Senin, 15 Agustus 2022

Potret Budidaya KJA Waduk Jatigede

Potret Budidaya KJA Waduk Jatigede

Foto: Dok. Rizki TROBOS


Meski dibatasi, kegiatan budidaya keramba jaring apung di Waduk Jatigede terus berputar dan menjadi tumpuan penghasilan masyarakat setempat
 
Sepanjang mata memandang, hamparan permukaan air yang tenang terlihat menyejukkan mata. Sesekali perahu motor melintas memecah ketenangan permukaan air waduk itu. Baru bari ini, tim TROBOS Aqua berkesempatan meliput ke Waduk Jatigede yang selama ini juga menjadi salah satu sentra produksi budidaya perikanan di Jawa Barat.  
 
Data menunjukkan, Waduk Jatigede, merupakan waduk terbesar kedua di Indonesia dengan kapasitas tampung mencapai 979,5 juta meter kubik air. Waduk ini dibangun dengan membendung aliran sungai Cimanuk di wilayah Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Waduk Jatigede mulai dibangun pada 2007 pada masa kepimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan diresmikan pada 2015 kemudian beroperasi normal pada 2017. 
 
Waduk Jatigede, menurut Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjajaran (Unpad),Yudi Nurul Ihsan, merupakan waduk multifungsi. Fungsi utamanya adalah sebagai cadangan air untuk irigasi bendung rentang yang berada di Jatitujuh Kabupaten Majalengka. Fungsi lainnya yakni sebagai pengendali banjir, penyedia air bersih dan pembangkit listrik tenaga air.
 
Seperti pada umumnya, lanjut Yudi, waduk ini juga dimanfaatkan untuk beragam aktivitas warga sekitar lokasi. Diantaranya yaitu sebagai sumber mata pencaharian melalui kegiatan budidaya beragam jenis ikan air tawar dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA) dan perikanan tangkap. Dikutip dari berbagai laman, hingga Maret 2022, terpantau sekitar 1.200 petak keramba yang kini berada di Waduk Jatigede, yang didominasi  ikan mas dan nila.
 
Pembudidaya dari awal Waduk Jatigede diresmikan terdiri dari masyarakat lokal. Dijelaskan Technical Support and Service PT Suri Tani Pemuka (Produsen Pakan ikan), Suganda, para pembudidaya di waduk ini terutama orang-orang yang terdampak lahan dan rumahnya akibat terkena perendaman Waduk Jatigede. Awal mula penduduk sekitar berpengasilan dari petani kebun dan sawah.
 
“Kemudian masyarakat tersebut mulai mencoba mencari keberuntungan berbudidaya ikan di keramba. Hasilnya cukup menguntungkan. Akhirnya banyak masyarakat sekitar yang ikut mencoba berbudidaya dan terus berkembang sampai saat ini,” ucap Suganda kepada TROBOS Aqua.
 
Berdasarkan informasi yang diketahui Suganda, estimasi penjualan ikan mas di Waduk Jatigede sekitar 25 - 30 ton per hari. “Ikan-ikan itu banyaknya dipasarkan ke pasar di daerah Sumedang, Bandung, Majalengka, Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran. Untuk ikan nila biasanya mengikuti pasar ikan mas,” lanjut Suganda.
 
Cerita Pembudidaya
Sejarah merintis usaha KJA sejak awal dibangunnya Waduk Jatigede diceritakan Ade Koswara yang sudah menjadi pembudidaya KJA di waduk ini sejak 2016. “Dari awal hingga saat ini, sistem budidaya yang saya lakukan adalah sistem kemitraan dengan pembagian keuntungan 50 : 50. KJA, pakan, ikan dan semua kebutuhan lainnya disediakan oleh mitra saya itu,” sambungnya.
 
Bila keuntungan dibagi dua lain cerita untuk kerugian. “Kalau sedang rugi, mitra saya tidak menuntut apa-apa. Semuanya ditanggung oleh beliau. Yang terpenting, selama melakukan budidaya, kami harus semaksimal mungkin meskipun tidak tau hasilnya nanti apa,” ujar Ade bercerita tentang mitranya yang memiliki toleransi tinggi itu.
 
Beda cerita dengan Dudu Rahayu, ia mengawali karirnya sebagai pembudidaya karena mengikuti jejak mertuanya yang telah lebih dulu menjadi pembudidaya di Waduk Jatigede. “Saya lebih kurang sudah 4 tahun menjadi pembudidaya di sini. Dari yang sepi hingga ramai seperti sekarang ini,” ujarnya.
 
Dudu berkisah, ia sudah melewati berbagai perubahan. Mulai dari harga pakan yang masih murah dan harga jual ikan dari pembudidaya Rp 20 ribu. Saat itu pembudidaya masih mendapatkan keuntungan. Kalau sekarang, harga pakan naik terus, harga benuh pun ikut naikm sedangkan harga jual ikan di pembudidaya relatif sama. Sehingga kondisi saat ini sulit bagi pembudidaya untuk meraup keuntungan dari budidaya
 
Perputaran Bisnis
Sama seperti di Waduk maupun lokasi budidaya di perairan umum lainnya, pembudidaya di Waduk Jatigede pun menggunakan jaring sebagai wadah budidayanya. Ditemui disela-sela kegiatannya, Dudu mengungkapkan, terdapat 2 jenis ikan yang dibudidayakan di Waduk Jatigede. Yakni ikan mas sebagai peliharaan utama dan ikan nila sebagai peliharaan sampingan.
 
Dengan kondisi perairan yang dapat dikategorikan masih bagus, pada jaring dolos atau jaring utama, ikan yang ditebar adalah ikan mas dengan kepadatan mencapai 4 kuintal per jaring (ukuran 6,5 m x 14 m x 6 m). Sedangkan pada jaring kolor atau jaring luar (ukuran 14 m x 14 m x 7 m), ikan yang ditebar adalah ikan di nila dengan kepadatan mencapai 3 kuintal per jaring. 
 
“Benih-benih ikan mas biasanya kami dapatkan dari Bandar yang berada di Kabupaten Subang. Umumnya benih yang ditebar adalah benih yang berukuran 8,3 - 12,5 gram/ekor atau dalam per kgnya berjumlah 80 - 120 ekor. Benih tersebut dapat dibeli dengan harga yang berkisar Rp 29 ribu per kg,” jelas Dudu.
 
Sama seperti ikan mas, Ade bercerita, benih ikan nila juga didatangkan dari Kabupaten Subang. Biasanya benih dibeli dengan harga Rp 26 ribu per kg, berisi 70 - 90 ekor atau seberat 11,1 - 14,2 gram/ekor.
 
Waktu panen adalah puncak dari kegiatan budidaya. Waktu ini bukan hanya dinantikan oleh pembudidaya, tapi juga oleh bandar dan tim panen serta tim packing. Diceritakan Dudu, dengan kondisi kualitas air yang dirasa cukup baik, panen ikan mas saat ini bisa dilakukan 2,5 - 3 bulan sekali. Sementara ikan nila dipanen setiap 5 bulan sekali. 
 
Menurut pria yang kini berusia 37 tahun itu, lama waktu panen yang berbeda dikarenakan nila hanya memperoleh pakan dari sisa pakan yang tidak termakan oleh ikan mas. Bagi pembudidaya nila hanya peliharaan tambahan dengan harapan penggunan pakan menjadi lebih efisien, tidak ada yang terbuang.
 
“Biomassa panen ikan mas dapat diestimasikan dari jumlah pakan yang dihabiskan per siklusnya. Saat ini, biomassa panen diperoleh senilai 50 - 60 % dari total pakan yang dihabiskan. Jadi, jika pakan yang dihabiskan sebanyak 1.000 kg maka biomassa ikan yang panen sekitar 500 - 600 kg. Nantinya ikan tersebut dari pembudidaya ke Bandar dijual dengan harga Rp 21 ribu per kg,” jelas Dudu.
 
Menyambung penjelasan dari Dudu mengenai panen, Ade ikut bercerita, untuk ikan nila, tidak ada nilai rupiah yang dihabiskan untuk kebutuhan pakan. Biaya yang dikeluarkan hanya untuk membeli benih. Oleh sebab itu, pembudidaya biasa menyebutnya sebagai ‘tabungan’. 
 
“Pada nila, rata-rata biomassa yang didapatkan per jaring dolos mencapai 1.000 kg. Dari tebar benih sebanyak 300 kg. Kami memperoleh keuntungan ya dari ikan nila. Karena, jika hanya mengandalkan dari hasil penjualan ikan mas, sangat sedikit keuntungan yang diperoleh,” ungkap Ade.
 
Ade menjelaskan, panen ikan dapat dilakukan secara parsial maupun total. Tergantung kebutuhan bandar. Ukuran pun beragam, mulai dari 1 kg berisi 6 ekor hingga 1 kg berisi 3 ekor. Kegiatan panen diawali dengan mempuasakan ikan selama 1 hari. Waktu panen dilakukan pada malam hari. 
 
Di Jatigede, pembudidaya cukup memantau proses pemanenan dan penimbangan. Karena peralatan dan kegiatan panen dilakukan oleh tim panen yang akan dibayar sesuai dengan jumlah balon packing yang dihasilkan. Per balon yang berisi 8 kg ikan mas, tim panen akan dibayar sebesar Rp 3 ribu rupiah.  Sementara itu, tim panen akan dibayar senilai Rp 2.500 per balon packing yang berisi 5 kg nila. 
 
Tantangan Cuaca
Tentunya budidaya KJA di waduk juga banyak tantangannya, terutama cuaca. Kegagalan panen ikan salah satu faktornya dapat disebabkan oleh penyakit. Serangan penyakit kerap terjadi ketika terjadi perubahan perairan maupun peralihan musim. Hal ini mengakibatkan turunnya produktivitas yang berimbas pada menurunnya jumlah keuntungan bahkan kerugian bagi pembudidaya. 
 
Di waduk Jatigede, penyakit ikan kerap menyerang ketika memasuki musim hujan yang terjadi pada bulan Mei hingga November. Musim hujan dapat dikatakan sebagai musik yang kurang bagus bagi para pembudidaya. Karena dapat menyebabkan kematian pada ikan hingga 15 - 20 % dari total tebar. Normalnya, kematian hanya mencapai 2 - 5 %.Di Jatigede, Ade bercerita, ikan-ikan di KJA pada musim tersebut terkadang terserang penyakit yang biasa disebut dengan nama asang. Yakni kondisi insang ikan terserang kutu dan jamur. 
 
Melanjutkan informasi yang disampaikan Ade, Suganda mengungkapkan, secara umum musim berpengaruh terhadap budidaya di Jatigede tetapi tidak begitu signifikan di banding waduk-waduk lainnya. Pada musim hujan, selain asang, ikan mas juga kerap terjadi serangan penyakit KHV (Koi Herpes Virus).
“Begitu juga yang dialami pembudidaya saat memasuki musim kemarau. Ketika musim tersebut, volume air waduk akan menurun dan suhu air menjadi dingin. Mengakibatkan nafsu makan ikan menurun dan pemberian pakan tidak maksimal,” ungkap Suganda.
 
Upaya mengatasi penyakit-penyakit tersebut hingga saat ini hanya sebatas pemberian tumbuhan herbal berupa cincangan daun pepaya, daun kelor, dan booster yang diaplikasi ke pakan. Bagi Dudu, tindakan lain yang dapat dilakukannya ketika ikan terserang penyakit hanya mengangkat jaring yang berisi ikan sakit tersebut hingga mencapai kedalam 1 m di bawah permukaan air. 
 
“Selanjutnya hanya menunggu, ikan-ikan yang sakit tersebut kembali sehat atau mati. Lama waktu menunggu dikisaran 7 - 10 hari. Biasanya lebih dari 10 hari yang tersisa adalah ikan-ikan yang sehat. Kemudian ikan dan jaring dikembali kan seperti semula,” cerita Dudu ketika ia menghadapi serangan penyakit di KJA-nya. 
 
 

Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 122/15 Juli - 14 Agustus 2022

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain