Jumat, 15 Juli 2022

Susun Kembali Sistem Marikultur Indonesia

Susun Kembali Sistem Marikultur Indonesia

Foto: 


Usaha budidaya laut di Indonesia masih punya peluang untuk dipulihkan, meski membutuhkan waktu, upaya, dan kekompakan para pemangku kepentingan
 
Pandemi Covid-19 global perlahan mulai mereda dan diikuti dengan tumbuhnya kegiatan ekonomi di sebagian besar sektor produksi terutama sektor manufaktur, namun nampaknya belum pada sektor budidaya perikanan. Sub-sektor budidaya laut bahkan telah “menderita” sebelum pandemi melanda, meskipun Indonesia memiliki potensi yang luar biasa sebagai calon produsen ikan laut terbesar di khatulistiwa.
 
Berdasarkan informasi yang terdengar, telah terjadi penurunan jumlah keramba laut terutama untuk budidaya kerapu yang disebabkan oleh polemik kegiatan budidaya laut yang menyertainya. Akibat banyaknya polemik yang terjadi, produksi dan perdagangan ikan kerapu hidup ke Hong Kong telah berkurang hingga 20% dari volume awal. Situasi tersebut menyebabkan terjadinya peralihan orientasi bisnis yang lebih memilih mengekspor benih ikan laut dibanding membesarkan di dalam negeri.
 
Disisi lain, ikan kakap putih (yang dikenal sebagai Salmon Asia) juga berada diposisi yang sama. Ini dikarenakan produksi dan pemasarannya sangat dipengaruhi oleh politik perikanan tangkap dan efisiensi produksi atau promosi pemasaran.
 
Indonesia Mariculture Forum
Menanggapi kondisi tersebut, United States Soybean Export Council (USSEC) dan Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) menginisiasi pelaksanaan acara Indonesia Mariculture Forum (IMF) dengan fasilitasi TROBOS Communication sebagai pelaksana.
 
Acara ini bertujuan mengumpulkan pemangku kepentingan marikultur nasional guna menyusun peta jalan (road map) dan rencana aksi atau strategi untuk membangun dan menghidupkan kembali sistem budidaya laut Indonesia.
 
Pamudi dari USSEC sebagai inisiator acara menyatakan bahwa pertemuan ini sangat penting dilaksanakan untuk menyatukan kembali visi dan misi besar untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen ikan laut terbesar di khatulistiwa. Kemampuan kita untuk belajar dari kegagalan masa lalu perlu diantisipasi dengan perencanaan dan pengelolaan yang lebih baik dan dukungan semua pihak agar industri ini dapat menarik investasi baru sehingga tercipta industri budidaya laut yang terintegrasi, efisien, menguntungkan, dan berkelanjutan. Acara IMF ini diselenggarakan pada tanggal 14 Juni 2022 di Hotel Conrad Bali, Nusa Dua.
 
Tema yang diusung pada acara ini adalah ‘Rebuilding And Reviving The Indonesia Mariculture System’. Acara ini disponsori oleh USSEC melalui pendanaan dari QSSB (North Dakota Soybean Council, Nebraska Soybean Board, Iowa Soybean Association, dan South Dakota Soybean Research and Promotion Council), Nutricell, Skretting, STP Japfa, dan Matahari Sakti dengan TROBOS Aqua sebagai media partner.
 
Acara ini dihadiri hampir 50 orang peserta dari berbagai daerah dan profesi, diantaranya berasal dari unsur pemerintahan, pembudidaya dan pembenih ikan
laut, asosiasi industri, pengolah dan eksportir ikan laut, pakar dan akademisi, serta industri pemasok pakan, additive dan lainnya. Guna menjawab kegelisan dan harapan- harapan agar dapat membangunkan serta menghidupkan kembali budidaya laut, USSEC dan MAI menghadirikan berbagai pembicara yang selama ini fokus terhadap industri budidaya laut.
 
Hadir sebagai narasumber diantaranya Hsiang Pin Lan dari USSEC, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri dari MAI, Budhi Wibowo dari AP5I (Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia), Fauzan Bahri dari PT. Skretting Indonesia, dan Dr. Robert Vassallo Agius dari USSEC. Acara ini terbagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berisikan pemaparan materi oleh para narasumber dan sesi tanya jawab dalam aspek kebijakan serta tantangan dalam seluruh mata rantai pasok (value chains) yang dipandu oleh Pamudi dari USSEC sebagai moderator. Sementara itu, sesi kedua dipandu oleh Muhibbudin Koto
dari MAI.
 
Sesi kedua lebih mengarah kepada diskusi lebih lanjut terutama dalam aspek kebijakan, logistik dan pengembangan pemasaran produk ikan laut. Sebagai narasumber pertama, Hsiang Pin Lan sebagai ahli budidaya laut USSEC menyampaikan informasi mengenai dukungan teknis USSEC untuk industri budidaya
perikanan di seluruh dunia. “USSEC Aquaculture memiliki program utama untuk mendukung industri budidaya yang menggunakan pakan komersial dikarenakan
pakan ikan menggunakan kedelai sebagai bahan baku utama. Selain itu, USSEC juga memiliki berbagai aktivitas khusus dalam pengembangan teknologi diantaranya riset di bidang nutrisi pakan, data base bahan baku dan nutrisi pakan global (IAFFD), In-Pond Raceway System (IRS) dan lain sebagainya,” jelas Hsiang Pin Lan.
 
Potensi Marikultur
Pemaparan kedua yaitu Prof Rokhmin Dahuri, Ph.D. yang mengangkat materi mengenai strategi pengembangan marikultur untuk meningkatkan daya saing Indonesia, ekonomi inklusif pertumbuhan dan kemakmuran dengan cara berkelanjutan. Menurut Rokhmin, sektor perikanan budidaya khususnya budidaya laut diyakini memiliki andil yang sangat besar potensinya untuk mengatasi semua masalah dan tantang an pembangunan, sekaligus berkontribusi pada terwujudnya negara maju, sejahtera dan Indonesia berdaulat pada tahun 2045.
 
Hal tersebut disebabkan oleh enam alasan utama. Yang pertama, sebagai negara kepulauan terbesar di bumi dengan 75% dari total luas wilayahnya laut dan 25% wilayah daratannya berupa ekosistem air tawar, Indonesia memiliki potensi perikanan budidaya berkelanjutan terbesar di dunia. Kedua, sejak tahun 2003 produksi budidaya laut telah menjadi kontributor dominan terhadap total produksi perikanan budidaya Indonesia, lebih dari 50%.
 
Ketiga, karena sebagian besar komoditas dan produk budidaya laut Indonesia adalah diekspor, budidaya laut juga merupakan penyumbang penting bagi devisa negara. Keempat, sebagian besar masyarakat Indonesia secara teknologi mampu melakukan budidaya laut yang merupakan bisnis yang cukup menguntungkan.
 
Kelima, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan konsumsi ikan dan makanan laut per kapita di dunia, maka permintaan hasil budidaya laut baik domestik maupun global juga akan meningkat. Terakhir, menurut definisi budidaya laut adalah produksi (penetasan dan/atau pemeliharaan) tanaman, hewan, alga, dan invertebrata dalam ekosistem laut.
 
Pengembangan Pasar
Narasumber selanjutnya adalah oleh Budhi Wibowo yang merupakan Ketua AP5I, dalam acara IMF lalu memaparkan materi mengenai peluang pengembangan pasar produk beku budidaya laut (frozen marine products).
 
Budi mengatakan, berdasarkan informasi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, ekspor produk perikanan Indonesia pada tahun 2021 tercatat senilai US$5.716.370.211. Budi pun menjelaskan kondisi terbaru pasar terkini. Menurutnya, pasar untuk food service: restoran, kafe, dan katering turun sangat tajam (turun sekitar 80 % pada awal pandemi), namun saat ini sudah sedikit membaik turunnya menjadi sekitar 30 % dibandingkan sebelum pandemi. Lalu pasar untuk ritel (konsumen akhir) melalui retailer besar (modern market), retailer kecil, penjualan online tumbuh pesat, dan permintaan produk - produk olahan value added terutama siap saji dan siap masak (ready to eat/ready to cooked) meningkat dengan pesat.
 
Tak lupa Budi pun memberikan strategi pemasaran industri peng olahan perikanan yaitu memperbanyak penjualan ke retail atau konsumen akhir (terutama produkproduk value added seperti siap dimasak atau siap disantap). Narasumber keempat yaitu Fauzan Bahri sebagai perwakiln PT Skretting Indonesia. Fauzan mengatakan, dilihat dari sedikitnya perusahaan besar yang masih bertahan, dapat diketahui bahwa hasil industri marikultur Indonesia kian menurun.
 
Menurut data yang dikutip dari sejumlah sumber, produksi pakan ikan laut masih jauh dibawah produksi pakan untuk komoditas ikan air tawar maupun udang. Pada tahun 2021, tercatat jumlah pakan untuk komoditas laut hanya 5.376 ton, sementara untuk komoditas payau yaitu udang vannamei mencapai 412.031 ton dan komoditas air tawar mencapai 1.203.840 ton. Dia juga memprediksi jumlah pakan ikan laut pada tahun 2022 hanya sebesar 5.591 ton, untuk komoditas payau yaitu udang vannamei mencapai 444.993 ton dan komoditas air tawar mencapai 1.277.659 ton.
 
“Di marikultur terdapat 5 pilar yang apabila telah dikuasai dengan baik maka meningkatkan hasil industri marikultur bisa dilakukan dengan mudah. Yang dimaksud 5 pilar itu adalah induk dan genetik, teknologi budidaya, pasar, serta kebijakan dan regulasi, serta teknologi nutrisi,” ucap Fauzan siang itu.
 
Narasumber terakhir yaitu Dr. Robert Vassallo Agius sebagai konsultan USSEC. Robert menjelaskan betapa pentingnya nutrisi pakan untuk induk ikan laut agar memiliki fekunditas dan kualitas telur yang lebih baik. Kebutuhan akan nutrisi setiap spesies yang berbeda memiliki persyaratan yang berbeda pula, baik untuk pertumbuhan maupun persyaratan khusus lebih lanjut untuk reproduksi.
 
Untuk mengetahui masing-masing nutrisi yang dibutuhkan, maka perlu adanya eksperimen yang dilakukan di banyak spesies yang berbeda. Hal ini guna untuk mengidentifikasi nutrisi mikro yang penting untuk menghasilkan fekunditas tinggi dan kualitas telur yang baik nantinya. TROBOS/Adv

 
Aqua Update + Advertorial Aqua + Cetak Update +

Artikel Lain