Senin, 4 Juli 2022

Bandeng Si Ikan Ekologis

Bandeng Si Ikan Ekologis

Foto: 


Jakarta (TROBOSAQUA.COM). Ikan Bandeng (Chanos chanos) adalah salah satu komoditas akuakultur yang dalam produksinya menghasilkan limbah yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan ikan lainnya, terutama ikan-ikan karnivora atau pemakan daging/hewan. Bandeng adalah ikan herbivora atau pemakan tumbuhan, sehingga dapat mengoversi protein nabati. Di samping itu, kandungan protein pada pakan ikan bandeng relatif lebih rendah. 
 
Sebagai ikan herbivora, bandeng adalah ikan yang trofik levelnya lebih rendah, yakni berada di level II. Makanan bandeng berupa plankton, terutama fitoplankton. Bandeng memakan ganggang benang (Chlorophyceae), Diatomae, Rhyzopoda (Amuba), Gastropoda (siput), dan beberapa jenis plankton lainnya. Sedangkan di tambak, bandeng dikenal sebagai pemakan klekap (tahi air atau bangkai) yang merupakan kehidupan kompleks yang didominasi oleh ganggang biru (Cyanophyceae), serta ganggang kersik (Baccillariophyceae). Di samping itu, adanya bakteri, protozoa, cacing, udang renik dan sebagainya, sehingga sering disebut "microbentic biological complex."  
 
Klekap, selain terdiri dari organisme yang disebut di atas, juga masih banyak jenis-jenis organisme bentik, yang terdiri dari hewan dan tumbuhan, yang dapat dimakan oleh bandeng, sehingga klekap merupakan makanan utama dalam budidaya bandeng di tambak sistem ekstensif (tradisional) dan ekstensif plus. Bandeng yang sudah dewasa, juga memakan makanan dari daun-daunan tanaman tingkat tinggi seperti Najas, Ruppia, dan sebagainya. 
 
Sebagai pemakan plankton, bandeng merupakan biokontrol fitoplankton di perairan. Bandeng juga dapat mengurangi sedimen organik, karena bandeng pun memakan makanan di dasar perairan yang terdiri dari "microbentic biological complex." Karena itu, bandeng merupakan ikan sangat cocok untuk digunakan sebagai pengendali fitoplankton di perairan, sekaligus ikan yang dapat digunakan untuk penerapan dan pengembangan teknologi Culture Based Fisheries (CBF) atau perikanan tangkap berbasis budidaya. CBF adalah kegiatan perikanan tangkap dimana hasil tangkapan ikan mengandalkan dari benih ikan hasil penebaran dan ikan yang ditebarkan tumbuh dengan hanya memanfaatkan makanan alami yang tersedia di perairan tersebut (Kartamihardja, 2017).
 
Sebagai ikan euryhaline atau toleran terhadap kisaran salinitas yang luas, bandeng tahan terhadap perubahan salinitas. Karena itu, perubahan salinitas tidak terlalu berpengaruh terhadap ikan bandeng. Bandeng adalah ikan asli air laut, namun dapat hidup di air payau dan air tawar, sehingga dapat digunakan sebagai ikan untuk pengembangan perikanan tangkap berbasis budidaya di perairan tawar, seperti waduk dan danau. 
 
Upaya perbaikan kualitas air sebagai akibat penyuburan dengan menggunakan teknologi CBF di Jatiluhur telah diterapkan pada tahun 2007/2008 dengan penebaran ikan bandeng sebanyak 2.116.000 ekor. Banyaknya ikan bandeng yang ditebarkan tersebut sesuai dengan ketersediaan biomassa plankton dan dalam kapasitasnya bersaing dengan jenis ikan lain yang sudah ada di waduk. 
 
Penebaran ikan bandeng ini telah berdampak terhadap peningkatan produksi ikan berimbas juga terhadap peningkatan pendapatan nelayan, perbaikan kualitas air terutama penurunan nitrogen dan fosfor serta penurunan biomassa plankton terutama blooming fitoplankton. 
 
Penebaran ikan bandeng di Waduk Jatiluhur telah meningkatkan hasil tangkapan ikan sekitar 5 - 6 kali dari hasil tangkapan sebelum CBF diterapkan. Berdasarkan produksinya, penerapan CBF ikan bandeng di Waduk Jatiluhur dapat meningkatkan produksi mencapai 30 ribu ton/tahun dengan kualitas air waduk tetap baik dan masyarakat lokal sejahtera (Kartamihardja, 2017).   
 
Kualitas air di Waduk Jatiluhur mengalami peningkatan kualitas setelah ditebari ikan bandeng. Penebaran bandeng tahun 2007/2008 dapat meningkatkan kualitas air dua tahun kemudian (2009). Kandungan oksigen terlarut pada tahun 2007 sebesar 2,84 mg/l menjadi 3,56 mg/l pada akhir tahun 2009. Selain itu produksi perikanan tangkap di Waduk Jatiluhur mengalami peningkatan dengan tertangkapnya ikan bandeng.
 
Ikan bandeng dapat dibudidayakan secara polikultur, multitrofik, dan akuaforestri dengan komoditas lain, baik untuk optimalisasi lahan maupun untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Bandeng dapat dipelihara secara polikultur, multitrofik, dan akuaforestri dengan udang laut (Litopenaeus, Penaeus), udang galah (Macrobrachium rosenbergii), kepiting (Scylla), rajungan (Portunus), rumput laut (Gracilaria), teripang (Holothuria), kerang darah (Anadara), kerang bakau (Crassostrea), dan kerang hijau (Perna viridis).  
 
Ikan bandeng adalah salah satu pangan dari laut yang memenuhi beberapa kriteria untuk menjadi pagan di masa depan. Bandeng adalah ikan murah dan bergizi tinggi sehingga dapat digunakan untuk mengatasi kekurangan gizi, terutama tengkes (stunting) pada anak. Bandeng dapat dibudidayakan di berbagai lingkungan perairan dengan biaya produksi yang relatif rendah, serta dapat dibudidayakan dengan teknologi yang ramah lingkungan.
M. Ghufran H Kordi K

 
Aqua Update + Aqua Update + Cetak Update +

Artikel Lain