Senin, 15 Agustus 2022

Rumput Laut Solusi Multiguna

Rumput Laut Solusi Multiguna

Foto: Istimewa


Mengulik peranan serta pemanfaatan rumput laut dari berbagai belahan dunia
 
Di Indonesia, sudah diketahui bahwa rumput laut (seaweed) merupakan satu primadona hasil laut. Sebagian besar, produksi rumput laut dihasilkan melalui budidaya, seperti diungkapkan Artati Widiarti, Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan.
 
“Budidaya rumput laut di Indonesia berbasis laut dengan metode tali panjang dan tali dari bawah air mendominasi budidaya rumput laut. Sentra budidaya rumput laut di Indonesia di Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Industri pengolahan rumput laut juga sudah berkembang di Indonesia. Rumput laut diolah menjadi karaginan, agar-agar dan alginat,” ucapnya dalam Konferensi Laut PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) secara daring, belum lama ini.
 
Sementara untuk potensi rumput laut sendiri, papar Artati, Indonesia memiliki beragam jenis rumput laut, yakni 903 spesies, 268 genus dan 89 famili. Namun dari semuanya hanya lima spesies yang menjadi komoditas ekspor, yakni Cottonii sebesar 55,1%; Gracilaria (30,4%); Spinosum (13,7%); Sargassum (0,7%) dan Celidium (0,026%). Hingga kini baru sebanyak 2,25% dari 272.336 hektare (ha) potensi laut yang ada di Indonesia telah dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut.
 
Disebutkannya, produksi rumput laut Indonesia pada 2020 sebanyak 10.298.000 ton dengan volume ekspor 195.574 ton dan nilai ekspornya mencapai USD 279.580.000. Pada 2020 ekspor terbesar Indonesia adalah rumput laut kering sebesar USD 192,6 juta atau 71 % dari total ekspor rumput laut. 
 
Rumput laut dari Indonesia diekspor ke China, Amerika Serikat (AS), dan Jepang. Sekitar 98% dari volume ekpsor tersebut berasal dari budidaya dan sisanya dari panen liar (Sargassum, Celidium, Caulerpa, Ulva, dan Halymensia).
 
Selanjutnya Artati menguraikan, pemerintah menjalankan sejumlah program dalam pengembangan budidaya rumput laut guna memperkuat perekonomian nasional. Di antaranya, memperkuat merek (branding) rumput laut Indonesia di pasar global, sebab Indonesia tidak hanya sumber bahan baku tetapi juga berbagai produk turunannya.
 
“Lalu mengoptimalkan peran jaringan inovasi rumput laut tropis (TSIN) melalui platform digital untuk menjembatani kebutuhan komersial dengan penelitian. Silakan kllik: seaweednetwork.id. Serta mendukung inisiatif global untuk memberikan insentif kepada petani rumput laut atas peran mereka dalam mitigasi perubahan iklim,” tambahnya.
 
Produksi rumput laut dari budidaya juga dipaparkan oleh Prof Lim Phaik Eem, Deputi Direktur Institute of Ocean and Earth Sciences, University of Malaya-Malaysia di acara yang sama. Ia menyatakan, Malaysia memiliki lebih 400 kilometer (km) kawasan penanaman rumput laut yang tersebar di semenanjung Malaysia dan Sabah. Di semenanjung Malaysia, rumput laut dibudidayakan di Langkawi, Sg Petani, Pulau Pangkor, Lukut dan Pengerang. 
 
Sementara di Sabah, rumput laut dibudidayakan di Kota Belud, Sandakan, Lahad Datu, Kunak, Semporna dan Tawau. Jadi Sabah merupakan sentra utama budidaya rumput laut. Prof Lim menyebut, sebagian besar budidaya rumput laut di Malaysia masih bersifat tradidisional. 
 
Tambah Prof Lim, budidaya rumput laut di Malaysia juga menjadi mata pencaharian masyarakat pesisir. Sebagian besar rumput laut yang dihasilkan petani dijual dalam bentuk bahan baku. 
 
“Selain itu di Malaysia, rumput laut sudah diolah menjadi berbagai macam makanan olahan, seperti karaginan, agar-agar dan alginat. Juga sudah dilakukan diversifikasi produk, menjadi ekstrak rumput laut untuk pertumbuhan tanaman, kertas seni, papan partikel atau produk sejenis lainnya,” ungkap Prof Lim Phaik Eem yang mengupas soal pengembangan rumput laut untuk budidaya.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 123/15 Agustus - 14 September 2022
 

 
Aqua Update + Gelombang + Cetak Update +

Artikel Lain