Sabtu, 15 Oktober 2022

Memajukan Budidaya dengan Lobster Air Tawar

Melewati satu dekade berbudidaya, Gemma Farm mengembangkan usahanya dengan berbagai diversifikasi manajemen usaha

Di Jawa Tengah, tepatnya Kabupaten Klaten, belum banyak terdengar pembudidaya yang mengembangkan komoditas lobster air tawar (LAT). Gemma Farm bahkan sudah melakukan budidaya lobster air tawar sejak 2010 lalu.


Saat bertukar pesan singkat melalui whatsapp, pemilik Gemma Farm, Gema Paku Bumi memberikan penjelasan mengenai usaha yang digelutinya selama 12 tahun terakhir ini. Yang mana saat ini, sudah sebanyak 40 kolam di luas lahan 600 meter persegi (m2) dikembangkan Gemma Farm untuk budidaya LAT.


Gema memaparkan, pada 2010 itu merupakan awal Gemma Farm melalui program PKM DIKTI yang sampai sekarang ini usaha tersebut masih berjalan. Dimana saat itu, pihaknya berharap nantinya masyarakat Indonesia bisa budidaya lobster.

Manajemen Budidaya RAS LAT
Di farm yang berlokasi di Becilen, Kajoran, Klaten Selatan, budidaya LAT dilakukan dengan sistem RAS (Recirculating Aquaculture System). Lebih lanjut mengenai sistem RAS yang dikembangkan, Gemma Farm menerapkan sistem budidaya yang dilakukan dengan menggunakan rangkaian teknologi pengelolaan air. Sehingga, airnya sesuai untuk pemeliharaan lobster dan memungkinkan untuk adanya pemanfaatan air secara terus menerus (resirkulasi air).


“Selain itu, kita menggunakan sistem budidaya semi intensif, yaitu peralihan dari sistem tradisional ke sistem intensif. Sistem ini dinilai cocok untuk budidaya karena dampaknya terhadap lingkungan relatif lebih kecil. Selain itu, sarana dan prasarana produksi dinilai jauh lebih murah dibandingkan sistem intensif,” urai Gema sembari bercerita  Gemma Farm berasal dari kata Gemma yang berarti tunas dan farm berarti pertanian. Dari kata tersebut nantinya ada harapan, yaitu akan menjadi tunas-tunas dalam bidang pertanian.


Lebih jauh, manajemen budidaya yang Gemma Farm terapkan melalui berbagai tahapan. Yaitu, tahap adaptasi; terdiri dari persiapan wadah (media yang di gunakan dibersihkan terlebih dahulu dengan air mengalir lalu dibilas); serta persiapan air (air yang digunakan tidak berbau, berasa, berwarna, dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, yang selanjutnya diaerasi terlebih dahulu)


“Tahap adaptasi bertujuan untuk mengetahui porsi makan, kebiasaan makannya dan meminimalkan tingkat stres. Selain itu, disarankan lobster perlu tempat yang minim cahaya. Maka, supaya cepat beradaptasi maka ditambah shelter (dapat berupa pipa paralon, genteng),” terang Gema.


Kemudian, lanjut ke tahap perkawinan. Dimana, di tahap ini, lobster dikawinkan secara alami. Yaitu, dengan menjadikan satu antara lobster jantan dan betina dengan perbandingan 1:1 . “Lobster yang aktif bisa dijadikan sebagai indukan. Dan tahap perkawinan dilakukan dalam waktu 1 bulan,” tambah Gema.


Setelah bertelur, induk jantan dan betina dipisah. Ia menyebut, lobster yang bertelur dimasukkan ke media khusus pengeraman telur. Induk akan mengerami telur hingga menetas dalam waktu 37-40 hari. Lepas dari indukan, kemudian anakan dipisah dari induknya karena takutnya anakan tersebut akan dimakan oleh induknya (sifat keibuaannya sudah hilang).


Lanjut ke tahap pembesaran, yang mana lobster diberikan pakan 2 kali sehari, pagi dan malam atau siang dan malam. Gema menerangkan, setelah 2 bulan, dilakukan penyortiran (diseragamkan) ukurannya untuk mengurangi kanibalisme. Masa panen 4-6 bulan dari masa pembesaran
“Pakan yang diberikan bisa berupa pakan hewani, nabati, atau biji-bijian. Pakan hewani berupa cacing tanah, ikan rucah, udang, keong, dan bekicot dipotong kecil-kecil. Sedangkan pakan nabati berupa kecambah, kentang, selada, bayam, wortel dengan direbus terlebih dahulu agar dapat terendam. Selain itu, bisa juga diberikan pakan biji-bijian seperti biji jagung, kedelai, kacang hijau, atau pelet tenggelam,” jelas Gema.

 

Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Aquab edisi 125/ 15 Oktober - 15 November 2022

 

 
Aqua Update + Andalan Air Tawar + Cetak Update +

Artikel Lain