Sabtu, 15 Oktober 2022

Pratita Budi Utami: One Day Fishing ala Nelayan Kalbar

Pratita Budi Utami: One Day Fishing ala Nelayan Kalbar

Foto: 


Adalah Jon, nelayan sekaligus pembuat sampan (perahu nelayan kecil) di Dusun Sungai Limau – Desa Batu Ampar, Kalimantan Barat (Kalbar). Saat dikunjungi di tempat tinggalnya, Jon mengaku sedang memproduksi sampan untuk keperluan pribadi. Kayunya menggunakan kayu jenis nyirih dan medang (umur penggunaan sekitar 3 tahun). Alat tangkap yang digunakan sudah dimiliki oleh Jon, sehingga ia tidak perlu membeli yang baru. 
 
Alat tangkap yang ia miliki adalah jala tebar, rawai, bubu lipat. Khusus untuk jala tebar target utamanya adalah udang, menggunakan lampu minyak dan campuran dedak, tanah serta terasi yang ditebar disekitar lampu minyak, sebagai atraktan. Jon memiliki 1 set jala tebar dengan 52 unit lampu minyak. 
Lampu minyak dibuat dari botol minuman bekas berbahan kaca, yang kemudian diberi minyak, dan sumbu. Untuk 1 set, Jon mengaku mengeluarkan modal hampir Rp 2 juta, kebutuhan yang paling tinggi untuk membeli badan jaring. 
Rangkaian badan jaring, pelampung, pemberat timah, maupun tali risnya sudah berasal dari penjual, sehingga Jon hanya tinggal memesan berapa kebutuhannya. Untuk panjang 10 meter (m), berkisar Rp 1,7 juta. Sedangankan Jon menggunakan jaring dengan panjang 6 m, seharga Rp 1,3 juta. 
 
Menangkap One Day Fishing
Jon merupakan nelayan one day fishing, dan ia tidak pernah melakukan penangkapan sampai dengan dua hari. Dalam satu minggu (7 hari), Jon hanya turun melaut 4 kali. Rumah Jon berada di muara sungai besar sehingga jarak fishing base ke fishing ground-nya sekitar satu jam atau sekitar 12 mil laut. 
 
 Untuk kebutuhan bahan bakar, Jon menggunakan pertalite karena bensin sudah tidak pernah ia temui di desa. Dalam kondisi normal (ketersediaan barang, ada) harga per liter Rp 11 ribu (per September 2022). Namun Jon juga bercerita bahwa pasti akan adakalanya pasokan barang sedikit, sehingga harga naik menjadi Rp 12 ribu sampai dengan Rp 13 ribu per liter. Namun Jon tidak mengetahui, sebab pasokan pertaliter berkurang di sekitaran desanya. 
 
Jadwal keberangkatan pun sangat bergantung pada kondisi cuaca, serta oseanografi. Oleh karena ini nelayan sangat paham siklus air pasang dan surut. “Jika air surut semakin cepat, maka keberangkatan satu trip penangkapanpun semakin awal (rata-rata sore dari jam 4 sampai dengan jam 5-an). Dan kembali ke rumah sekitar jam 4 sampai dengan jam 6 pagi,” terang Jon. 
 
Hasil jala tebar berupa udang, namun terkadang sesekali mendapat ikan kakap merah, kakap putih, toman dan lain sebagainya. Jon juga bercerita jika musim paceklik, tidak seekor ikan pun didapat dalam satu kali trip. Namun frekuensinya sangat jarang, misal dalam 8 kali Jon melakukan penangkapan satu kali mendapatkan hasil tangkapan yang sangat sedikit atau mendekati nol. 
 
“Jika sedang cuaca bagus dan rezeki sedang baik, dalam satu kali trip saya mampu menghasilkan ikan sebanyak 2 kilogram (kg), dan udang 6 kg,” tuturnya. Ketika Jon melakukan penangkapan saat musim udang, dalam satu trip ia pernah menghasilkan tangkapan sebanyak 25 kg (menurutnya ini seharga Rp 1,4 juta). 
 
Dari rumah Jon selalu membawa es, sehingga udang hasil tangkapannya langsung diberikan es didalam wadah. Waktu subuh ia gunakan untuk pulang ke rumah, di dalam rumah istrinya sudah siap untuk membantu untuk mensortir udang berdasarkan ukuran dan jenis. 
 
Proses ini memakan waktu 2jam, dan biasanya pada tahap ini es batu ditambahkan kembali. Setelah sortir selesai, udang tersebut langsung dibawa ke Pasar Batu Ampar. Jenis udang yang biasanya Jon dapat adalah wangkang, peci, dan galah. Udang wangkang grade A, menurutnya mencapai Rp 110 ribu per kg. 
 
Administrasi untuk Nelayan
Selain berkegiatan langsung di laut, Jon cukup sering terlibat kegiatan perikanan dari beberapa stakeholder terkait. Seperti kegiatan kampanye calon anggota dewan; penyuluhan terkait kepemilikan kartu nelayan, kartu kusuka, dan kartu asuransi nelayan; atau kegiatan akar rumput yang dilakukan rekan-rekan NGO (Non-Government  Organization). 
 
Meskipun begitu, KTP Jon ternyata masih bertuliskan swasta, sehingga ia tidak memiliki kartu nelayan. “Saya memiliki perspektif bahwa fungsi kartu-kartu tersebut tidak berguna bagi nelayan kecil. Karena ini hanya sebatas administrasi saja, dan belum tentu orang yang telah memiliki kelengkapan administrasi merupakan orang yang sehari-harinya bermata pencarian nelayan,” ungkapnya. 
 
Administrasi ini sudah tentu akan berpengaruh pada bantuan yang akan diperoleh dari pihak terkait. Sehingga Jon memiliki harapan, jika ada bantuan di lain waktu diharapkan jangan hanya menilai eseorang dari kelengkapan syarat administrasinya saja. Sehingga, bantuan tersebut tidak tepat pada sasaran. Harapan lainnya adalah jaringan yang lebih luas agar ia dapat memasarkan sampan buatannya lebih banyak, sehingga ia tidak khawatir untuk menjual sampannya.
 
 
*Pemerhati Perikanan Kalimantan Barat
 
 
 
 

 
Aqua Update + Gelombang + Cetak Update +

Artikel Lain