Kamis, 15 September 2022

Budidaya Bioflok Kian Elok di Tanah Bumbu

Budidaya Bioflok Kian Elok di Tanah Bumbu

Foto: 


Pembudidaya semangat dengan keunggulan hemat lahan dan ramah lingkungan, walau masih terkendala bibit 
 
Di Kabupaten Tanah Bumbu-Kalimantan Selatan, budidaya ikan sistem bioflok sudah dilirik masyarakat. Kepala Dinas Perikanan Tanah Bumbu, Yulian Herawati menyebut, hal ini terbukti dengan makin bertambahnya pembudidaya ikan bioflok di Tanah Bumbu. 
 
“Sudah banyak dikembangkan, dan ada di beberapa desa di Tanah Bumbu. Contohnya di Desa Mustika, Kecamatan Kuranji itu ada 16 kolam, bahkan di beberapa kecamatan juga sudah ada, cuma belum terdata. Budidaya ikan sistem bioflok ini dapat menjadi pilihan masyarakat, selain bernilai ekonomis tinggi, usaha ini juga diharapkan bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga dan mewujudkan kemandirian pangan daerah,” ujarnya.
 
Idris, adalah satu diantara pembudidaya ikan yang menggunakan sistem bioflok di desa wilayah Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu. Berlokasi tepat di samping rumahnya, ia setidaknya memiliki 8 kolam bioflok aktif. Kolam-kolam tersebut; terdiri dari 3 kolam untuk komoditas ikan nila, 2 kolam komoditas patin, dan 3 kolam komoditas lele.
 
“Dari kolam-kolam ini perkiraan panen lele pada sebulan mendatang, nila akan dipanen di beberapa bulan kedepan, sedangkan patin panennya memerlukan proses lebih lama.  Untuk harga jualnya sendiri, untuk nila berkisar Rp 35 ribu per kilogram (kg), lele berkisar Rp 16 ribu-25 ribu per kg, dan patin seharga Rp 25 ribu per kg.
 
Tantangan Bioflok
Alasan makin berkembangnya budidaya sistem bioflok di Tanah Bumbu, diterangkan Suko Wardoyo, Penyuluh Perikanan di Kecamatan Mantewe dan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu. Menurutnya, teknologi budidaya ikan sistem bioflok merupakan satu solusi budidaya dengan pemanfaatan lahan terbatas.
 
“Sehingga, hal ini banyak menarik minat masyarakat untuk dapat mengaplikasikan budidaya sistem bioflok, terutama untuk komoditas ikan air tawar seperti lele atau nila. Keunggulan lainnya bisa dibandingkan dengan sistem budidaya konvensional. Dimana, teknologi bioflok dianggap lebih ramah lingkungan karena hemat dalam hal penggunaan air. Air bekas budidaya juga tidak berbau, sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitar,” papar Suko yang dikenal pembudidaya di Tanah Bumbu sebagai ‘pionir bioflok’ ini.
 
Walaupun demikian, Idris pun menyadari, usaha bioflok yang dilakukan pembudidaya menemui banyak tantangan. Diantaranya indukan yang berkualitas. “Selama ini sering ditemukan kendala tidak tersedianya bibit (benih) di pasaran saat memasuki waktu tebar bibit. Akibatnya, target waktu panen ikan bergeser,” terang Idris. Makanya Idris pun berharap bantuan dari pemerintah daerah agar ada program pembibitan indukan, sehingga pembudidaya bisa memperoleh bibit ikan dengan mudah. 
 
Selain terkendala masalah bibit, Idris juga menjelaskan beberapa kendala dengan sistem bioflok ini karena pihaknya belum berpengalaman sebelumnya. Akibatnya, ikan mengalami stres. 
 
“Awalnya kita banyak mengalami kendala karena belum tahu sama sekali. Ikan banyak yang stres karena kondisi air kurang sehat, nafsu makan kurang, dan sebagainya. Tapi, berdasarkan pengalaman tersebut, akhirnya sekarang ini ikan bisa dalam kondisi sehat,” ungkapnya. Idris pun sekarang berfokus untuk mengelola usaha biofloknya agar bisa turut mengembangkannya di masyarakat.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 124/15 September - 14 Oktober 2022

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 124/15 September - 14 Oktober 2022

 
Aqua Update + Andalan Air Tawar + Cetak Update +

Artikel Lain