Kamis, 1 September 2022

Workshop Penanganan dan Pencegahan Penyakit Ikan

Workshop Penanganan dan Pencegahan Penyakit Ikan

Foto: ist/dok.KKP


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Setelah sempat absen selama beberapa tahun akibat pandemi, kini Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) kembali mengelar Festival Produk Pertanian dan Perikanan atau lebih dikenal dengan sebutan RIFAFEST 2022.

 

Kali ini tema yang diangkat adalah Akselerasi Pembangunan Kelautan dan Perikanan melalui Industrialisasi Produk Indovasi dan Penyuluhan. Serangkaian agenda akan dilakukan pada RIFAFEST tahun ini, diantaranya yaitu akan ada perilisan produk berupa vaksin, workshop, pameran, bazar, gemarikan dan restocking.

 

Dijumpai di BRPBATPP, Iman selaku Ketua Pelaksana RIFAFEST 2022 menjelaskan, akan banyak kegiatan yang dilakukan dalam beberapa hari kedepan. Dimulai sejak 29 Agustus 2022 yakni kegiatan berupa webinar mengenai Akselerasi Pembangunan Kelautan dan Perikanan melalui Industrialisasi Produk Indovasi dan Penyuluhan.

 

“Lalu pada hari ini (30 Agustus 2022), diadakan workshop mengenai Penanganan dan Pencegahan Penyakit Ikan yang akan dihadiri puluhan orang yang terdiri dari penyuluh perikanan dan pembudidaya,” sambung Iman dengan semangat membara setelah melihat antusias para peserta yang mengikuti kegiatan pagi itu di salah satu ruangan di BRPBATPP.

 

Workshop yang diadakan dihari kedua dalam rangkaian acara RIFAFEST 2022 tahun ini diisi oleh beberapa pamateri. Diantaranya yaitu Angela Mariana Lusiastuti - Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)  menyampaikan materi mengenai penyakit ikan.

 

Dalam pemaparannya, Angela mengatakan, gangguan kesehatan pada Ikan disebabkan oleh patogen seperti bakteri, virus, jamur, parasit. Dapat juga disebabkan oleh perubahan lingkungan, defisiensi nutrisi dan kelainan genetik.

 

Saat ini banyak bermunculan penyakit baru. Faktor yang mempercepat kemunculannya penyakit baru tersebut diantaranya karena urbanisasi, penghancuran habitat asli yang menyebabkan hewan dan manusia hidup dalam jarak dekat, perubahan iklim, perubahan ekosistem, perubahan dalam populasi inang reservoir atau vektor serangga perantara, mutasi genetik mikroba,” ungkap Angela kepada para peserta workshop.

 

Pemaran kedua dilakukan oleh Taukhid yang juga Peneliti Utama – BRIN, yang menyampaikan materi mengenai pengendalian penyakit ikan. Penyakit ikan, Taukhid menjelaskan, secara alamiah dapat terjadi karena lingkungan, patogen dan ikan itu sendiri sebagai host-nya. Bisa ketiganya saling berinterelasi bahkan sendiri, tetapi makin parah apabila seluruhnya saling berinteraksi untuk menurunkan kondisi.

 

“Misalnya hanya lingkungannya yang bermasalah. Katakanlah kekurangan oksigen, maka tentu akan mati semua. Amonia tinggi, maka komoditas yang di perairan itu pun dapat mati semua tanpa harus ada patogen. Maka dari itu, dalam pengendalian, kita harus integratif. Bukan hanya dari patogennya saja, tetapi juga dari sistem manajemen dan lingkungannya,” jelas Taukhid.

 

Penyampaian materi ketiga yakni mengenai vaksin dan obat ikan oleh Dewi Nawang Palupi - ahli penyekit ikan dari PT Caprifarmindo Laboratories. Vaksin ikan, Dewi mengungkapkan, adalah obat ikan sediaan biologik untuk menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu

 

“Sementara itu, obat ikan adalah sediaan yang dapat digunakan untuk mengobati ikan, membebaskan gejala atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh ikan. Obat ikan digolongkan atas 5 golongan yakni biologik, farmasetik, premiks, probiotik dan obat alami,” kata Dewi.

Penyampaian materi ke-4 sekaligus pratik pengaplikasian vaksin pada ikan oleh Dr. Desy Sugiani, S.Pi., M.Si., Peneliti Madya – BRIN. Aplikasi vaksin pada ikan, kata Desy, bisa dilakukan melalui 3 cara. Yaitu melalui perendaman, melalui pakan dan injeksi (intravena, intramuscular dan intraperitonial).

 

“Masing-masing cara memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Seperti, injeksi memiliki keuntungan berupa lebih ampuh, sedikit terbuang dan efektif untuk ikan berukuran besar. Namun dibalik keuntungannya, juga terdapat kekurangan, diantaranya adalah perlu tenaga ahli, dapat terjadi stress tinggi pada ikan dan berat ikan harus lebih dari 10 gram,” papar Desy.

 

Setelah serangkaian pemaran materi oleh para narasumber, acara dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada para narasumber oleh Plt Kepala BRPBATPP Sri Pudji Sinarni Dewi.

 

Sri Pudji atau yang biasa disapa Roro mengungkapkan, setelah workshop hari ini. Rangkaian acara akan dilanjutkan pada 2-3 September 2022.  Pada hari tersebut diselenggarakan kegiatan restoking berbagai macam ikan air tawar lokal di perairan Sungai Ciliwung. Lalu dilanjutkan dengan lauching Vaksin Caprivac Hydrogalaxy. Bazar baik untuk produk olahan ikan yang dibuat oleh UMKM binaan penyuluh maupun pameran ikan hias dan ikan beberapa ikan lokal.

 

“Kemudian kegiatan Gemarikan, mengundang anak-anak Sekolah Dasar (SD) terdekat. Dan terakhir kegiatan demo masak olahan ikan,” tutup Roro pada hari itu.ist/ed/meilaka

 

 
Aqua Update + Headline Aquanews + Cetak Update +

Artikel Lain