Jumat, 30 September 2022

USSEC-GPMT Gelar Seminar Mikrobial pada Budidaya Udang

USSEC-GPMT Gelar Seminar Mikrobial pada Budidaya Udang

Foto: 


Surabaya (TROBOSAQUA.COM). Budidaya udang vannamei skala intensif kini hampir semuanya bergantung pada penggunaan probiotik. Penggunaan probiotik khususnya dengan sistem bioflok menjadi tren di kalangan pembudidaya udang di Indonesia sekitar tahun 2007. Aplikasi bioflok diterapkan untuk merendam atau mencegah serangan penyakit selama proses budidaya.
 
Bioflok merupakan teknologi budidaya masa depan, dimana ukuran kolam kecil, padat tebar tinggi dan hasil banyak. Bioflok ini budidaya berbasis teknologi karena itu butuh sumber daya manusia yang mumpuni. Adapun prinsip kerja bioflok yakni mengurai bahan organik berupa sisa-sisa pakan/kotoran udang; mendaur ulang amonia-nitrogen menjadi protein sel. Limbah bahan organik diaduk dan diaerasi untuk merangsang pertumbuhan mikroba. Aerasi harus sampai ke dasar kolam agar tidak muncul bau pada air.
 
Guna lebih memahami teori serta aplikasi mikrobial di tambak udang bagi para pelaku budidaya udang, U.S. Soybean Export Council (USSEC) bekerjasama dengan Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Divisi Akuakultur mengadakan Shrimp Industry Programme dengan tema “Mantaining Healthy Microbial Community in Shrimp Farming, The Challenges and Strategies” atau “Menjaga Kesehatan Komunitas Mikroba dalam Budidaya Udang (Tantangan dan Strategi)”.  Acara ini diselenggarakan secara meriah pada 20 September 2022, bertempat di Hotel Shangri-La, Surabaya. Puluhan peserta yang hadir terdiri dari berbagai profesi, dimulai dari petambak udang, perwakilan perusahaan pakan udang,  hatchery udang, industry, asosiasi, hingga akademisi. 
 
Narasumber yang dihadirkan sangat kompeten di bidangnya masing-masing. Materi pertama disampaikan oleh Ir. Budhi Wibowo, Ketua Umum FUI (Forum Udang Indonesia). Pada acara kali ini, secara garis besar materi yang disampaikan Ketua Umum FUI tersebut mengenai merajut kolaborasi berbagai stakeholder industri udang nasional. “Volume ekspor udang Indonesia terus mengalami peningkatan sejak 2015 hingga 2021. Berdasarkan data yang dihimpun dari KKP, pada tahun 2015, jumlah udang yang berhasil diekspor sebanyak 162 ribu ton udang, dan pada 2021 jumlahnya meningkat hingga mencapai 250 ribu ton udang,” kata Budhi dengan semangatnya.
 
Materi kedua disampaikan oleh Dr. Yufan Zhang, China Aqua Business Development Manager Alltech. Dikesempatan kali ini, Yufan berbagi ilmu mengenai kiat-kiat menjaga kesehatan mikroba melalui teknologi aditif pakan. “Banyak manfaat yang didapatkan apabila menambahkan bahan aditif ke dalam pakan yang akan diberikan. Diantaranya dapat meningkatkan nilai kelangsungan hidup di bawah tantangan penyakit, meningkatkan produktivitas, meningkatkan profitabilitas dan banyak manfaat lainnya,” ungkap Yufan.
 
Diakhir acara, materi disampaikan oleh John A. Hargreaves, Ph.D., USSEC Aquaculture Consultant. Pada peserta, John menyampaikan mengenai mengelola masyarakat mircobial tambak untuk mendukung kesehatan udang. “Bakteri Patogen oportunistik dalam Budidaya Udang. Terkadang bakteri yang biasanya tidak menyebabkan penyakit tetapi dapat menyebabkan penyakit. Hal ini terjadi ketika inang (udang) immunocompromised atau ketika bakteri menjadi Patogen,” jelas John siang itu. Dian

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain