Minggu, 18 September 2022

Promosikan Petis Ikan Situbondo Melalui Program Dosen IPB Pulang Kampung

Promosikan Petis Ikan Situbondo Melalui Program Dosen IPB  Pulang Kampung

Foto: Dok. Aquafest


Situbondo (TROBOSAQUA). Program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) yang dicetuskan oleh LPPM IPB diharapkan memberikan kontribusi dan solusi pada permasalahan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan di sektor perikanan. Program pelatihan peningkatan kualitas petis ikan di Kabupaten Situbondo-Jawa Timur yang diketuai oleh Cecilia Eny Indriastuti, Dosen Program Studi Teknologi dan Manajmen Pembenihan Ikan, Sarjana Terapan Sekolah Vokasi IPB, adalah salah satunya. Tujuannya, agar meningkatkan kualitas produk petis ikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

 

Program Dosen Pulang Kampung di Situbondo, dibuka Camat Panarukan, Adik Supriyadi, kemudian sambutan oleh Ketua Tim Kegiatan Cecilia Eny Indriastuti. Turut hadir Plt Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Situbondo, Kholil; Ketua Penggerak PKK Kabupaten Panarukan dan Humaidah, juga beberapa staff Kecamatan Panarukan, Bapak Juhari dan juga penyuluh Wahyu.

 

Acara berlangsung secara 2 sesi, yaitu sesi pertama berupa pemaparan narasumber dan sesi kedua berupa lomba masak olahan petis ikan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh penyuluh dinas pertanian dan peternakan Kab. Situbondo, pelaku UMKM petis ikan, mahasiswa dan alumni Sekolah Vokasi IPB serta mahasiswa KKN Universitas Jember.

 

Dalam pembuatan petis ikan di Situbondo, bahan baku mudah didapat dan masih dalam kondisi segar. “Namun, kualitas terutama higienitas dan packaging perlu ditingkatkan sehingga dapat lebih diterima oleh masyarakat luas. Promosi dan cara pemasaran perlu dievaluasi sehingga UMKM bisa naik kelas,” papar Cecilia, yang merupakan putri asli Situbondo ini.

 

Selanjutnya proses pembuatan olahan petis yang baik dan benar, dari mulai pemilihan bahan baku dan step by step dalam membuat olahan petis dijelaskan Yusamma dari Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP). “Analisis usaha /HPP pada petis ikan juga penting dilakukan agar dapat menentukan harga jual. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, didapatkan bahwa dengan perolehan petis sebanyak 9 kg, maka harga petis per/kg, diperoleh sebesar Rp 17.800/kg,” paparnya.

 

Produksi petis juga harus memperhatikan sanitasi produk pangan untuk mencegah terjadinya kontaminasi pada produk akhir dari berbagai cemaran pada lingkungan produksi. Sehingga, bahan atau organisme yang bersifat merusak makanan dapat diperhatikan lebih lanjut. Hal tersebut dijelaskan pemateri Dewi Sarastani, Dosen Program Studi Supervisor Jaminan Mutu Pangan.

 

Di sisi pemasaran juga tidak kalah penting dalam produk petis. Strategi pemasaran berbasis online dan digital marketing disampaikan oleh Ima Kusumanti.

 

Selain pemaparan materi, juga diadakan lomba masak olahan petis ikan. Lomba olahan produk perikanan diikuti oleh 10 kelompok peserta yang berasal dari Desa Kilensari, Desa Wringin Anom, Desa Paowan, Desa Pleyan, Desa Gelung, Desa Sumber Kolak, Desa Duwet, Desa Alas Malang, Kecamatan Besuki, dan Kecamatan Mangaran. Berdasarkan hasil penilaian dari juri dengan melihar unsur rasa, kreasi dan inovasi yang diciptakan oleh olahan petis, maka diperoleh Juara 1 oleh Desa Duwet, Juara 2 oleh Desa Paoean, dan Juara 3 diraih oleh Desa Pleyan.

 

 

Cecilia berharap, dari kegiatan ini diharapkan nantinya ada atensi dari pemerintah daerah beserta UMKM pelaku usaha petis ikan untuk terus meningkatan dalam proses olahan petis hingga pemasarannya kepada konsumen. Sehingga, petis ikan Situbondo mampu meningkatkan sumber pendapatan masyarakat Kabupaten SItubondo.ist/ed/dini

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain