Senin, 15 Agustus 2022

Pratita Budi Utami: Menjadi Nelayan sekaligus Pembuat Sampan

Pratita Budi Utami: Menjadi Nelayan sekaligus Pembuat Sampan

Foto: Dok. Pribadi


Mengikuti jejak kehidupan pembuat sampan di Kalimantan Barat yang membuat sampannya dari papan kayu
 
Sambat siang ini tidak dirasa oleh Bang Jon, nelayan sekaligus pembuat sampan (perahu nelayan kecil) di Dusun Sungai Limau – Desa Batu Ampar, Kalimantan Barat (Kalbar). Kegiatan masih berjalan normal. Pembuatan sampan pun masih dilakukan, turun untuk melautpun juga akan ia lakukan petang ini. “Sambat” yang sering digunakan masyarakat di desanya, adalah sakit kepala hebat yang dirasakan karena nenek datok yang sudah meninggal, menegur anak cucu agar tidak bekerja keras diluar kemampuan fisik. 
 
Sebelumnya Jon bercerita, sebulan lalu ia memutuskan untuk membuat sampan. Saat ini, dia telah membuat pesanan sampan sebanyak 18 unit sampan dan dijual kepada pemesan. “Bila ada sampan yang masih belum sempurna, nantinya akan digunakan untuk kebutuhan pribadi,” ucap Jon yang merupakan nelayan ikan one day fishing (satu hari pulang) ini. 
 
Kriteria Sampan Berbahan Papan 
Sembari bercerita, Jon menjelaskan tentang pekerjaannya membuat sampan berbahan papan kayu. Dimana, papan kayu menjadi satu komoditas di Pasar Batu Ampar, yang tentu saja dengan ukuran diminati pasar dengan kualitas standar. Papan ini dihasilkan dari hutan sekitaran Batu Ampar. Sehingga, papan tersebut tidak didatangkan dari daerah hulu Kalimantan, atau dari luar kabupaten. Harga satu papan berukuran panjang 4 m, beragam dimulai dari Rp 26 ribu; Rp 40 ribu sampai dengan Rp 60 ribu. 
 
Semua papan dibeli dari pasar, sedangkan untuk rangka sampan atau ‘tajuk laut’ (dalam bahasa  las  Kecamatan Batu Ampar) diambil dari hutan dengan cara menebang pohon. Hal ini dilakukan karena ukuran rangka yang dibutuhkan tidak tersedia di pasar, sehingga harus memilih sendiri di hutan. 
 
Kriteria dalam memilih pohon yang akan ditebang adalah diameter antara 50-80cm; sedangkan untuk tinggi tidak ada masalah. Kriteria lainnya adalah jenis pohon yang digunakan (karena keterbatasan penulis dalam dunia perkayuan, maka jenis-jenis kayu disampaikan dalam bahasa  las ) kayu nyirih, kayu dungun, dan kayu luban tanduk. Harga kayu luban tanduk merupakan jenis yang paling mahal harganya, dengan umur pakai mencapai diatas 50 tahun jika sudah digunakan sebagai sampan. 
 
Menurut Jon, jenis luban tanduk  las a mirip dengan kayu belian. Kayu luban memiliki empat jenis, yaitu luban tanduk, luban payak, luban bebuas, dan luban. Namun luban payak, luban bebuas, dan luban memiliki kualitas yang cenderung standar, dengan umur pakai mencapai 25 tahun. 
 
Kayu dungun dan nyirih merupakan jenis kayu yang memiliki harga standart. Jenis kayu dengan harga standart ini, dapat bertahan sampai dengan 10 tahun sampai dengan 25 tahun. Selain ketiga jenis tersebut, masih ada ada lagi jenis lainnya. Seperti kayu abasiah. Tentu saja kayu abasiah memiliki harga dibawah dungun dan nyirih, dengan umur pakai sekitar 3 tahun saja. 
 
Menurut cerita Jon, tidak ada aturan dari pihak desa yang mengatur tentang penebangan pohon untuk kebutuhan ini. Kemudian tidak ada ritual khusus/kepercayaan/kearifan  las  yang dilakukan sebelum kegiatan menenbang pohon. Namun Jon bercerita bahwa ritual-ritual itu hanya ada ketika hutan dibuka untuk lahan berkebun. Ritual dipimpin oleh dukun  las an, rangkaian kegiatannya adalah tolak bala dan selamatan.
 
Kegiatan menebang pohon dilakukan oleh Jon sendiri, tidak mengupah orang lain. Selama kegiatan masuk hutan, menebang, memotong, sampai dengan mengangkut potongan kayu, biaya yang dihabiskan berkisar antara Rp 250 ribu sampai dengan Rp 500 ribu. Seluruh kegiatan dilakukan di dalam hutan, sehingga potongan kayu dengan ukuran lebar inilah, yang akan diangkut pulang ke rumah. 
 
Setelah seluruh bahan tersedia dan siap untuk digunakan, Jon tidak mengupah orang lain yang membantunya. Budaya tolong menolong antar warga, masih kental dirasakan. Secara pribadi pun, Jon merasa sanggup mengerjakan sampan tersebut seorang diri. “Namun ketika ada tetangga yang  las a membantu, orang tersebut tidak mau menerima upah. Hal ini juga dibuktikan dengan tidak adanya tenaga lepas/pekerja harian yang diupah untuk melakukan pembuatan sampan di Desa Batu Ampar,” paparnya.
 
Dalam kegiatan mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, Jon butuh waktu 5 hari. Kemudian hari ke 6 sampai dengan ke 10, digunakan untuk mengeringkan kayu. Kayu yang dibeli Jon memiliki kualitas tidak terlalu baik. Karena, umur kayu masih cenderung muda, dan jenis kayunya merupakan jenis yang memiliki kualitas standart. 
 
“Kayu jenis ini yang ketersediaannya di pasar selalu ada. Jika pengrajin/nelayan menginginkan kayu dengan kualitas jenis kayu yang baik, dan umur kayu sudah tua, harus memesan terlebih dahulu. Sehingga kayu muda, dengan kualitas sedikit dibawah standar menjadi pilihan satu-satunya,” terang abang yang gemar merantau ini. Setelah kayu sudah cukup kering, 15 hari selanjutnya digunakan untuk menarik dan membentuknya. 
 
Pembuatan Sampan
Dalam proses pembuatan, Jon menerangkan bahwa pembuat sampan biasanya menggunakan metode bakar untuk membentuk kayu. Tujuannya, agar mudah dibentuk melengkung mengikuti rangka sampan. Dengan menggunakan metode bakar, proses membentuk kayu menjadi sangat singkat berkisar antara 1 sampai 2 hari saja. 
 
Namun bagi Jon, metode bakar dapat merusak urat kayu sehingga metode ini tidak digunakan. Metode yang digunakan Jon adalah menarik kayu secara bertahap. Pada 5 hari pertama, kayu tidak terlalu ditarik kuat. Namun pada 5 hari kedua, tegangan kayu semakin ditambah dan disesuaikan dengan bentuk yang akan diinginkan. Kemudian pada 5 hari ketiga, kayu ditarik semakin kuat sehingga papan kayu telah berbentuk lengkung sempurna. Setelah rangkaian pengeringan dan penarikan, kayu siap untuk digunakan. 
 
Pembuatan sampan tidak menggunakan lunas, namun menggunakan “gong”. Gong disusun dari satu papan kayu utama, membujur dari depan ke belakang. Papan kayu inilah yang menjadi kunci ukuran sampan, agar menjadi presisi antara lebar dan panjangnya. Jika ukuran gong telah dihitung matang, maka bagian lainnya hanya tinggal mengikuti gong tersebut. 
 
Sistem pembayaran hanya dilakukan ketika calon pembeli memesan kepada Jon, untuk dibuatkan satu sampan. Ketika sampat telah selesai dibuat, nama pembeli tersebut  las a mengambil sampannya dan transaksi jual beli dilakukan. Ukuran lebar sampan kurang dari 1 meter, dengan panjang 6 meter, harganya berkisar Rp 3,5 juta. Harga ini untuk sampannya saja. 
 
Jika sampan tersebut telah diberi mesin, maka harganya berkisar Rp 10 juta sampai Rp 11 juta per unit. Mesin baru dengan kualitas dibawah standar berkisar antara Rp 4 juta. Jika mesin dalam kondisi second (bekas) berkisar diharga Rp 2 jutaan. Mesin sampan yang dimaksud adalah mesin berbahan bahar pertalite, sebanyak 1 unit, dengan kekuatan 5 HP (Horse Power). Untuk kebutuhan cat minyak beserta tinner, satu sampan dengan ukuran tersebut membutuhkan Rp 500 ribu. Jasa pembuat sampan menghasilkan pendapatan bersih sekitar Rp 2 juta per unit, dari harga jual Rp 3,5 juta. 
 
Jon juga bercerita, jika pemesan menginginkan sampannya dilapisi dengan fiber ia juga dapat menyanggupinya. Tahapannya adalah, sampai yang sudah seluruhnya terpasang papannya, kemudian didempul agar rongga-rongga antar papan rapat tertutup. Setelah dempul selesai dilakukan rangkaian melapisi dengan fiber dilakukan. Kemudian terakhir adalah pengecetan. 
 
Ketika pemesan menginginkan agar dilapisi fiber, harga jual sampan tersebut menjadi Rp 7 juta per unit. Kebutuhan bahan fiber dapat mencapai 15 kilogram (kg), dengan ketebalan fiber 0,7 cm. Makanya ia menyebut  las an peningkatan harganya sangat signifikan. 
 
 
Pemerhati Perikanan Kalimantan Barat
 

 
Aqua Update + Gelombang + Cetak Update +

Artikel Lain