Kamis, 4 Agustus 2022

Tebar Benih Nila Salin Tervaksin

Tebar Benih Nila Salin Tervaksin

Foto: dok.istimewa


Karawang (TROBOSAQUA.COM). Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang menebar benih ikan nila salin (tahan hidup pada air payau) di wilayah penyangga kawasan budidaya Karawang.

 

Catur  Pramono  Adi - dosen Politeknik KP Karawang menjelaskan benih nila salin yang ditebar ini telah mendapatkan vaksinasi anti-streptococcosis. Vaksin ini dapat meningkatkan imunitas spesifik ikan nila terhadap serangan bakteri Streptococcus sp, yang menyebabkan kematian berkisar 30% - 80%. Serangan bakteri itu memiliki gejala spesifik berupa exophthalmia, erratic, gasping, C-shape, melanosis dan whirling.

 

Vaksin anti-streptococcosis yang dipakai merupakan karya peneliti yang sedang dalam proses paten Haki dengan kode P00202001505 yang juga didesiminasikan pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai solusi menghadapi wabah streptococcosis pada budidaya ikan nila.

 

Catur menjelaskan kegiatan ini merupakan rangkaian dari pengabdian kepada masyarakat  berupa pelatihan, pendampingan, dan bantuan benih kepada Kelompok Pembudidaya Ikan yang ada di desa Tambaksari kecamatan Tirtajaya yang bersebelahan dan menjadi supporting bagi kampung perikanan budidaya ikan nila salin, di desa Sedari, kecamatan Cibuaya, kabupaten Karawang,

 

Ikan nila salin dipilih karena mampu tumbuh cepat pada kondisi air payau, memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dari nila tawar, cita rasa dagingnya lebih disukai konsumen dan permintaan pasar yang meningkat. Secara ekonomi ikan nila salin juga cukup menjanjikan, sehingga ikan nila salin sangat cocok dikembangkan sebagai salah satu komoditas perikanan budidaya di Karawang.

 

Potensi perikanan budidaya di Karawang sangat besar jika digarap secara optimal, terlebih setelah diresmikannya desa Sedari sebagai kampung perikanan budidaya nila salin sehingga dapat memberikan semangat baru kepada pembudidaya ikan nila salin di Karawang.

 

Budidaya nila salin diharapkan mampu menghasilkan multiplier effects pada diversifikasi produk olahan dapat membantu mengatasi masalah stunting. Ikan nila  juga berperan penting bagi ketahanan pangan dan gizi bagi masyarakat. Kandungan gizi ikan nila dalam setiap 100 gramnya mengandung 18,7 gram protein, 89 kalori, 96 mg kalsium, 209 mg Fosfor dan 265,8 mg kalium.

 

Data BPS menyebutkan bahwa porsi protein hewani baru 8% dari total konsumsi pangan masyarakat Indonesia. Konsumsi protein hewani Indonesia tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina yang saat ini telah mencapai 20 – 21%. Malaysia merupakan negara dengan konsumsi protein hewani sebesar 28%. 

 

Tingkat konsumsi pangan bergizi yang rendah merupakan alarm bahwa akses pangan masih sulit. Peningkatan kemampuan akses masyarakat terhadap bahan pangan terutama bagi kalangan masyarakat miskin menjadi prioritas agar penyelesaian kasus stunting di daerah ini segera terjadi.  

 

Catur menyatakan, pengembangan nila salin ini juga harus diikuti dengan upaya menurunkan nilai fish loss dan fish waste yang biasa terjadi pada masyarakat nelayan, pembudidaya, pedagang dan konsumen.

 

Kondisi ini, menurut dia dapat diminimalkan jika dilakukan edukasi dan empowering kepada masyarakat, sehingga dapat dijadikan modal utama dalam mengatasi masalah nasional tersebut. FAO mencatat bahwa tingkat susut hasil perikanan diperkirakan masih tinggi, yaitu berkisar 20 - 45 % dan susut hasil pasca panen hasil perikanan diperkirakan masih di atas 35 %. Di Indonesia sendiri susut hasil pasca panen hasil perikanan diperkirakan masih di atas 30 %.ist/ed/ntr

 

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain