Selasa, 20 September 2022

Perikanan Budidaya, Lokomotif Perikanan Emas 2045

Perikanan Budidaya, Lokomotif Perikanan Emas 2045

Foto: dok.istimewa


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Perikanan budidaya terus meningkat prestasinya dari tahun ke tahun, sehingga berbeda dengan masa lampau yang menempatkan perikanan tangkap sebagai subsektor yang selalu di "atas angin". Kini semua menyadari sumberdaya ikan di laut jumlahnya kian terbatas.

 

Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani) menyiapkan konsep Perikanan Emas 2045, yang menjadikan perikanan budidaya sebagai lokomotifnya. Konsep untuk menyambut 100 tahun kemerdekaan Indonesia itu, Ispikani dipersiapkan melalui webinar series "Menuju Perikanan Emas 2045".

 

"Menjadi negara produsen budidaya ikan terbesar di dunia bukanlah impian semata, terbukti China pada tahun 1978 produksi perikanan dari kegiatan budidaya hanya sebesar 1,2 jutaan, tetapi dalam kurun waktu kurang dari 4 dekade, menjadi sebesar 45,5 juta ton pada tahun 2014, terus meningkat hingga sekarang dan menempatkan negara ini sebagai negara produsen ikan terbesar di dunia,” ujar Sekretaris Jenderal Ispikani Kusdiantoro saat membuka webinar bertajuk Pengelolaan Sub Sektor Perikanan Budidaya, Menjadi Produsen Budidaya Terbesar di Dunia, Senin (19/9).

 

Menurut dia, sebagian besar  produksi perikanan nasional bersumber dari kegiatan budidaya. Hal itu membuktikan perikanan budidaya ikan menjadi solusi dalam peningkatan produksi perikanan sebagai sumber pangan, penyedia protein hewani, mengingat produksi penangkapan memiliki faktor pembatas.

 

Menurutnya, pergeseran peran kontribusi perikanan budidaya tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga produksi perikanan dunia. Pada 2020, produksi ikan dunia mencapai 214 juta ton, sebesar 123,5 juta ton (57,7%) di antaranya dari kegiatan budidaya. Termasuk 36 juta ton diantaranya produksi rumput laut.

 

“Pertumbuhan produksi perikanan dari kegiatan budidaya cenderung mengalami kenaikan, sebaliknya pertumbuhan dari kegiatan penangkapan mengalami penurunan. Padahal sebelum 2010, produksi perikanan tangkap mendominasi produksi perikanan dunia. Ini menunjukkan bahwa terjadi shifiting produksi perikanan, dari tangkap menjadi budidaya,” Kusdiantoro memaparkan.

 

Namun demikian, lanjut dia, kegiatan budidaya ikan di Indonesia masih dihadang beberapa masalah, antara lain ketergantungan bahan baku pakan yang sebagian besar berasal dari impor. Tentu saja itu menyebabkan harga pakan tidak kompetitif sehingga margin pembudidaya sangat minim. Selain itu terdapat keterbatasan ketersediaan dan distribusi induk dan benih ikan unggul sehingga mengganggu peningkatan produktivitas dan kontinuitas produksi.

 

“Ada pula masalah inovasi teknologi digital mendukung efisiensi dan efektifitas kegiatan budidaya ikan serta masih terbatasnya dukungan lembaga keuangan untuk pengembangan usaha budidaya. Terakhir adalah kurangnya ketersediaan dan kesiapan SDM yang terampil dalam menguasai budidaya ikan,” dia menguraikan.

 

Butuh Terobosan

Kusdiantoro menegaskan, dibutuhkan terobosan untuk meningkatakan efisiensi pakan agar dapat menurunkan kontribusi pakan yang mencapai rata-rata 60-80% dari komponen biaya produksi. Kedua, mengembangkan ekosistem pakan mandiri sehingga dapat menurunkan ketergantungan pada pakan komersial dan memanfaatkan potensi bahan baku lokal.

 

Ketiga, terus melakukan penyediaan dan pengembangan induk dan benih ikan unggul yang cepat tumbuh dan tahan penyakit. Keempat pengembangan dan penerapan teknologi digital dalam mendukung efisiensi budidaya (SMART Aquaculture).

 

Kelima, meningkatkan akses pembiayaan, suku bunga yang kompetitif dan memperhatian grace periods dalam pembiayaan sesuai jenis ikan yang dibudidayakan. Keenam, meningkatkan kompetensi dan keterampilan lapangan SDM dengan terus pengembangan prodi dan kurikulum budidaya, serta modul-modul pelatihan sesuai SKKNI secara lebih spesifik melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan, sehingga tersedia SDM yang siap kerja.

 

"Peningkatan produksi budidaya dapat dilakukan melalui kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi, maupun kombinasi dari keduanya. Teknologi budidaya, ketersediaan induk dan bibit unggul serta pakan dengan harga kompetitif menjadi faktor pengungkit utama dalam mencapaian target tersebut," pungkas Kusdiantoro.

 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan - TB. Haeru Rahayu menjabarkan strategi peningkatan produksi perikanan budidaya melalui program terobosan.

 

Diantaranya dengan mengejar target 2022, yaitu produksi ikan sebesar 7,35 juta ton, udang sebesar 1,34 juta ton, ikan hias sebanyak 2,1 milyar ekor, rumput laut sebesar 11,85 juta ton, dengan pendapatan 3,55 juta per bulan dan Nilai Tukar Pembudidaya Ikan mencapai 103.

 

Bertindak sebagai narasumber webinar dari Dewan Pakar Ispikani Hasanudin Atjo dan Masyarakat Akuakultur Indonesia Purnomo Mintoyo. Pembahas pada webinar ini adalah Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Brawijaya Prof. Maftuch, Dekan FPIK Universitas Padjadjaran Yudi Nurul Ihsan, dan Ketua Shrimp Club Indonesia Haris Muhtadi. Kegiatan ini dimoderatori oleh Ketua Bidang DPP Minapoli sekaligus CEO Minapoli Rully Setya Purnama.ist/ed/meilaka

 

 
Aqua Update + Headline Aquanews + Cetak Update +

Artikel Lain