor, khususnya fillet patin ini dari negara-negara importir. Makanya penulis waspada.
 
Pasar saat ini, selain Arab Saudi dan China, dimungkinkan pula pasar-pasar ke negara Asia lainnya. Walaupun sebenarnya karena Indonesia sendiri memiliki penduduk lebih dari 270 juta jiwa, pasar dalam negeri itu, juga luar biasa potensial. Tantangannya bisa dilihat untuk pasar dalam negeri, salah satunya adalah harga. Dimana, fillet patin ini harganya kadang terlihat kurang menarik bagi konsumen. Hal ini menjadi catatan kedepannya untuk menarik pasar dalam negeri.
 
 
 
Ketua Bidang Patin Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI)
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain