Sabtu, 15 Oktober 2022

Big Data untuk Monitoring Algal Blooming

Sains data menyediakan metode pengumpulan data berskala big data, analisis artificial intelligence (AI) untuk mengevaluasi fenomena alam, sehingga dipergunakan untuk membantu perikanan budidaya maupun perikanan tangkap. Salahsatunya untuk menganalisi kejadian algal blooming yang dapat mengganggu industri perikanan budidaya dan perikanan tangkap.
 
Budi Prawara, Kepala Organisasi Riset Elektronika dan Informatika (OREI) Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN), menyatakan sepanjang 2 - 3 tahun mendatang lembaganya menetapkan fokus riset terapan berbasis AI dan big data analysis. Sehingga OREI pun bertanggungjawab untuk mengelola isu-isu strategis, seperti mitigasi terhadap perubahan iklim dalam kerangka membantu pengelolaan kekayaan alam di darat dan di laut secara lestari dan berkesimbungan.
 
“Kita sebagai negara kepulauan dan negara maritim, memiliki kekayaan sumber daya hayati laut yang besar. Optimasi budidaya laut dan monitorong sumberdaya laut dengan teknologi digital menjadi salah salah fokus kegiatan di OREI. Untuk melakukan riset dan inovasi di bidang ini, OREI bekerjasama dengan periset di OR lain seperti Organisasi Riset Kebumian dan Maritim,” jelasnya pada webinar series  Sains Data untuk Optimalisasi Budidaya Laut dan Penanggulangan Harmful Algal Blooms (HABs) yang digelar Pusat Riset Sains Data dan Informasi - BRIN beberapa waktu lalu.
 
Budi juga menyampaikan bahwa salah satu kegiatan yang dilaksanakan tahun ini adalah monitoring ledakan populasi alga. Algal bloom merugikan ekosistem karena mengeluarkan toksin yang meracuni air laut. Racun ini dapat terakumulasi pada hewan laut, jika hewan laut dikonsumsi manusia akan menyebabkan masalah kesehatan pula. Secara ekonomi, kehadiran algal blooms dipastikan akan menurunkan hasil tangkapan. “Bahkan tempat terjadinya algal blooming sering kali menjadi tidak layak untuk kehidupan biota laut,” ungkapnya. Sehingga tempat itu menjadi kehilangan potensi untuk dijadikan tempat memijah ikan maupun lokasi budidaya perikanan laut. 
 
Aplikasi Mobile
Tr Lindung P Manik, peneliti di Pusat Riset Sains Data dan Informasi - OREI mengembangkan DSS dengan fokus untuk mengatasi persoalan algal blooms. “Tidak semua algal blooming berbahaya, namun terdapat beberapa jenis algal yang berbahaya dan perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan kematian jika manusia mengkonsumsi ikan-ikan yang terkontaminasi oleh algal blooming,” ungkapnya dalam presentasi itu. 
 
Dijelaskannya, DSS mampu menggantikan peran ahli biologi dalam menentukan spesies alga, melalui ekstraksi dan permodelan menggunakan ontologi sebagai panduan untuk menghasilkan keputusan. Sistem ini diuji dengan 60 sampel spesies alga menggunakan 51 karakteristik alga yang telah ditentukan. Menggunakan panduan karakteristik itu, memiliki deteksi Algies menghasilkan ketepatan 73,33% dan memiliki banyak kesamaan dengan hasil penentuan oleh ahli yang angkanya mencapai 79,75%. TIngkat kesalahan itu terus diperbaiki dengan meningkatkan detail karakteristik spesies dan kriteria perbedaan antar spesies alga. Algies juga mampu menentukan genus alae dengan ketepatan 100%. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Livestock edisi 125/15 Oktober - 15 November 2022

 
Aqua Update + Gelombang + Cetak Update +

Artikel Lain