Jumat, 15 Juli 2022

Pasar Nila Kian Mengila

Pasar Nila Kian Mengila

Foto: Dok. TROBOS


Bermainlah ke muara, jangan lupa pancing ikannya Liriklah pasar ikan nila, cukup elok penampakannya 
 
Pantun di atas menggambarkan harga ikan nila yang trennya terus naik. Dan hal ini mengindikasikan prospek permintaan permintaan yang terus tumbuh. Untuk menggambarkan lebih detail, tren ini dipaparkan terlebih dulu melalui data produksi nila oleh pemerhati pasar nila, Suhana. Ia menjabarkan data produksi nila nasional pada 2020 lalu.  
 
Dalam data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang diolah, Jawa Barat (Jabar) menempati peringkat pertama dengan jumlah produksi 256.537 ton. “Kemudian diikuti Sumatera Barat (Sumbar) dengan jumlah 107.729 ton; Sulawesi Utara (Sulut) sebanyak 96.313 ton; Sumatera Utara (Sumut) sejumlah93.656 ton, dan Jawa Tengah (Jateng) sejumlah 93.569 ton,” ungkap Suhana dalam acara Aquabinar TROBOS yang disiarkan via Zoom dan Youtube beberapa waktu lau.
 
Data produksi ini jika dirangkum dari 2017 lalu, mengalami pelbagai perubahan. Dimana, terdapat kecenderungan tren penurunan produksi di beberapa daerah. Dirangkum dari data KKP, produksi nila di Jabar sempat menyentuh angka 343.361 ton pada 2017 lalu. Sementara di Sumbar, pada 2017 lalu, produksi nila sempat mencapai 114.391 ton. Di Sulut, mencapai 95.571 ton; di Jateng mencapai 120.729 ton. Sedangkan di Sumut, terjadi kenaikan produksi dibanding 2017 lalu, dimana saat itu produksi nila di daerah ini mencapai 51.187 ton.
 
Walau sebagian besar daerah di lima peringkat teratas produsen nila mengalami tren penurunan, dari 2021 hingga 2022 ini terjadi perubahan signifikan. Yaitu, dari segi harga, nila cenderung stabil atau bahkan lebih tinggi.
 
Tren Positif
Berdasarkan data yang dirangkum TROBOS Aqua dalam kurun tahun 2017-2022, terekam tren harga nila per kilogram (kg) nya (1 kg isi 4-5 ekor) di beberapa daerah. Seperti telah diangkat dalam beberapa edisi sebelumnya, harga nila budidaya kolam pada 2017 lalu terekam di kisaran Rp 22-24 ribu per kilogram di daerah Jabar. 
 
Untuk 2018, harga nila tercatat Rp 19 ribu per kg di kawasan budidaya keramba jaring apung (KJA) Lampung. Pada 2019 di rata-rata Rp 23 ribu per kg di KJA daerah Sumatera Utara (Sumut) dan Rp 20 ribu per kg di Jabar (budidaya kolam). 
 
Memasuki 2020, dimana pandemi Covid-19 merebak, terjadi beberapa perubahan terhadap harga nila. Yang mana, kisaran harga nila di awal-awal tahun berada di angka Rp 22-22,5 ribu per kg di KJA Lampung kemudian turun menjadi Rp 19-19,5 ribu per kg ketika memasuki pertengahan tahun. 
 
Sementara di Jabar (kolam), harga nila berkisar Rp 24 ribu per kg di triwulan awal 2020, kemudian naik menjadi Rp 26 ribu per kg. Di Jabar ini, harga dari KJA masih berkisar di angka Rp 18-20 ribu per kg.
 
Sempat terseok-seok karena pandemi di 2020, beranjak ke 2021, harga nila dari data penulisan TROBOS Aqua, stabil di kisaran Rp 20 ribu per kg di kolam (Sumut). Untuk di kawasan Jawa Tengah (Jateng), harga nila berkisar di Rp 25 ribu per kg (kolam). 
 
Pada 2022 ini, terpantau harga nila di Lampung berkisar Rp 20 ribu per kg (telah ditulis dalam edisi 117 TROBOS Aqua). Untuk harga pasar, disadur dari https://datacenterpds.id/warta-ikan tercatat harga nila nasional per Juli ini. Diantaranya; harga nila di Jabar terpantau Rp 35 ribu per kg dan di Jateng Rp 27-29 ribu per kg. Sedangkan dalam https://pasarikan.dkp.sumbarprov.go.id/ terpantau kisaran harga nila di  Sumatera Barat (Sumbar) Rp 36 ribu per kg.  
 
Bisa disimpulkan dalam kurun 2017-2022, harga nila domestik berkisar antara Rp 18-25 ribu per kg dengan perhitungan budidaya di kolam dan KJA. Pada awal pandemi 2020 lalu, harga nila sempat tergoncang dan menjadi fluktuatif untuk kemudian menanjak di atas Rp 20 ribuan per kg-nya dari 2021 hingga semester awal 2022 ini. 
 
Tren harga yang cukup tinggi di level konsumen, menurut Agus Cahyadi, praktisi nila RAS (Recirculating Aquaculture System) asal Bogor-Jabar merupakan satu indikator permintaan pasar nila terus meningkat. Dari kalkulasinya, diperkirakan tren pasar nila dari harga setiap tahunnya meningkat sekitar 8-10%.
“Tren kecenderungan kenaikan pasar nila dikarenakan empat faktor yakni harga yang kompetitif;preferensi konsumen terhadap kesukaan nila tinggi; meningkatnya kudapan nila dengan berbagai macam kuliner; serta promosi nila rendah kolesterol, rendah lemak, dan padat protein sehingga meningkatkan daya beli beli,” terang praktisi OS Tilapia Farm Bogor ini kepada TROBOS Aqua. 
 
Menyaingi Lele
Jika dibandingkan dengan harga komoditas air tawar lainnya, seperti lele, harga nila cenderung lebih tinggi dan bisa mencapai Rp 20 ribu per kg. Sebagai perbandingan, komoditas lele biasanya dijual dengan ukuran variatif 6-10 ekor per kg nya. 
 
TROBOS Aqua menyajikan data penulisan harga lele secara umum dari 2017-2022. Pada 2017 lalu, harga lele berkisar di angka Rp 15-16 ribu per kg di daerah Jabar, pada 2018  Rp 15,5-16 ribu per kg di Lampung; pada 2019 sekitar Rp 18 ribu per kg  di kawasan Jabar; pada 2020 Rp 16-19 ribu per kg di Jabar. 
 
Pada 2021, harga lele terpantau di kisaran Rp 16,5 ribu per kg di Jateng. Sementara di 2022, harga lele 17-18 ribu per kg di Jabar (telah ditulis dalam edisi 117 TROBOS Aqua). Dengan rentang ini memperlihatkan harga lele rataan masih di bawah Rp 20 ribu per kg, yaitu di kisaran Rp 15-19 ribu per kg.
 
Melihat perbandingan harga nila yang lebih tinggi dari lele, pembudidaya nila merah asal Klaten-Jateng, Imannuel Dwikanta Nugraha memberikan pendapat. Dia membandingkan dari sisi teknis. Dimana, dari sisi ketahanan dan budidayanya, nila merah cenderung lebih kuat dan jarang dijumpai kematian jika dibandingkan dengan lele. “Namun tetap saja, tatkala kita menjumpai iklim yang kurang bagus, atau ketika ikan sudah besar serta padat; maka ada saja kematiannya,” bebernya. 
 
Nila Kian Menarik
Selaras dengan naiknya permintaan, kemudian diikuti naiknya harga jual, ungkap Agus, membuat nila menjadi satu dari sekian komoditas yang diminati pembudidaya. Saat ini rata-rata di pembudidaya menerapkan padat tebar 2 ekor/meter persegi (m2). “Rata-rata jumlah tebar 20 ribu ekor per 10 ribu m2 (1 hektar atau ha). Jika panen 80% dan ukuran panen 250 gram per ekor, maka jumlah panen 4 ton/ha,” beber Agus.
 
Untuk merangkul pasar domestik yang lebih luas, Agus punya harapan terkait usahanya iniyaitu, ia ingin membangun cabang budidaya nila di beberapa daerah dengan sistem RAS berbasis closed system. “Selain itu, kita ingin agar produksi nila kita bisa menguasai pangsa pasar Asia Tenggara dalam kondisi ikan hidup dan fillet,” tutur Agus.
 
Kian ciamiknya pasar nila juga diamini Imannuel Dwikanta Nugraha, pembudidaya nila merah di Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten-Jateng. Indikasinya, sebut laki-laki yang akrab disapa Nuel ini, adalah adanya kenaikan harga beli dari tengkulak di tingkat pembudidaya. 
Nuel menyebutkan, saat ini harga nila merah rata-rata di Klaten Rp 28 ribu per kg.  “Tidak semua, namun rata-ratanya segitu. Ada yang Rp 26 ribu, Rp 27 ribu, dan Rp 28 ribu tergantung tengkulaknya,” bebernya.
 
Nuel mengakui, tren kenaikan harga pada tahun ini semakin terasa semenjak dua bulan menjelang Hari Raya Idul Fitri lalu. “Naiknya harga nila ini juga perlahan-lahan. Setiap bulan naik seribu rupiah, bulan berikutnya naik lagi. Hingga puncaknya di Hari Raya kenaikannya mencapai Rp 3 ribu per kg dari harga sebelumnya, yakni Rp 25 ribu per kg,” lanjutnya yang mulai berbudidaya sejak Maret 2020 lalu.
 
 
Selengkapnya Baca di Majalah TROBOS Aqua edisi 122/15 Juli - 14 Agustus 2022

 
Aqua Update + Inti Akua + Cetak Update +

Artikel Lain