Kamis, 15 September 2022

Eko Prio Raharjo, Mengenal Kawasan Konservasi Perairan Kalimantan Selatan

Eko Prio Raharjo, Mengenal  Kawasan Konservasi Perairan Kalimantan Selatan

Foto: 


Bila mengenal sumber daya ikan perairan laut Indonesia, tentu tak lepas dari pengelolaan yang dilakukan di perairan tersebut. 
 
Pengelolaan perairan laut Indonesia, juga tercakup di dalamnya adalah pengelolaan berbasis kawasan konservasi. Sehingga, diharapkan, dalam pengelolaan berkelanjutan, sumber daya ikan dan sumber daya alam di ekosistem perairan tersebut dapat berjalan berkesinambungan.
 
Untuk menjaga, memelihara dan mengelola sumbedaya hayati tersebut agar tidak rusak, terjaga dan berkesinambungan, maka diperlukan suatu upaya yaitu dikelola secara bekelanjutan.  Sebagaimana di daerah-daerah lainnya yang mempunyai sumberdaya hayati laut, di Kalimanan Selatan (Kalsel) juga merupakan satu daerah di Indonesia yang baru mendapatkan legalitas dari pemerintah pusat untuk mengelola sumberdaya yang ada sesuai dengan peraturan yang berlaku.
 
Kalsel, dengan garis pantai sepanjang 1.330 km atau 1,66 % dari total garis pantai di Indonesia, merupakan satu daerah yang telah memiliki suatu kawasan atau zonasi yang akan dikelola secara berkelanjutan, yaitu Kawasan Konservasi Perairan. Kawasan Konservasi Perairan (KKP) adalah suatu kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan.  
 
Mengenal KKP Kalsel
KKP Kalsel mulai dibentuk, diusul dan dicadangkan mulai 2007 dengan melibatkan berbagai pihak.  Kemudian terbit Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 13 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2018-2038 tanggal 16 Juli 2018 dan Keputusan Gubernur Kalimantan Selatan Nomor 188.44/0713/KUM/2018 tentang Pencadangan Kawasan Konservasi Perairan Daerah Taman Wisata Perairan Provinsi Kalimantan Selatan tanggal 27 Desember 2018. 
 
Setelah kembali melalui beberapa proses, legalitas tersebut diusulkan kembali ke pemerintah pusat (dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan) untuk segera ditetapkan. Dengan demikian, payung hukum dasar pengelolaan KKP di Kalsel telah diakui dan sebagai dasar pengelolaan nantinya.
 
Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2020, melalui surat Dirjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Nomor 1415/DJPRL.5/VII/2020 tanggal 08 Juli 2020, disampaikanlah Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 69/Kepmen-KP/2020 tentang Kawasan Konservasi Perairan Angsana, Sungai Loban, Pulau Laut-Pulau Sembilan, Kepulauan Sambar Gelap, dan Laut Sekitarnya di Provinsi Kalimantan Selatan tanggal 18 Juni 2020. Dari Kepmen tersebut, hanya ada 2 dari 13 kabupaten/kota yang memiliki potensi keanekaragaman hayati laut terbesar, yaitu Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru.  
 
Dua kabupaten ini memiliki potensi yang sangat melimpah; yaitu terumbu karang dan padang lamun yang harus dilindungi dan berpotensi untuk kegiatan wisata. Berdasarkan ketetapan tersebut, jenis KKP yang ada di Kalsel adalah Taman Wisata Perairan (TWP). Hal ini didasarkan atas adanya kegiatan wisata (baik wisata pantai, terumbu karang maupun mangrove yang ada di dalamnya).
 
 
Keanekaragaman Hayati Ikan dan Terumbu Karang
Satu faktor yang menyebabkan dibentuknya KKP di Kalsel (Tanah Bumbu dan Kotabaru) adalah karena adanya ekosistem mangrove, terumbu karang, dan padang lamun.  Selain itu, letaknya yang sangat strategis; yakni kawasan terumbu karang yang ada merupakan bagian dari dan termasuk dalam segitiga terumbu karang dunia (coral triangle).  
 
Luas TWP secara keseluruhan adalah 179.659,89 ha yang meliputi 4 area. Berikut keanekaragaman hayati untuk masing-masing wilayah. Untuk kawasan di Kabupaten Tanah Bumbu; adalah Area I (Angsana) dan Area II (Sungai Loban). 
 
Di Area I ini, terdapat gugusan puluhan terumbu karang seperti karang kima, karang bajangan, anak karang kima, batu pelampung, batu penggadungan, batu luar penggadungan, tanjung batu, luar tanjung batu, batu sawar, karang sampaian ampat, karang ibu, dan lain sebagainya.   Berdasarkan pengalaman selama puluhan tahun penulis, di lokasi ini terdapat berbagai jenis karang, baik karang keras (hard coral), karang lunak (soft coral), sponge, Gorgonia, Nudibranchia, makro alga, dan makrobentos lainnya. Kondisi tutupannya pun beragam,  dari kritis hingga baik sekali. 
 
Pada area II (Sungai Loban), terdapat puluhan gugusan karang seperti karang bagusung, karang mangkok, karang ambo gemmi, batu ma’bela, karang pakkanrebalanggo, karang luna maya, karang h. seneng, karang wa simang, batu anugerah, batu cepa, dan lain sebagainya.
 
Hasil penelitian Asmawi (2007), menyatakan bahwa untuk karang kima persentase tutupan pada lereng terumbu sebesar 58,4% (sehat), dan pada rataan terumbu sebesar 48,9 – 22,7% (rusak-kritis).  Sedangkan untuk karang mangkok persentase tutupan pada lereng terumbu sebesar 68,3 (sehat) dan pada rataan terumbu sebesar 24,9 – 21,4% (kritis).  Dari segi keragaman ikan, ikan yang terdata di karang kima sebanyak 430 ekor terdiri dari 12 famili dan 49 spesies, untuk di karang mangkok, ikan yang terdata sebanyak 497 ekor terdiri dari 11 famili dan 47 spesies.
 
Berdasarkan hasil survei dan observasi penulis di lapangan, bahwa kondisi karang yang ada di Tanah Bumbu ada yang muncul ke permukaan air laut dan ada yang tenggelam.  Kedalaman rata-rata gugusan karang yang ada berkisar antara 0 – 10 m tergantung kondisi air laut. 
 
 Jika air laut pada saat surut terendah, maka sebagian gugusan karang akan muncul ke permukaan air dan sebaliknya.  Hal ini disebabkan karena kondisi dasar laut yang sangat landai, hingga sampai 4 mil laut, kedalaman hanya mencapai 10 -15 m saja.  Keunikan dari terumbu karang yang ada di Tanah Bumbu, walaupun banyak muara sungai hingga menyebabkan kondisi perairan keruh pada musim-musim tertentu, masih ada jenis dan keanekaraaman karang yang sangat bagus (sehat sekali).
 
Sementara itu, keanekaragaman hayati di kawasan di Kabupaten Kotabaru, dimana gugusan karang yang ada di Kotabaru tersebar mulai bagian utara, lalu ke arah bagian timur dan timur laut, terus ke bagian selatan dan barat daya Pulau Laut.  Adapun lokasi pesisir yang terdapat terumbu karangnya antara lain di Pantai Sarang Tiung, Sambar Gelap, Pulau Sembilan, Pulau Pamalikan, Pulau Matasiri, Pulau Denawan, dan lain–lain.  
 
Kondisi geografis pantai dan laut di Kotabaru cendrung lebih dalam dari pada pantai dan laut di Tanah Bumbu.  Berdasarkan hasil pengamatan, keunikan dari gugusan karang yang ada di Kotabaru ini adalah ada spesies biota (makro alga) yang mana di Tanah Bumbu tidak ditemukan, yaitu bintang laut biru/blue star/linckia biru, dengan nama latin Linckia laevigata.
 
 
Penyuluh Perikanan Madya-Kab. Tanah Bumbu
 
 
Boks Luas Taman Wisata Perairan secara keseluruhan adalah 179.659,89 ha yang meliputi 4 area yaitu :
a. Area I
Angsana, dengan luas 8.138,45 ha, terdiri dari zona inti seluas 185,03 ha, zona perikanan berkelanjutan seluas 7.353,49 ha, zona pemanfaatan seluas 439,50 ha dan zona lainnya seluas 160,43 ha.
 
b. Area II
Sungai Loban, dengan luas 10.613,23 ha, terdiri dari zona inti seluas 383,30 ha, zona perikanan berkelanjutan seluas 9.088,28 ha, zona pemanfaatan seluas 990,86 ha dan zona lainnya seluas 150,79 ha.
 
c. Area III 
Pulau Laut-Pulau Sembilan, dengan luas 158.717,40 ha, terdiri dari zona inti seluas 4.491,49 ha, zona perikanan berkelanjutan seluas 149.514,60 ha, zona pemanfaatan seluas 4.142,26 ha dan zona lainnya seluas 569,05 ha.
 
d. Area IV
Kepulauan Sambar Gelap, dengan luas 2.190,81 ha, terdiri dari zona inti seluas 82,09 ha, zona pemanfaatan seluas 2.108,72 ha.
 

 
Aqua Update + Gelombang + Cetak Update +

Artikel Lain