Sabtu, 16 Juli 2022

Bendungan Jebol, Pengusaha Koi Rugi 1,5 Miliar

Bendungan Jebol, Pengusaha Koi Rugi 1,5 Miliar

Foto: Dok. TROBOS Laras Lombok


Curah hujan yang tinggi pada bulan Juni yang lalu, mengakibatkan bendungan Meninting yang terletak di Kabupaten Lombok Barat-Nusa Tenggara Barat (NTB) jebol. Hal ini membuat sungai Meninting meluap dan terjadi banjir di beberapa titik desa. Dampak dari banjir tersebut juga mengakibatkan kerugian yang cukup besar bagi pengusaha ikan koi asal Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Ni Kadek Sri Dewy Danayanti. 
 
Bagaimana tidak, kolam koi milik Kadek Sri Dewy menjadi keruh serta berbau, bahkan bercampur dengan lumpur yang diakibatkan oleh luapan air. Di dalamnya ribuan ekor koi siap panen dan akan dikirim ke luar daerah, hanyut terbawa arus. Kondisi tersebut membuatnya merugi hingga mencapai angka 1,5 miliar rupiah bahkan lebih. Perempuan yang akrab disapa Sri Dewy ini mengatakan, kerugian merupakan estimasi dari jumlah koi yang dipelihara di atas lahan miliknya, seluas satu hektare (ha). 
 
“Jika kita membicarakan kerugian, tentunya sangatlah besar dikarenakan ikan yang kami pelihara itu hilang dan tak tersisa. Angka 1,5 miliar yang saya sebutkan tadi, hitungannya hanya pada kerugian jumlah ikan saja dan belum terhitung kerugian materi lainnya,” tutur Kadek Sri Dewy kepada TROBOS Aqua Sabtu (16/7). 
 
Terhitung ada sekitar 900 ekor koi berukuran 20 sentimeter (cm) yang hanyut akibat luapan sungai, dengan kisaran harga per ekornya senilai Rp 1 juta – Rp 4 juta. Sri Dewy juga mencoba untuk mengajukan keluhannya kepada pihak-pihak terkait. Selain kondisi ikan yang terbawa arus air, kondisi kolam pembesaran yang dipenuhi lumpur juga membuat ikan koi yang dipeliharanya mengalami kematian. 
 
Di sisi lain, pihak Balai Wilayah Sungai (BWS) NTB yang diminta untuk bertanggung jawab atas kejadian ini, menanggapi protes dari pengusaha ikan koi yang mengalami kerugian. Humas BWS Nusa Tenggara Barat, Yemi Yordani menegaskan bahwa luapan sungai Meninting yang terjadi pada bulan Juni yang lalu, terjadi akibat fenomena alam. 
 
“Banjir tersebut murni disebabkan oleh cuaca atau fenomena alam, dan tentunya hal tersebut di luar kendali kami. Jika menuntut ganti rugi silahkan lapor ke kejaksaan,” tutur Yemi Yordani.laras

 
Aqua Update + Headline Aquanews + Cetak Update +

Artikel Lain