Jumat, 15 Juli 2022

Memakmurkan Masyarakat melalui Industri Marikultur

Memakmurkan Masyarakat melalui Industri Marikultur

Foto: Dok. TROBOS Dian


 

Strategi terukur dari hulu ke hilir dari semua stakeholder
 
 Menurut Rokhmin Dahuri, Ketua MAI (Masyarakat Akuakultur Indonesia) sektor perikanan budidaya, khususnya budidaya laut (marikultur) diyakini memiliki andil yang sangat besar potensinya untuk mengatasi masalah dan tantangan pembangunan Indonesia. Mengingat, tantangan saat ini , Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita Indonesia pada 2021 tercatat hanya USD 3.870. Nilai itu menempatkan Indonesia sebagai negara berpenghasilan menengah ke bawah. 
 
Terdapat beberapa alasan mengapa sektor perikanan diyakini dapat membawa Indonesia menjadi lebih baik. Diantaranya, ungkap Rokhmin, pertama, sebagai negara kepulauan terbesar di Bumi, Indonesia memiliki perikanan budidaya berkelanjutan terbesar potensi produksinya di dunia. Yaitu sekitar 100,06 ton per tahun. Dan 60 juta ton per tahunnya adalah dari budidaya laut. 
 
Alasan kedua, tambah Rokhmin, sebagian besar komoditas dan produk budidaya laut Indonesia adalah diekspor. “Budidaya laut juga merupakan penyumbang penting bagi pendapatan devisa negara,” terangnya dalam acara Indonesia Mariculture Forum beberapa waktu lalu. 
 
Rokhmin melanjutkan, alasan ketiga, sebagian besar masyarakat Indonesia secara teknologi mampu melakukan budidaya laut yang merupakan bisnis yang cukup menguntungkan. Selain itu, budidaya laut juga merupakan kegiatan padat karya sektor (usaha) yang dapat menyerap lebih banyak karyawan (pekerja).
Selanjutnya, alasan keempat, permintaan budidaya laut komoditas dan produk baik domestik maupun global juga akan meningkat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan per kapita dunia konsumsi ikan dan makanan laut, dan produksi budidaya meratakan produksi ikan dari penangkapan perikanan (sekitar 80 juta ton per tahun).
 
Alasan terakhir, papar Rokhmin, menurut definisinya budidaya laut adalah produksi (penetasan dan/atau pemeliharaan) tanaman, hewan, alga, dan avertebrata dalam ekosistem laut. Oleh karena itu, budidaya laut tidak hanya sumber protein hewani, vitamin, dan mineral dari ikan bersirip, moluska, krustasea, dan avertebrata. Tapi juga, sumber bahan baku untuk perhiasan industri (mutiara dari tiram), makanan dan minuman fungsional (sehat), industri farmasi, kosmetik, pulp dan kertas, film, biofuel, dan industri lainnya.
 
Potensi budidaya laut juga diyakini oleh Budhi Wibowo, Ketua AP5I (Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia). Hal ini mengacu pada data ekspor produk perikanan Indonesia pada 2021 mencapai nilai total sebesar 5.716.370.211 USD. Angka tersebut merupakan hasil dari ekspor beragam komoditas yang diantaranya termasuk dari hasil budidaya laut.
 
Komoditas pendulang nilai ekspor tersebut diantaranya; udang (39%); tuna, tongkol dan cakalang (13%); cumi, sotong, dan gurita (11%); rajungan dan kepiting (11%), rumput laut (6%); dan ikan lainnya (20%). Produk marikultur indonesia sejauh ini banyak diekspor ke beberapa negara besar di dunia. Yakni, Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Eropa serta negara tetangga (ASEAN).
 
Strategi Pembangunan Budidaya
Meskipun budidaya laut potensial, bahas Rokhmin, terdapat beragam tantangan untuk mengembangkan sektor ini secara berkelanjutan. “Kendala dan tantangan utama untuk pembangunan budidaya laut berkelanjutan di Indonesia meliputi penyediaan benih; sistem produksi; umpan; penyakit; polusi; konflik pemanfaatan ruang laut dengan sektor pembangunan lainnya; pasar; dan kekurangan infrastruktur. Belum lagi kurangnya sistem logistik yang terintegrasi; kurang terampil dan berdedikasi tenaga kerja; suku bunga tinggi dan persyaratan pinjaman kredit bank yang sulit; serta kurangnya iklim investasi yang kondusif,” jelas Rokhmin secara rinci.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 122/15 Juli - 14 Agustus 2022

 

 
Aqua Update + Gelombang + Cetak Update +

Artikel Lain