Jumat, 15 Juli 2022

Kurniawan: Mengenal Perikanan Tangkap di Zona Tambang

Kurniawan: Mengenal Perikanan Tangkap di Zona Tambang

Foto: Istimewa


Subsektor perikanan tangkap di Bangka Belitung melibatkan tak kurang dari 50 ribu rumahtangga nelayan, dengan anggota keluarga nelayan setidaknya 150 ribu jiwa 
 
Perikanan tangkap di Bangka Belitung (Babel) memiliki ciri khas yang jarang dijumpai di daerah lain, karena 50% kawasan pesisirnya merupakan zona tambang. Maka pasti ada pertanyaan, apakah bisa menangkap ikan dengan bebas di zona tambang, bagaimana teknologinya? Apakah boleh menggunakan semua jenis alat tangkap, atau hanya satu-dua alat tangkap yang diperbolehkan, yang itu artinya hanya spesies ikan tertentu yang boleh diambil?  
 
Karena, bisa dikatakan perairan zona tambang berbeda dibanding perairan umum yang tidak terdapat zona tambang. Dimana di perairan tanpa zona tambang, bisa bebas dilakukan kegiatan penangkapan ikan tanpa memperhatikan ada atau tidaknya kegiatan pertambangan di situ. Bisa jadi ternyata di kawasan zona tambang tersebut hanya satu atau dua jenis alat tangkap yang diperbolehkan.
 
Semua itu dapat terjawab setelah dilakukan serangkaian kajian. Tidak menutup kemungkinan pada  zona tambang terdapat potensi perikanan. Selain kajian mengenai potensi penangkapannya, juga aspek keamanan dan mutu ikan yang ditangkap pada zona tambang itu, masih sangat sangat terbuka peluangnya untuk dikaji dengan segala kompleksitasnya.
 
Di samping itu zona tambang ini tidak hanya dilakukan di perairan laut, tapi juga di sepadan sungai. Sehingga, kajian perikanan tangkap ini tidak hanya bisa dilakukan di zona tambang perairan laut, melainkan juga perairan umum seperti sungai.
 
Dengan adanya kajian, seperti aspek kajian analisis kelayakan spasial, dapat diketahui dan dikembangkan kegiata penangkapan ikan di zona tambang. Juga bisa dilihat hingga diaplikasikan teknologi yang pas atau terbaru dalam kegiatan penangkapan ikan yang khusus dilakukan di zona tambang.
 
Peran SDM dan Inovasi Teknologi
Dengan kajian perikanan tangkap di zona tambang ini diharapkan bisa membantu nelayan dalam usaha penangkapan ikannya. Karena bisa dikatakan, potensi perikanan tangkap di Babel sangat besar dengan melibatkan tak kurang dari 50 ribu rumahtangga nelayan, dengan anggota keluarga nelayan setidaknya 150 ribu jiwa. 
 
Maka, ibarat peribahasa ada gula ada semut, besarnya jumlah nelayan tentu menggambarkan banyaknya warga yang berharap mendapatkan penghidupan dari kegiatan penangapan ikan ini. OIeh karena itu, perikanan tangkap di Babel khususnya, memerlukan sumberdaya manusia (SDM) untuk menggarap kegiatan penangkapan, membuat peralatan, mengatur penangkapan dan mengembangkan teknologi dan inovasi. Bahkan sampai kepada analisis ekonomi dan sosial dari sisi komoditas / spesies tangkapan maupun masyarakat nelayannya.  
 
Inovasi teknologi penangkapan dan alat tangkap merupakan peran yang paling tampak  dari bidang perikanan tangkap ini. Diantaaranya modifikasi dan modernisasi peralatan tangkap tradisional, kajian rancang bangun / desain dan konstruksi kapal penangkap ikan yang disesuaikan dengan daya jelajah, karakter laut, jenis ikan yang ditangkap dan alat tangkap yang sesuai. Selain itu juga pengembangan kapal penangkapan ikan berteknologi internet dan fish finder yang lebih modern.
 
Kajian Mutu
Selain besarnya peran SDM dan inovasi teknologi, aspek-aspek lainnya juga berpengaruh dalam kegiatan perikanan tangkap, baik di zona tambang maupun zona lainnya. Yang mana, kegiatan perikanan tangkap ini nantinya diharapkan bisa menghasilkan ikan berkualitas untuk kemudian membantu pendapatan nelayan sehingga kesejahteraannya meningkat.
 
Diantaranya, aspek mutu hasil tangkapan, yang terkait dengan kondisi perairan, fasilitas alat tangkap, perlengkapan pendinginan, dan perlakuan hygiene sejak dari kapal hingga saat pendaratan.Mutu yang dimaksud adalah bagaimana proses ikan itu tertangkap kemudian sampai diekspor. 
 
Yakni, bagaimana cara memenuhi persyaratan mutu dan perizinan untuk masuk pasar Eropa dan Amerika Serikat yang sangat ketat terkait mutu itu dipenuhi. Sehingga sejak ikan itu ditangkap dan naik ke atas kapal itu sudah harus dimulai prosedur penjaminan mutunya. Jadi mungkin banyak yang tidak tergambarkan sebelumnuya, sebelumnya dikira hanya membahas sampai alat tangkap saja yang dipelajari. 
 
Maka dari itu diperlukan pula kajian mutu hasil tangkapan di laboratorium. Spesies ikan tankapan unggulan pada umumnya merupakan komoditas ekspor, padahal konsumen luar negeri sangat memperhatikan kualitas makanan yang dimasukkan ke mulutnya. Harus disajikan data traceability, mulai dari lokasi perairan ikan itu ditangkap, status perairan tercemar atau tidak, metode penangkapannya, dll. Semua data itu dapat ditelusuri melalui barcode / QR code yang tertempel pada kemasan ikan dikirimkan.
 
Untuk itulah, harus dipastikan penangkapan bukan di perairan yang tercemar, bukan di wilayah-wilayah industri yang kedapatan pabrik membuang limbah yang sebarannya bisa terdampak ke biota perairan. Jika dilakukan penangkapan di situ, tentunya ikan yang ditangkap tidak bisa dikirim ke luar negeri karena tidak sesuai dengan standar yang mereka minta.
 
Aspek Sosial - Ekonomi
Di samping aspek teknis di lapangan, aspek sosial ekonomi pun turut berperan dalam kegiatan perikanan tangkap seperti di kawasan zona tambang. Antara lain, analisis aspek sosial budaya melalui kajian masyarakat pesisir dan nelayan. Misalnya, kajian sosial budaya di kawasan nelayan yang banyak menggunakan alat tangkap pukat tarik. Latar belakang budayanya apa, termasuk adat istiadat, agama dan seterusnya itu menjadi kajian masyarakat pesisir itu. 
 
Kajian ekonomi kawasan perikanan tangkap juga dilakukan, karena kegiatan penangkapan ikan ujungnya adalah pendapatan masyarakat. Dipengaruhi oleh kebutuhan pasar, aspek bahkan dinamika perdagangan luar negeri jika spesies ikan yang ditangkap merupakan komoditas ekspor. 
 
Ikan menjadi barang ekonomi, yang seringkali mengalami fluktuasi harga, lonjakan permintaan, kelangkaan, dan lain-lain. Selanjutnya bagaimana dengan analisis usahanya yang karena bagaimanapun kegiatan penangkapan membutuhkan para pengusaha perikanan. Ini penting untuk menumbuhkan pengusaha perikanan tangkap khususnya di daerah-daerah kepulauan. Selain aspek potensi hasil tangkapannya, juga aspek daya dukung alam dan pasokan sarana-prasarana penangkapannya.
 
Terlebih, setiap kawasan biasanya memiliki potensi spesies ikan hasil tangkapan yang berbeda. Setiap spesies memiliki volume permintaan pasar dan harga yang berbeda-beda pula. Sehingga akan terjadi perbedaan jenis alat tangkap, jenis kapal yang dimiliki, hingga bermuara pada perbedaan pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan pada masing-masing kawasan. Maka menjadi sangat dimengerti jika pada akhirnya masing-masing kawasan akan memiliki karakter sosial budaya masyarakat juga beragam. 
 
 
Dosen Program Studi Perikanan Tangkap, Universitas Bangka Belitung (diolah dari podcast 
 Universitas Bangka Belitung)
 
 

 
Aqua Update + Gelombang + Cetak Update +

Artikel Lain