Kamis, 15 September 2022

Ronnie Tan: Pantau Pergerakan Pasar Udang Global

Ronnie Tan: Pantau Pergerakan Pasar Udang Global

Foto: Istimewa


Strategi Ekuador mengalihkan dan memperluas pasar udang ke Amerika Serikat dan Eropa perlu ditiru Indonesia kalau masih mau bersaing di pasar udang global
 
Persaingan di pasar udang dunia kian ramai apalagi semenjak terjadi pandemi.  Setelah India menjadi pemain baru yang menyodok pasar udang dunia terutama Amerika Serikat (AS) 4 tahun belakangan dengan produksinya yang besar, kini giliran udang Ekuador yang sedang naik daun.
 
Negara di Amerika Selatan tersebut memang sudah lama dikenal sebagai salahsatu negara produsen udang dunia. Namun keberadaan udang asal Ekuador sebelum pandemi lebih banyak di ekspor China hampir sekitar 80 %. Sementara pasar udang AS selama 5 tahun terakhir didominasi udang asal India dan Indonesia.
 
Manuver Ekuador
Saat harga ekspor udang drop di awal masa pandemi 2019, pembudidaya udang di India sepakat mengurangi bahkan stop produksi sampai harga membaik. Namun di Ekuador udang tetap berproduksi. Mereka melakukan strategi marketing yang sangat baik dengan mengalihkan pasar udang yang tadinya paling besar ke China ke AS dan Eropa, sehingga diakhir tahun 2020 udang Ekuador sudah terpecah hampir merata ke pasar AS, China, dan Eropa masing-masing sekitar 30 %.
 
Faktanya, sampai pertengah tahun 2022 ini produksi udang dunia didominasi saat ini oleh Ekuador dengan  sekitar 1 juta ton per tahun, lalu India di sekitar 950 ribu ton per tahun, Vietnam sekitar 700 ribu ton per tahun, lalu ada Indonesia dan Thailand yang masing-masing sekitar 300 ribu ton per tahun.
 
Semua negara produsen berlomba-lomba meningkatkan produksi udang tiap tahun untuk mengisi pasar udang dunia. Ternyata yang terjadi selama pandemi pasar udang dunia juga ikut terganggu. Data menunjukkan, pasar udang di Amerika Serikat (AS) sekitar 900 ribu ton, lalu Uni Eropa sekitar 850 ribu ton, dan yang pasar yang paling terganggu ada China. Sebelum pandemi biasanya minimal tiap tahun China mengimpor udang sekitar 800 ribu ton, Pada 2021 impor ke China turun hingga sekitar 600 ribu ton.
 
Sampai awal 2022 kondisi di China masih setengah lockdown (dibatasi). Kondisi ini jelas mempengaruhi jumlah udang dan barang lain yang diimpor.  Jika restoran, hotel, dan kegiatan kuliner lainnya belum semua dibuka maka jelas akan mempengaruhi permintaan akan komoditas udang. Jadi itu menjadi faktor utama dalam 1 tahun terakhir harga udang tertekan. Itu kenapa Ekuador melakukan manuver pasar ini.
 
Sementara udang asal Indonesia saat ini sekitar 80 % masih di ekspor ke AS lalu sekitar 12 % ke Jepang, dan kurang dari 5 % ekspor ke Eropa. Lihatlah betapa cepat Ekuador mengalihkan pasar udangnya dari China ke Eropa dan AS. Jika hal serupa terjadi dengan Indonesia, apakah bisa melakukan strategi yang sama dilakukan Ekuador? Pertanyaan ini yang harus bisa dijawab dan dicari strateginya oleh pelaku perudangan di Indonesia jika ingin tetap bisa bersaingan dan menjadi pemain besar di pasar udang global.
 
Tekanan Harga Udang
Harga komoditas selalu dipengaruhi oleh suplai dan dan permintaan pasar. Pada awal tahun 2002 harga udang di negara produsen udang khususnya Indonesia terjadi penurunan cukup signifikan. Keadaan ini tentunya besar dipengaruhi oleh suplai dan permintaan pasar udang dunia. 
 
Namun kalau dilihat faktanya pada awal tahun 2022 harga udang di US terus naik sekitar 10 %, tapi di negara produsen udang seperti Ekuador, India, dan Indonesia harga udang tidak ikut naik malahan turun. Kondisi ini salah satunya dipengaruhi hambatan atau keterlambatan serta biaya pengiriman yang ikut naik selama pandemi terutama dari wilayah Asia dan Asia Tenggara. Sebelum pandemi biaya kirim biasanya sekitar US$ 2.500 sampai US$ 3 ribu per kontainer, saat pendemi pernah naik sampai 4  bahkan lebih dari US $ 12 ribu per kontainer.
 
Data lebih lengkap menunjukkan, biaya kontainer dari Indonesia ke AS adalah sekitar $ 19,000 dan memerlukan waktu sekitar 8 minggu perjalanan. Untuk Thailand sendiri biayanya jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Biaya kontainer yang harus ditanggung Thailand sebesar $ 22,000 dan memerlukan 5 minggu perjalanan. Sedangkan Vietnam masih sedikit lebih murah dari Thailand yakni $ 21,000 dengan waktu pengirimannya sama. 
 
Terakhir di wilayah Asia Tenggara adalah India, biaya yang harus dikeluarkan India untuk kontainer sebesar $ 14,000. Nilai tersebut cukup jauh jika dibandingan dengan negara-negara di Asia Tenggara. Dan yang paling diuntungkan adalah Ekuador. Biaya yang harus dikeluarkan Ekuador sendiri adalah $ 6,500, dan hanya menempuh perjalanan selama 2,5 minggu. 
 
Tekanan harga udang juga diperparah dengan rataan harga pakan udang yang terus naik. Hal ini salah satunya karena terhambatkan suplai bahan baku pakan akibat perang Rusia dan Ukraina. Secara global sepanjang tahun 2021 harga pakan akuakultur naik rata-rata 7 %. Lalu sampai April 2022 harga pakan naik lagi rata-rata 5 %. Jika dibandingkan dengan negara Asia lainnya, harga pakan udang di Indonesia masih tergolong yang paling rendah. Sementara harga pakan paling tinggi ada di Vietnam. 
 
Pasar AS
Sampai pertengahan tahun 2022, pasar AS sendiri masih didominasi oleh produk (udang) dari India. Dimana pada tahun 2021 total suplai India ke AS sebanyak 340.387 Metrik Ton (MT), atau setara dengan nilai $ 2,997,933,342. Yang berarti India menjual udangnya ke Pasar AS seharga $ 8,75 atau seharga Rp 129.832 per kg. 
 
Selanjutnya adalah Ekuador, dimana total suplainya sebesar 183,886 MT, atau dengan nilai $1,367,356,748. Dengan pemasukan tersebut dapat dilihat bahwa Ekuador memiliki harga di bawah India. Udang Ekuador dibanderol seharga $ 7,44 atau setara dengan Rp 110.394 per kg.
 
Dan untuk Indonesia sendiri, pada tahun 2021 total ekspor udang ke AS secara volume sebesar 174,583 MT, dan jika dikonversikan secara nilai maka senilai $ 1,551,487,043. Dengan pendapatan tersebut Indonesia membandrol udangnya seharga $ 8,89 atau senilai dengan Rp 131.909. Harga yang ditawarkan Indonesia ke AS lebih tinggi dari pada India dan Ekuoador.
 
Selanjutnya ada Vietnam dengan akumulasi 88,164 MT, dengan harga jual udangnya $ 10.99 per kg pada 2021. Kemudian Thailand dengan total pasokannya 40.231 MT, dengan harga jual udang per kg yang ditawarkan senilai $ 11,32.
 
Dengan paparan data tersebut, sambungnya, dapat terlihat bentangan harga per kg yang cukup jauh dari masing-masing produsen. Jika diperhatikan lebih rinci lagi, untuk pemasok yang berasal dari Asia Tenggara sendiri sangatlah bervariatif. Hal ini terjadi karena biaya kirim kontainer dari Asia Tenggara ke AS sangatlah tinggi dan beragam, sehingga menimbulkan perbedaan harga per kg nya.
 
Strategi Ekspansi
Pasar udang AS merupakan pasar yang paling rendah harga udangnya. Sementara pasar udang yang harganya premium adalah di Eropa. Para industri pengolahan atau eksportir Indonesia harus punya strategi diversifikasi pasar ke Eropa dan negara lainnya. Meskipun standar kualitas dan sertifikasi yang mereka minta tinggi, namun strategi itu harus dilakukan kalau mau dapat harga udang yang lebih baik. 
 
Sepertinya saat ini Indonesia sudah cukup percaya diri dengan apa yang  diperoleh. Mulai dari kualitas produk yang dihasilkan, standar sertifikasi dalam negeri yang berjalan saat ini, dan pangsa pasar yang ada. Tapi jangan lengah Ekuador sedang agresif merebut hampir semua pasar utama udang dunia. Indonesia dengan potensi alam dan sumber daya manusaia yang ada bisa menyaingi Ekuador melalui strategi pasar yang tepat.
 
Saat ini jangan puas dengan apa yang sudah kita hasilkan, sejauh ini pembudidaya di Indonesia masih banyak fokus pada upaya perluasa lahan dan peningkatan produktivitas budidaya. Hal tersebut sebaiknya dibarengai dengan upaya dan langkah peningkatan standar dan kualitas produk udang yang dipanen. 
 
*Regional Aquaculture Consultant - Southeast Asia
US Grains Council 
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain