Kamis, 15 September 2022

Kiat manajemen pakan dan pemasaran budidaya lele

Kiat manajemen pakan dan pemasaran budidaya lele

Foto: Istimewa


Sebagai ikan konsumsi yang cukup diminati semua kalangan, budidaya lele memiliki potensi pengembangan yang cukup besar. 
 
Lele memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. “Jangan lupa, kita memiliki fenomena pecel lele yang hampir tersebar di seluruh Indonesia ,” ujar Imza Hermawan, Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia (APCI) yang memberikan sambutan pada Aquabinar seri ke 18 yang diselenggarakan oleh TROBOS Aqua baru-baru ini. 
 
Maraknya kuliner berbasis lele ini tak luput dari peran para pedagang lele. Menurutnya, Asosiasi Pedagan Kaki Lima Indonesia (APKLI) mencatat setidaknya ada 50 ribu orang pedagang lele yang tergabung dalam asosiasi tersebut. 
 
Lebih lanjut Imza menyatakan bahwa sekitar 70 % keberhasilan budidaya lele itu ditentukan oleh pakan. “Pakan yang baik, tepat, akan menentukan pembudidaya yang betul-betul bisa bertahan tidak akan gulung tikar. Karena di dalam budidaya lele, biasanya berlaku seleksi alam,” imbuh Imza. 
 
Kenyataannya, saat ini para pembudidaya banyak yang usahanya rontok alias gulung tikar akibat pandemi juga pakan yang harganya naik saban 4-6 bulan sekali. “Saat ini, naiknya sudah 6 kali. Di sini para pembudidaya harus mengetahui kebutuhannya. Kebutuhan pertama harus kompak, bersatu untuk memperoleh keuntungan. Kedua, harus jelas market-nya,” terang Imza. 
 
Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Pemasaran, Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana. ”Dari sisi pasar, seperti yang disampaikan oleh Pak Imza, sampai saat ini, potensi dalam negeri masih bisa ditingkatkan.  Segmentasi pasar lele, sudah cukup bagus,” terang Erwin. 
 
Data yang dihimpun oleh KKP, kurun waktu 2016-2020, produksi lele mengalami peningkatan sebesar 7, 1 % meskipun ada penurunan di 2018.  “Namun setelah 2018, mengalami peningkatan 4,1 %”, tegas Erwin. 
 
Adapun sebaran wilayah budidaya lele, papar Erwin, meliputi Jawa Barat (Jabar) sebesar 32 %, Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim) masing-masing 15 %, Sumsel dan Sumbar masing-masing 5 %, DIY sebasar 4 %, Lampung 3 %, Riau dan Bengkulu masing-masing 2 %. Sementara itu komposisi serapan pasar lele pada 2020, untuk rumah tengga sebesar 48 % sedangkan untuk industri atau horeka (hotel restoran katering) sebesar 52 %. 
 
“Ini ada juga produk olahannya yang disesuaikan dengan arah kebijakan KKP tahun 2021-2024 yang menyasar tiga prioritas ,” imbuh Erwin. Tiga prioritas yang dimaksud Erwin ialah penerapan kebijakan penangkapan terukur berbasis kuota di setiap wilayah pengelolaan perikanan, pengembangan perikanan budidaya yang berorientasi ekspor, dan pengembangan kampun perikanan budidaya sesuai dengan kearifan lokal. 
 
Pasar Ekspor Terbuka Lebar
Pasca pandemi, ketika kran perdagangan luar negeri kembali dibuka, terang eksportir lele, Mumfaizin Faiz ; ekspor lele juga mulai menggeliat. Negara-negara yang menjadi tujuan utama ekspor lele Indonesia seperti Thailand, Belanda, Inggris, Perancis, Korea Selatan, Belgia, Taiwan, pelan-pelam mulai membuka ‘portal’ pengiriman barang. Ada yang masih berupa lele segar, lele asap, lele marinated beku, abon, dll. 
 
Mumfaizin Faiz, sebagai satu pelaku ekspor ikan budidaya (lele, nila hitam, bandeng cabut duri, gurame) di Jatim menyatakan bahwa peluang ekspor ikan lele lumayan besar. “Qatar juga bakal membutuhkan (lele, red).  Hal ini terkait dengan kebutuhan pangan menjelang piala dunia,” kisah Faiz. 
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 124/15 September - 14 Oktober 2022
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 124/15 September - 14 Oktober 2022

 
Aqua Update + Andalan Air Tawar + Cetak Update +

Artikel Lain