Senin, 15 Agustus 2022

Krismono: BUDI DAYA IKAN DI WADUK JATIGEDE

Krismono: BUDI DAYA IKAN DI WADUK JATIGEDE

Foto: Dok. Pribadi


Bila kita ingat Agustus, maka selalu ingat tanggal 17 Agustus 1945 Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Tetapi sering kita masih menjumpai pertanyaan; sudah merdeka sekian tahun (sekarang 77 tahun) kok masih ada yang merasa tidak/belum merdeka. 
 
Mengapa demikian, karena masih ada yang misalnya tidak merasa mempunyai kebebasan dalam hal berusaha di wilayah/kawasan desa mereka. Demi kemajuan bangsa dan negara sebagai warga negara yang baik wilayah Kawasan desa yang berupa antara lain lahan pertanian dan kawasan perumahan (tempat hidup dan mencari kehidupan) disediakan  digenangi untuk pembangunan sebuah waduk. 
 
Waduk Jatigede dengan luas 4122 hektare (ha) merupakan waduk serba guna yang dimanfaatkan untuk keperluan irigasi, air baku air minum, pembangkit listrik, dan wisata. Waduk ini dibangun dengan membendung Sungai Cimanuk. 
 
Selain dari Sungai Cimanuk, sumber air Waduk Jatigede juga berasal dari Sungai Cialing dan Cinambo dan beberapa anak sungai lainnya. Lahan yang digenangi untuk pembangunan waduk seluas 18.598,6 ha yang terdiri dari hutan, lahan pertanian, desa dan sungai.  Lahan pertanian yang digenangi sebesar 9.303,4 ha atau sekitar 50,2% dari total luas lahan. Jumlah kepala keluarga yang terkena dampak pembangunan waduk ini sebanyak 6.955 kepala keluarga yang menempati 28 desa dari 5 kecamatan. Persentase kepala keluarga yang direlokasi dengan mata pencaharian sebagai petani sebanyak 71,3%. 
 
Dampak Sosial
Satu dampak sosial ekonomi yang timbul adalah terjadinya perubahan dan atau hilangnya mata pencaharian. Hal ini sebagai akibat perubahan lingkungan dari lahan pertanian menjadi area genangan waduk. 
 
Aktivitas perekonomian setelah pembangunan waduk tersebut diharapkan dapat memberikan pendapatan yang sama atau bahkan lebih besar dibandingkan sebelum adanya waduk. Sektor perekonomian yang dapat dikembangkan sebagai satu alternatif mata pencaharian adalah usaha perikanan. Usaha di lahan perairan waduk Jatigede yang mungkin adalah usaha yang antara lain berhubungan dengan perikanan (tangkap dan budidaya) dan pariwisata (transportasi/perahu, kuliner/rumah makan), pertanian dan peternakan disekitar waduk.
 
Hasil kajian Andri Warsa (2015), status mutu air sungai inlet Waduk Jatigede berdasarkan parameter nutrien dan logam menunjukkan bahwa; sungai inlet Waduk Jatigede tidak memenuhi baku mutu untuk pemanfaatan kelas I dan II dengan nilai indeks pencemaran berkisar 1,06-3,58 (tercemar ringan). Sedangkan untuk pemanfaatan kelas III (untuk perikanan), sungai inlet Waduk Jatigede memenuhi persyaratan baku mutu dengan nilai  0,26-1,64 (tidak tercemar). 
 
Namun, secara umum status mutu air sungai inlet Waduk Jatigede masih tergolong baik. Jika ditinjau status mutu air sungai inlet, di Waduk Jatigede layak untuk dikembangkan kegiatan budidaya. Konsentrasi nutrien nitrogen dan fosfor total cenderung tinggi di inlet Waduk Jatigede yang menunjukkan status kesuburan meso-eutrofik.
 
KJA di Jatigede
Kegiatan perikanan budidaya dengan sistem Keramba Jaring Tangkap (KJT) sempat berkembang dan dapat menjadi alternatif alih mata pencaharian bagi penduduk yang lahannya tergenang. Pembudidaya sebagian besar menggunakan jenis ikan mas dan nila, hal ini belajar dari pembudidaya ikan yang telah berkembang di perairan waduk yang lain di Jawa Barat. 
 
Jumlah KJT yang beroperasi semakin banyak, hal ini berkaitan dengan besarnya keuntungan yang diperoleh. Pada ahun 2018 hanya berjumlah 394 kolam sedangkan pada akhir 2021 jumlah KJT yang beroperasi mencapai 3283 petak. Daya dukung lingkungan untuk kegiatan budidaya 6.599 ton/tahun. 
Sistem KJT yang beroperasi adalah sistem jaring ganda dan tunggal. Untuk jaring ganda terdapat dua macam yaitu dolos dan kolor dimana perbedaannya adalah ukuran kolam yang digunakan yaitu 15x15 x 9 m untuk sistem kolor dan 14x7x6 m untuk sistem dolos. 
 
Sistem jaring tunggal (engkel) beruuran 7x7x3 m. Benih yangdibutuhkan untuk pemeliharaan ikan mas adalah 1,5 kwintal sedangkan ikan nila 90 kg. Waktu pemeliharaan untuk ikan mas adalah 2 bualn sedangkan ikan nila bisa dipanen setelah 2 kali penen ikan mas. Hasil panen ikan dari usaha budidaya ikan dalam KJT cukup memadai untuk membantu kehidupan masyarakat.
 
Masyarakat sekitar Waduk Jatigede serta Dinas Peternakan dan Perikanan terkendala untuk mendapatkan izin usaha budidaya karena aktivitas keramba jaring apung merupakan kegiatan yang resmi dilarang melalui Peraturan Daerah No 4 Tahun 2018. Peringatan untuk tidak melakukan aktivitas budidaya KJA di perairan waduk sebenarnya sudah dilakukan sebelum proses penggenangan oleh Kepala satker. 
 
Perbedaan antara KJA dan KJT adalah pada struktur konstruksi kerangka, yaitu bila KJA terapung dan KJT menggunakan tiang disetiap sudut yang ditancapkan ke dasar (dari fungsi terapung mudah berpindah kalau KJT harus mengangkat tiang yang ditancap dulu).  
 
Mengapa sudah dilarang tetapi KJT tetap berkembang di waduk Jatigede? Disebabkan oleh kurangnya keahlian lain dalam menciptakan mata pencaharian baru, sementara di hadapannya tersedia sumber daya air. Juga, tingginya peluang dalam bisnis KJA dan didukung oleh keterampilan budidaya KJA yang telah diterima sebelum penggenangan.
 
Alasan lainnya, berupa rasa keterikatan yang kuat dengan wilayah waduk menyebabkan rasa kepemilikan yang masih besar, dan pembudidaya tidak mau beralih ke perikanan tangkap karena penghasilan sebagai nelayan jauh lebih rendah, selain itu penghasilan dari perikanan tangkap tergantung musim. Belum lagi, pelarangan KJA di Jatiluhur dan Cirata menyebabkan pembudiaya KJA dari kedua wilayah tersebut berpindah lokasi ke Jatigede.
 
Bila KJA diizinkan atau karena sudah ada di waduk Jatigede, maka pembudidaya dan pengelola harus memperhatikan fenomena umbalan di perairan waduk dan danau. Supaya, tidak mengalami kerugian akibat kematian ikan secara masal seperti di perairan waduk atau danau lain.
 
Data potensi terjadinya upwelling–down welling di suatu waduk dan danau ini menjadi penting dalam pengelolaan perikanan budidaya KJA untuk meramalkan terjadinya kematian masal ikan baik di dalam karamba jaring apung maupun yang hidup bebas di perairan tersebut. Pada umumnya air di hipolimnion seringkali bersifat anoksik dan banyak mengandung hidrogen sulfida, gas metana, dan amonia serta fosfin yang beracun. Zat-zat tersebut adalah produk proses dekomposisi yang berlangsung pada suasana anaerobik. 
 
Berkaitan dengan hal ini, data penting lainnya yaitu kedalaman maksimum termoklin (Zt), kedalaman dimana oksigen sama dengan nol dalam keadaan anoksik mulai dijumpai (Zzo), kedalaman maksimum(Zmax) dan kedalaman dimana hidrogen sulfida mulai dideteksi (Zhs) adalah karakteristik limnologis yang perlu diketahui dalam pengelolaan perikanan budidaya mapun perikanan tangkap di waduk atau danau.
 
Metode Pengelolaan
Kesimpulan dari uraian tersebut diatas adalah Waduk Jatigede berpotensi untuk usaha perikanan (budidaya KJA/KJT dan tangkap), KJA/KJT sudah mulai berkembang dan merupakan salah satu usaha yg cocok utk di waduk. Serta, adanya peraturan yang melarang KJA di Waduk Jatigede dan adanya fenomena perairan waduk yang harus diperhatikan dalam usaha KJA.
 
Melihat kenyataan yang ada di waduk Jatigede dengan berbagai faktor alam dan sosial ekonomi serta kepentingan yang ada, kemungkinan untuk pengelolaannya bisa menggunakan startegi LAC (Limits of Acceptable Change). LAC dapat didifinisikan sebagai batas perubahan yang dapat diterima, yang disebabkan oleh manusia pada alam liar terutama yang berorientasi di sekitar penggunaan rekreasi, dalam hal ini kita gunakan untuk berbagai kepentingan yang memanfaatkan perairan waduk Jatigede tidak hanya rekreasi.  
 
Besarnya dampak atau perubahan yang dapat diterima tersebut akan menjadi poin utama dalam penerapan LAC. Karena, dari perubahan perubahan yang dapat diterima tersebut dapat ditentukan strategi apa yang harus diambil untuk menghindari dampak yang tidak dapat diterima. Penggunaan strategi Limits of Acceptable Change (LAC) menggunakan kekuatan kesepakatan dari Focus Group Discussion (FGD) dari seluruh pemangku kepentingan dan pemanfaat perairan tersebut dapat disepakati bersama tanpa merugikan satu dengan yang lain.
 
*Peneliti Ahli Utama PRKSDLPD- BRIN
Dosen Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta
Ketua Masyarakat Iktiologi Indonesia
 

 
Aqua Update + Anjungan + Cetak Update +

Artikel Lain